Google+ Badge

Kamis, 19 Maret 2015

Book Review : Pre Wedding Rush




Judul : Pre Wedding Rush
Genre : Fiksi Romance
Penulis : Oke Sepatumerah
Penyunting : Herlina P. Dewi
Desain Cover : Felix Rubenta
Layout Isi : DeeJe
Proofreader : Tikah Kumala
Penerbit : Siletto Book
Terbit  : 2013
Tebal : 204 halaman
ISBN : 978-602-7572-21-8


Life goes on. Tapi terkadang ada kenangan-kenangan indah yang membuat seseorang enggan melangkah menuju masa depan. Itulah yang terjadi dengan Menina. Hubungannya dengan Lanang, sang mantan pacar, begitu membekas dihatinya, bahkan sampai ia dilamar oleh pria lain yang lebih mencintainya.

Ketidakmampuan melupakan masa lalu membaut Menina secara impulsif memutuskan melakukan perjalanan terakhir bersama Lanang ke Yogyakarta. Siapa yang bisa meramalkan apa yang akan terjadi? Saat Menina dan Lanang berada di Yogyakarta, terjadilah gempa bumi 5.9 SR yang memakan banyak korban.
Menina menyaksikan begitu banyak hal yang membuatnya kembali berpikir tentang hubungannnya bersama Lanang dan juga calon suaminya. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua?


Menina, memiliki pacar yang nyaris sempurna. Dewo. Ganteng, mapan, baik, mencintai dia. Tidak ada yang kurang sedikitpun. Tapi, kenapa Menina harus ragu saat Dewo melamarnya? Dan dengan gampangnya malah menerima ajakan Lanang, mantannya untuk melakukan perjalanan bersama.

Rencana awalnya, Lanang akan turun di Jogja dan Menina akan melanjutkan perjalanan ke Surabaya untuk melaksanakan lamarannya dengan Dewo. Tadinya Menina sudah sangat yakin menolak tawaran Lanang untuk mampir ke Jogja. Tapi toh akhirnya Menina mau juga. Dan membiarkan dirinya semakin dekat dengan mantannya itu. Semakin menginginkan mantannya itu untuk kembali. Dan membuatnya hampir meninggalkan Dewo.

“Keberadaan Lanang membuat perjalanan panjang tidak terasa menyebalkan. Memang benar, jika melakukan perjalanan, tidak terlalu penting tujuannya, tidak pula terlalu penting menggunakan apa dan tinggal dimana, selama kita bersama rekan perjalanan yang menyenangkan, semuanya akan sempurna.” (halaman: 60)

Banyak hal yang Menina lakukan saat di berada di Jogja bersama Lanang. Mengunjungi dua sahabat lanang, Sigit dan Ayako, sepasang suami-istri yang memiliki Mitra Muda. Yaitu sebuah rumah aktifitas remaja dan pemuda dukuh setempat.

Hari kedua mereka di Jogja, tanpa terduga terjadilah gempa dahsyat yang meluluh lantakkan kota Jogja. Melihat banyak korban yang terluka dan kurangnya tenaga medis, Menina tidak tega untuk meninggalkan mereka.

Akhirnya Menina memutuskan untuk tetap tinggal di Jogja demi menolong korban gempa. Dan mempertaruhkan lamarannya. Dewo marah, tapi keputusan Menina untuk tetap tinggal sudah bulat. Sebenarnya kejadian gempa itu bukan sepenuhnya alasan Menina untuk tetap tinggal. Terlebih karena disana ada Lanang. Mantan yang sebenarnya masih dia cinta.

Dan, disanalah terkuak rahasia terbesar Lanang. Saat itu tengah malam, Menina terbangun dari tidurnya. Melihat sekelebat bayangan manusia yang masuk ke rumah Mitra Muda, dia jadi penasaran dan mengikutinya. Ternyata disana ada Lanang dan Ayako.

Menina menguping pembicaraan mereka. Ternyata sikap nggak ramah Ayako terhadap Menina sejak pertemuan pertama mereka adalah karena Ayako cemburu. Sebenarnya dari awal kemunculan Ayako dan sifat nggak ramahnya itu aku udah nebak, sih. Kalau ada affair antara Lanang dan Ayako.

Disitu juga terbongkar rahasia yang lebih membuat Menina terpukul dan marah. Yaitu kehamilan Ayako yang ternyata adalah anak Lanang. Padahal malam sebelumnya Lanang mengakui tentang perasaannya pada Menina, bahwa dia masih menginginkan dan mencintai Menina.
Keesokan harinya, Menina memutuskan untuk kembali ke Surabaya untuk meneruskan acara lamarannya dengan Dewo yang sempat tertunda. Kejadian antara Lanang dan Ayako membuatnya semakin yakin untuk memilih Dewo.

Tujuh tahun kemudian Menina kembali bertemu dengan Lanang. Keadaan sudah sangat berbeda dari tujuh tahun lalu. Menina sudah menikah dengan Dewo dan memiliki seorang putri. Sedangkan Lanang sendiri, dia menikahi Ayako sejak mengetahui berita kehamilannya tujuh tahun silam itu.

“Masa lalu adalah masa lalu, sesekali melihat mungkin perlu, tapi tidak perlu mencoba untuk mengulang lagi apa yang pernah terjadi.” (halaman: 188)
“Karena waktu terus berjalan, membangun banyak cerita, mengubah seseorang, mengubah keadaan. Tidak akan mungkin ketika kita mencoba untuk mengulang semuanya akan menjadi sama seperti dulu.” (halaman: 189)

Dari yang aku baca, aku menyimpulkan, Menina hanya ingin memastikan perasaannya terhadap Lanang. Dan ternyata, Menina sudah sangat yakin bahwa jodohnya memanglah bukan Lanang. Melainkan Dewo yang sekarang menjadi suaminya.

Walau agak deg-degan juga saat Menina hampir tergoda lagi oleh Lanang yang memintanya untuk tinggal. Kan nggak lucu saja kalau sampai tragedi Jogja tujuh tahun lalu itu terjadi kembali.

Ada dua dialog lucu yang bikin aku senyam-senyum nggak jelas. Yang pertama dialog antara Menina dan Agnes yang membahas soal pernikahan.

“Please, tolong beri definisi gue tentang kawin,” kataku.
“Kawin apa menikah?” Agnes bertanya dengan tatapan menggoda.
“Kawin, nikah, atau apalah itu, sama ja. Lo doyan banget sih mempermasalahkan perbedaan ‘kawin’ dan ‘nikah’?” Aku mengibaskan tangan.
“Beda tahuuu! Kawin itu urusan pemenuhan syahwat, kalau nikah…” Agnes terdiam.
“Apa?”
“Pemenuhan syahwat yang legal.” Agnes terbahak.

Yang kedua, dialog antara Menina dan Lanang.
“Kemarin gue buka-buka inbox email lama gue yang udah nggak gue pakai lagi. Dan gue menemukan email lo di tahun 2006 itu. Lo menuduh gue hamil dan meledek gue. Lo tulis: ’Nggak tahu ada penemuan yang namanya kondom ya?’” Kataku sambil menahan tawa.
“Ya, terus?”
“Ya kenapa Ayako bisa hamil? Nggak tahu ada penemuan yang namanya kondom ya?” ledekku.
“Sialan lo.” Ia tertawa. Wajahnya semakin memerah.

Banyak banget pesan yang aku dapat dari membaca Pre Wedding Rush ini. Terutama tentang pernikahan. Tentang banyaknya dan beratnya cobaan pra pernikahan. Ya salah satunya munculnya mantan itu. Apalagi kalau mantan yang masih ada di hati. Beraaat banget kayaknya.

  1. “Iya. Pada akhirnya, setelah sekian lama menikah, gue ngerasa bahwa pernikahan itu cuma another stage of life. Ada kesulitan sendiri di setiap stage of life, kalau di tahap-tahap hidup sebelumnya kita survived, kenapa yang ini enggak?” (halaman: 201)
  2. “Iya. Nggak luar biasa membahagiakan, bukan surga dunia seperti yang dijanjikan oleh dongeng Walt Disney’s, tapi ya nggak jelek-jelek amat juga, sih. Biasa aja. Lalu pernikahan itu nggak ada hubungannya sama jodoh nggak jodoh. It’s just another stage of life. Sama seperti stage kehidupan yang lain, untuk bertahan kita harus berusaha dan berjuang. Kalau dari yang gue rasa, jodoh itu juga harus diusahakan dan diperjuangkan. (halaman: 201)
  3. “Karena menikah berarti lo harus berhenti untuk hidup seenaknya, soalnya lo sudah membawa orang masuk dalam kehidupan lo.” (halaman: 196)
  4. “Semua orang kebanyakan menikah. Kalau ada yang tidak menikah akan dipertanyakan dan dibombardir oleh pertanyaan kapan menikah.” (hal: 49)


Yeah, dan aku sudah mengalaminya. Heran ya sama orang Indonesia itu, kenapa hobi banget mengurusi urusan orang lain. Padahal mereka sendiri aja hidupnya juga belum bener. Danstatement mereka yang seakan-akan mengharuskan cewek untuk segera menikah itu lho, yang aku nggak suka.

Halooo? Ini tuh 2015, Tante. Masa iya sih, masih umur dua puluh tahun lebih sedikit saja setiap kali ketemu yang ditanyakan hanya soal, “Kapan menikah?”. Nggak ada pertanyaan yang lebih kreatif apa? Tanya kabar kek, karir kek, atau apalah. (eh.. kok jadi curcol ya.. hwehee)
Dan ini pesan yang lainnya:
  1. Bahwa memang seharusnya masa lalu itu tempatnya di belakang. Bukan untuk selalu diungkit-ungkit di masa sekarang.
  2. Bahwa masa lalu itu harus benar-benar dilepas kalau ingin bahagia.
  3. Ternyata, dalam pernikahan, takdir itu lebih memegang peran penting ketimbang jodoh. Buktinya, dan sudah sering kulihat dikehidupan nyata, dua orang yang saling mencintai pun nggak bisa bersatu dalam pernikahan karena berbagai alasan.
  4. Setiap kesalahan yang kita perbuat, besar-kecil, sengaja tidak disengaja, kita pasti akan mendapat karmanya. Dan saat itu terjadi, yang bisa kita lakukan hanya pasrah, menerima dan menjalaninya.

Asal tahu saja, Mbak Okke adalah orang kedua setelah Nina Ardianti yang bikin aku galau sehabis baca bukunya. Hwaaa… belum bisa move on juga sampai sekarang. Padahal udah beberapa hari lalu lho, aku selesai baca ini novel.

Tapi, aku ingin mengucapkan terima kasih buat Mbak Okke ‘Sepatumerah’ yang bisa membuatku nangis saat membaca kalimat demi kalimat yang membahas tentang masa lalu. Membuatku banyak merenung tentang apa yang harus aku lakukan tentang masa lalu itu. Karena kenyataannya aku masih belum bisa juga untuk keluar darinya.

Dan aku telah memutuskan untuk mengikuti jejak Menina. Melepaskan, melupakan dan meninggalkan masa lalu untuk bahagia


    2 komentar:

    1. Melepaskan, melupakan dan meninggalkan masa lalu untuk bahagia.

      Beuuuh.

      BalasHapus
      Balasan
      1. Sadap! Berat, kan? Dikiranya gampang apa melupakan masa lalu itu. Harus amnesia dulu kali, yak? Hueheee

        Hapus