Selasa, 12 Mei 2015

Tentang Jatuh Cinta dan Cinta Pertama [ Usapan Sekilas Di kepala ]



Jatuh cinta padanya nggak pernah terpikirkan olehku. Sama sekali malah. Bahkan awalnya aku sama sekali nggak tertarik dengannya.

Sentuhan-sentuhan sekilasnya dikepalaku. Senyum hangatnya setiap kali berpapasan denganku. Caranya memanggil namaku. Hal-hal kecil kayak begitu yang akhirnya membuatku luluh dan mengakui bahwa aku jatuh cinta pada si cowok yang suka ganti-ganti pacar dan selengekan itu.

Contoh hal kecil yang dia lakukan, yang akhirnya membuatku jatuh cinta.
Dia berjalan dari arah berlawanan denganku. Tersenyum. Selalu dengan sneyum hangatnya. Bila hal itu terjadi, maka drum di dadaku akan bermain dengan hebohnya. Membuatku hampir kehilangan napas saking nervous-nya. Dia berhenti tepat dihadapanku. Dengan tubuh menjulangnya. Membuatku refleks menghentikan langkah juga. Kami saling tatap untuk beberapa saat.

“Pagi.” Dia menyapaku. Dengan suaranya yang setipe dengan Vino Bastian [tapi mukanya jauh dari Vino Bastian… :)) ]
“Pagi.” Jawabku dengan suara sepelan suara angin. Aku yakin dia tidak mendengarnya.

Tapi dia tersenyum. Semakin lebar. Lalu mengusap puncak kepalaku. Dadaku semakin jumpalitan. Kemudian dia berlalu meninggalkanku tanpa sepatah kata pun.


Ahh… perlakuannya padaku, sekecil dan sesepele apa pun itu selalu sukses membuatku blushing. Membuatku bahagia. Membuatku salah tingkah. Membuatku semakin menyukainya. Bahkan saat hanya mengingatnya sekarang ini, dadaku masih kebat-kebit nggak jelas.

Sabtu, 02 Mei 2015

Senja Maya



Aku menatap perempuan yang saat ini duduk di atas pasir putih pantai Uluwatu. Dia menatap ke satu titik. Tengah laut. Aku menyebutnya perempuan senja. Karena setiap kali melihatnya, adalah saat senja seperti ini. Perempuan itu selalu duduk di dekat tebing setiap harinya. Aku tertarik dengan cara berpakaiannya. Dres selutut motif bunga-bunga kecil.
Hari kedua, perempuan itu berada di tempat yang sama. Memakai setelan pakaian yang sama. Dan hari ini pun, perempuan itu masih di sana. Aku sungguh penasaran. Karena itu aku mendekatinya.
Aku tertegun begitu tiba di dekatnya. Tatapannya lurus menatap jauh ke arah lautan yang airnya mulai menguning terkena terpaan cahaya senja. Dengan langkah ragu aku berjalan mendekatinya. Tapi langkahku tertahan saat mendengar suara seorang laki-laki tua yang duduk tidak jauh dari perempuan itu.
“Biarkan dia sendiri.”
Aku menghampiri Bapak tua yang sedang menyesap tembakau dari batang rokok itu, dan duduk disampingnya. “Namanya Maya. Setiap hari dia berada di situ untuk menunggu Hilman. Suaminya.”
Aku bertanya, “Lalu, kenapa saya tidak pernah melihat laki-laki itu, Pak?”
“Hilman sudah meninggal. Setahun lalu saat dia berselancar dan tenggelam terbawa ombak. Maya tidak bisa menerima kematian Hilman. Karena itu, sejak setahun lalu dia selalu duduk di situ saat senja. Seperti yang dia lakukan semasa Hilman masih hidup. Menunggu Hilman selesai berselancar.”
“Semua berusaha mengajaknya bicara. Menyadarkannya bahwa Hilman sudah tiada. Tapi setiap kali itu terjadi, Maya pasti histeris.” Bapak tua itu berhenti sesaat untuk menyesap rokoknya. “Semua sudah menyerah.
Yang bisa kami lakukan hanyalah membiarkan dia seperti itu. Menikmati caranya mencintai Hilman.”
Tanpa kusadari, pipiku sudah basah oleh air mata. Aku tidak menyangka, bahwa ada orang yang begitu mencintai seseorang sampai membuatnya hilang kesadaran dan tidak mempedulikan sekelilingnya.

Biarkan dia bahagia dengan dunianya. Mungkin, hatinya berkata bahwa hanya Hilman yang pantas untuk ditunggu. Mungkin, memang seperti itulah caranya setia dalam mencintai Hilman, suaminya.

Yang Pernah Ada




Aku berdiri menatap whiteboard super besar dihadapanku. Permukaannya penuh dengan kertas post-it berbagai warna. Aku sedang berusaha menemukan tempat kosong untuk menempelkan post-it warna kuning milikku.

Tema reuni yang kuusulkan. Jadi, kami para alumni diminta untuk menuliskan hal yang tak sempat terucapkan saat masa SMA dulu. Atau menuliskan harapan yang ingin terkabul--harapan apa pun tentang masa SMA dan segala kenangan yang ada di dalamnya.

Disaat itulah mataku menangkap selembar post-it warna hijau dengan tulisan 'Aku merindukan kita dan bangku itu, Meo'. Jantungku nyaris berhenti saat membacanya. Bernahkan dia yang menulisnya? Ya, pasti dia. Karena hanya dia yang memanggilku dengan sebutan Meo. Tapi, yang membuat jantungku nyaris berhenti bukan itu. Melainkan kalimat yang dia tuliskan hampir sama dengan yang kutulis.

Aku mengalihkan mataku ke post-it di tangan. 'Aku merindukan kita, Jule'. Hanya aku juga yang memanggilnya demikian. Apa ini artinya dia ada di sini? Di mana? Kenapa aku tidak melihatnya baik selama persiapan reuni selama sebulan ini dan dari pagi tadi saat acara dimulai? Refleks aku menolehkan kepalaku ke berbagai arah. Mencoba mencari sosoknya. Nihil.

Aku menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Kecewa. Aku mengembalikan tatapan ke whiteboard. Dengan sedikit berjinjit aku berusaha menempelkan post-it milikku di sebelah post-it hijau tadi. Berharap keinginan kami berdua menjadi nyata. Karena aku juga sangat merindukannya.

"I miss you more, Meo."

Jantungku berdentam lebih cepat dari biasanya. Suara miliknya. Seketika aku membalikkan badan. Dan di hadapanku, aku melihat senyum hangat itu lagi. Senyum yang terakhir kali kulihat enam tahun yang lalu. Senyum yang sangat aku rindukan selama enam tahun ini.

Mataku memanas dan pandanganku semakin buram. Membalas senyumnya. Dengan sama hangatnya. Dia berjalan mendekatiku. Membawa tubuhku ke dalam pelukannya. Erat, kuat dan hangat seperti dulu. Bersamaan dengan itu, air mata mengalir di pipiku. Ini air mata bahagia, karena bertemu lagi dengannya. Tapi ini juga air mata sedih, kenapa butuh waktu begitu lama untuk kembali bisa berjumpa.

Kini... aku hanya ingin diam di dadanya. Merasakan gemuruh jantungnya. Menikmati belaian tangannya di kepalaku. Menikmati setiap detik hembusan napasnya. Menikmati kebersamaan kami yang mungkin hanya sementara. Karena aku tahu, dia memiliki seseorang. Begitu juga denganku.

Biarlah, sebentar saja kami bersama untuk menebus masa lalu.