Google+ Badge

Sabtu, 28 Februari 2015

PEMENANG #GAComplicated

Setelah bersemedi di bawah pohon selama lima jam (emm.... agak lebay, sih), akhirnya bisa memilih satu pemenang dari #GAComplicated ini. Sebelumnya, mau mengucapkan terima kasih untuk semua yang ikut berpartisipasi dalam giveaway ini. Ada yang sesuai ekspetasi saya, ada juga yang cast-nya agak-agak ngaco dan nggak sesuai dengan tokoh fiktif ciptaan saya.

Duh, pembukaannya kepanjangan yak?! Mau ngumumin pemenang aja kok ribet banget. Namanya juga manusia yang doyan ngomong. :))  Baiklah, langsung saja. INI DIA PEMENANGNYA...





Rini Cipta Rahayu



Dan ini dia imaginary cast Complicated versi Rini Cipta Rahayu. http://rinspiration95.blogspot.com/2015/02/complicated-star-contest.html

Selamat untuk Rini Cipta Rahayu. Kamu mendapatkan novel Rhapsody dan Kapitan Pedang Panjang.

Rabu, 25 Februari 2015

COMPLICATED Part 5



Aku menatap sekali lagi bayanganku dalam cermin. Blus putih polos sebagai atasan yang kumasukkan dalam rok lipat sebatas paha warna pink lembut. Stoking warna hitam membalut kakiku dan diakhiri dengan stiletto warna senada dengan rok yang kupakai. Rambut sebahuku yang kuwarnai dark brown kubiarkan tergerai. Ku menatap wajahku yang bermake-up tipis natural andalanku. Sempurna.
Samar-samar aku mendengar suara ribut dari bawah. Ini di rumahku ada apa, sih? Pagi-pagi begini sudah heboh saja. Masa iya pagi buta begini ada tamu? Aku menyahut shoulder bag warna moka dan expanding file tote bag warna biru tua dari atas meja kerjaku. Setengah berlari aku keluar dari kamar dan menuruni tangga karena penasaran dengan kegaduhan di rumahku yang baisanya damai ini.
Ruang makan mendadak sepi begitu suara stilettoku yang beradu dengan lantai terdengar. Semua menatap ke arahku. Mood baikku mendadak jadi ngedrop begitu melihat sesosok manusia yang saat ini sangat tidak ingin aku lihat berada di antara keluargaku. Terlebih saat dia tersenyum cerah ke arahku. Lupa apa, ya, sama kata-kata menyebalkan yang dia ucapkan semalam?
“Ngapain kamu di sini?” Kata itu refleks keluar dari mulutku karena rasa kesal yang muncul saat mengingat kejadian semalam.
“Rhea?” Mama menegurku dengan keras. “Nyapa yang baik. Kalau nggak ada Arsa semalam, kamu nggak bisa pulang, lho.”
“Bisa. Aku semalem udah mau masuk mobil temanku saat tiba-tiba orang ini muncul.” Jawabku dengan nada ketus.
“Siapa?” Tanya Mama dengan mata memicing curiga. “Si cowok cantik kemarin itu?”
Ares terbahak saat Mama mengucapkan kalimat barusan. Sedangkan Arsa tersenyum dan Papa tetap asyik dengan korannya. Sedangkan aku, menatap Mama dengan wajah syok melongo. Itu Mamaku yang barusan bilang? Ibu Amara Damanto yang ngakunya anak priyayi dari Jogja itu? Astaga! Sulit dipercaya. Pasti Eyang Kakung yang bernama belakang Notonegoro itu bakal syok melihat anaknya yang sekarang ini. Apa karena sudah nggak menyandang nama Notonegoro lagi, maka sikap Mama jadi agak-agak nggak sopan begitu? Ah! Lupakan!
“Mama!” Aku berseru dengan gemas.
“Bukan cowok cantik kali, Ma. Tapi barby boy.” Sahut Ares yang membuat tawa Arsa meledak. Sialan!
“Ares! Jaga itu mulut, ya.” Aku berseru keras pada Ares.
“Sudah! Kalian ini. Lagi di meja makan juga.” Papa menengahi. Melipat korannya lalu meletakkan di meja. Kemudian mengucapkan kalimat yang membuat jantungku hampir lepas. “Duduk, Rhea. Hari ini kamu berangkat sama Arsa. Mobil kamu Papa bawa ke kantor.”
“Nggak bisa! Papa, kan ada mobil sendiri.” Aku menolak mentah-mentah perintah Papa.
“Mobil Papa masuk bengkel dari kemarin.” Jawab Papa kalem sambil menerima sepiring nasi goreng dari Mama.
Aku duduk dengan sedikit hentakan. Aku menatap Papa dengan curiga. Kalau Ares dan Mama sengaja ngerjain aku kemarin, itu wajar. Tapi kalau Papa juga ikut-ikutan, ini namanya nggak wajar. Tapi sepertinya wajah Papa nggak lagi berbohong.
“Tapi Rhea, kan, lembur, Pa.”
“Ya biar dijemput lagi sama Arsa. Bisa kan, Arsa?” Papa berkata sambil menatap Arsa.
Arsa menjawab dengan sopan, “Tentu, Om.” Kemudian melemparkan senyum menyebalkan padaku.
Dan hal itu, menambah daftar alasan kenapa aku harus membenci cowok yang bernama Arsa itu. Menyebalkan!
───

Aku menghembuskan napas lega saat membuka pintu mobil Arsa. Semoga ini untuk yang terakhir kalinya aku keluar dari mobil ini.
“Ngapain kamu ikut keluar?” Aku berseru saat melihat Arsa ikut keluar dari mobilnya.
“Cuma mau pastiin kalau kamu masuk ke kantor dengan selamat.” Jawabnya santai.
Aku tersenyum sinis. Kayaknya bukan itu alasannya. “Kalau alasan kamu turun dari mobil agar dilihat Mas Asta kalau kamu antar aku, itu percuma. Karena Mas Asta itu nggak satu kantor denganku.” Wajah Arsa memerah mendengar perkataanku. Aku asumsikan kalau tebakanku itu benar. Sekali lagi aku tersenyum sinis kemudian meninggalkan Arsa dan mobilnya tanpa ucapan terima kasih. Toh bukan aku juga yang memintanya untuk mengantarku kerja.
“Widih. Pacar baru, Mbak? Ganteng banget.” Seru Amel dengan mata menatap takjub ke arah Arsa yang saat ini tersenyum ke arah kami sesaat sebelum masuk mobil.
Benar juga, sih, yang dibilang Amel barusan. Kalau dilihat-lihat, Arsa memang terlihat ganteng dengan setelan baju kerjanya. Sebentar, apa ini artinya itu orang bakal lama di Surabaya? Apa dia bekerja di sini? Oh tidak! Aku pikir dia dan keluarganya hanya liburan. Sial!
“Ganteng, sih. Tapi nyebelin.” Jawabku. Aku berjalan mendahului Amel untuk masuk ke kantor. Amel itu adalah sahabatku yang sudah seminggu ini nggak bertemu denganku karena dia ambil cuti. Dialah orang yang membawaku masuk ke Harsono Clothing. Dia sendiri bekerja di bagian marketing. Kami bersahabat sejak SMA. Dia itu satu-satunya orang lain (di luar keluarga) yang dekat denganku. Karena nggak banyak orang yang mau dekat denganku. Aku bukan tipe orang ramah yang mudah berteman dengan siapa pun. Mungkin karena sikap cuekku yang cenderung jutek itulah maka nggak ada orang yang mau dekat-dekat denganku.
By the way, mana oleh-oleh dari Singapore?” Aku menodong Amel. Dia menyerahkan paper bag coklat berukuran sedang ke arahku. Aku menerimanya dengan senyum lebar dan ucapan terima kasih.
“Kiranya, ada hubungan apakah antara Rhea Damanto dan lelaki tampan yang mengantarnya kerja barusan?” Amel berkata dengan gaya bicara Feni Rose saat membawakan acara gosip. Aku tertawa sambil menoyor pipinya.
“Norak! Udah, ah, mau nyiapain materi buat rapat entar sore.”
“Duh… yang mau ketemu Mas Asta.” Goda Amel lagi. Dia mneyikut-nyikut lenganku dengan heboh.
“Apaan, sih?”
“Jadi, Asta Praditta ataukah laki-laki yang kedapatan mengantar Rhea Damanto itu yang akhirnya akan dipilih untuk menjadi tambatan hatinya?” Lagi-lagi Amel berkata dengan logat Feni Rose.
“Ameeell?” Aku berseru dengan kesal. Belum sempat aku menjitak kepala itu bocah, dia sudah keburu ngacir ke lantai tiga. Dasar sableng!
Keingintahuan Amel mengenai Arsa nggak berhenti sampai di situ. Selama jam kerja aku diteror pesan WhatsApp, line, BBM bahkan SMS (masih ya, hari gini memakai layanan sms untuk kirim pesan) darinya yang menanyakan siapa cowok yang tadi pagi mengantarku. Lebih gilanya, dia sempat-sempatkan main ke mejaku disaat aku sibuk menyiapkan materi rapat sore nanti. Kalimatnya masih sama, “Siapa cowok yang nganter kamu pagi tadi?”
Puncaknya sepuluh menit lalu. Tepat jam duabelas siang Amel menghampiri mejaku untuk mengajak makan siang bersama. Padahal aku tahu betul dia punya tujuan lain. Jadilah sekarang kami duduk berhadap-hadapan di sebuah warung Soto Lamongan yang terletak di depan kantor.
So, siapa cowok tadi pagi?” See? Amel langsung menodongku begitu kami duduk.
“Cowok tadi namanya Arsa. Dia teman kecilku, anak sahabat Mama. Aku dijodohin sama dia.” Aku menjawab dengan lirih.
 “WHAT?
Aku langsung membungkam mulut Amel. Dia lupa apa, sih, kalau saat ini warung Soto tempat kami makan siang sedang penuh sesak?
Amel melepas tanganku dari mulutnya. “Kamu…. Seorang Rhea… dijodohin?” Amel berkata dengan suara berbisik. Setelahnya dia terbahak. Sungguh menyebalkan!
“Terus, nasib perasaan kamu ke Mas Atsa, gimana?” Tanya Amel masih dengan sisa tawanya.
“Karena itu, Mel. Kalau dari apa yang dilakukan Mas Asta semalem, kayaknya dia mulai tertarik sama aku, deh.”
Wait! Yang dilakukan Mas Asta semalam? Kamu… sama dia nggak─”
Aku berdecak kesal. Si Amel ini memang drama banget. Pemikirannya suka ajaib. “Nggak seperti yang kamu pikrikan, Amelia.” Sahutku dengan sebal. “Yang jelas, dari tatapannya aku melihat ketertarikan.”
“Kalau aku jadi kamu, kayaknya lebih pilih si Arsa, deh.”
Aku melempar tatapan minta penjelasan pada Amel.
“Oke. Mas Asta memang lebih ganteng, lebih putih, lebih terawat. Tapi, apa kamu nggak merasa risih dengan hal itu? Masa nanti kamu bakalan nyalon bareng dia? Kalau Arsa, aku yakin dia nggak akan mau perawatan di salon. Kecuali nungguin kamu nyalon, mungkin.” Amel berhenti sejenak saat Soto pesanan kami datang. Dia mengucapkan terima kasih pada pelayan warung kemudian melanjutkan, “Apa kamu nggak ngerasa kalau sebagai cowok, Mas Asta itu terlalu kinclong?”
Mama ngasih panggilan Mas Asta cowok cantik. Ares, barby boy. Dan sekarang Amel bilang terlalu kinclong? Ini ada apa dengan mata mereka, sih? Perasaan Mas Asta baik-baik saja. Oke, memang Mas Asta itu tipe-tipe cowok metroseksual yang memperhatikan banget penampilan. Tapi bukan berarti dia ‘aneh’, kan?
“Emang kenapa? Kan kamu tau kalau aku suka sama cowok yang bersih, rapi dan wangi. Dan Mas Asta memenuhi hal itu. Lagi pula, dari apa yang aku lihat, Mas Asta nggak aneh kayak yang kamu pikir, kok. Dia gentle.” Aku nggak terima mendengar Mas Asta diremehkan.
“Aku kan nggak bilang Mas Asta aneh. Justru malah kamu yang tanpa disadari memberi label aneh sama Mas Asta. Itu artinya kamu setuju sama yang aku bilang. Apa yang aku katakana tadi, kan, hanya pendapatku. Mungkin saja bisa salah.” Kata Amel kemudian nyengir.
Huh! Menyebalkan. Ini yang nggak aku suka dari Amel. Terkadang mulutnya itu pedas banget kalau lagi mengomentari orang lain. Kata-katanya memang nggak nyakitin, tapi makna dibaliknya yang bikin hati panas.
Daripada debat kusir berkepanjangan yang kalau diteruskan bisa jadi berantem, maka aku memilih diam dan mulai memakan nasi Soto-ku.
───

“Baiklah. Sampai bertemu di acara pembukaan festival besok lusa. Saya mengharapkan kehadiran Anda semua. Terima kasih untuk hari ini, selamat malam.”
Aku menghembuskan napas lega saat Bu Siska mengakhiri rapat malam ini. Rapat terakhir sebelum pembukaan festival besok lusa. Aku melirik Mas Asta yang sedang berdiskusi dengan Bu Siska. Belum ada tanda-tanda dia akan pulang. Ahh… harapan untuk mendapat tebengan pulang pupus sudah. Apa lagi yang bisa kulakukan kecuali minta satpam kantor buat mencarikan taksi. Maka, aku menyampirkan shoulder bag di bahu. Dan mendekap expanding file tote bag dalam pelukan.
“Bu Siska, Mas Asta, saya pulang duluan.” Pamitku pada Bu Siska dan Mas Asta. Mereka serempak menoleh ke arahku.
“Hati-hati, Rhe.” Seru Bu Siska yang hanya kutanggapi dengan senyuman. Sedangkan Mas Asta nggak berkata apa-apa, justru malah mengembalikan tatapannya ke layar laptop. Hatiku mencelus menyadari itu. Segitu nggak pentingnyakah diriku dimatanya? (Oke, drama)
Lampu Harsono butik sudah dimatikan semua karena memang sudah jam sebelas malam lebih. Dengan agak-agak takut aku berjalan menuju lorong sebelah butik yang memang dijadikan jalan untuk orang-orang kantor (jadi, orang kantor kalau mau keluar masuk dilarang melewati pintu Harsono butik).
Angin kencang menyambut begitu aku membuka pintu lorong. Sampai aku harus memegang erat rokku yang tertiup angin. Aku sedang celingukan mencari keberadaan Pak Imin, satpam kantor, saat sebuah suara berseru memanggilku.
“Rhea?”
Aku menoleh ke arah suara tersebut. “Eh.. Mas Asta. Butuh data yang ada padaku?”
Mas Asta menghampiriku setengah berlari. Napasnya terlihat ngos-ngosan. Apa itu artinya dia lari dari lantai tiga? Buat apa? Buat mengejarku?
“Bukan. Kamu nggak bawa mobil, kan? Bareng aku aja, yuk.”
Ini dia yang aku tunggu-tunggu dari tadi. “Berhubung memang nggak dijemput, aku mau deh.” Kataku sambil menyelipkan rambut sebahuku yang berantakan tertiup angin ke belakang telinga. Mas Asta tersenyum, kemudian tangannya melakukan gerakan yang mengisyaratkan aku untuk jalan. Kami berjalan santai bersisian menuju mobil Mas Asta yang terparkir di ujung halaman.
“Besok malam ada acara, Rhe?”
Aku menoleh untuk menatap Mas Asta, tanpa berkata apa pun. Karena aku tidak menanggapi, Mas Asta berkata lagi. “Ada film yang aku pengen tonton. Mau nemenin?”
Apa barusan itu bisa kuartikan sebagai ajakan kencan? Hei… jangan bilang aku terlalu PD. Karena faktanya kami bukan teman yang sudah kenal baik. Jadi, kalau dia mengajakku dengan alasan pertemanan, rasanya itu nggak masuk akal. Apalagi mengingat apa yang dia lakukan padaku semalam di parkiran.
“Boleh.” Kataku akhirnya dengan nada kalem. Padahal dalam dadaku bergemuruh hebat.
Aku hampir meloncat saat terdengar bunyi klakson beruntun dari arah mobil yang kami lewati. Aku menoleh ke arah mobil tersebut. Arsa keluar dari mobil dengan wajah gelap. Saat itu juga aku baru ingat apa yang dibilang Papa tadi pagi, kalau malam ini Arsa akan menjemputku. Tapi aku kan nggak bilang mau pulang jam berapa.
“Apa gunanya punya handphone kalau ada yang telepon nggak diangakat?” Arsa berkata dengan suara keras. Aku sampai menutup kedua telingaku. “Kamu tau berapa lama aku nunggu di luar?”
“Nggak usah teriak-teriak. Aku kan nggak suruh kamu buat jemput. Udah, aku mau pulang.” Kataku dengan berteriak juga karena terpancing sikap Arsa.
“Ayo, Mas.” Aku menarik tangan Mas Asta untuk menjauh dari Arsa. Tapi, baru beberapa langkah aku merasakan sebuah tangan menarik lenganku. Arsa memaksaku untuk mengikutinya.
“Nggak kayak begini caranya memperlakukan cewek.” Mas Asta berkata dengan tenang kemudian melepaskan cengkeraman tangan Arsa dari lenganku. Karena saking syoknya dengan apa yang terjadi barusan, aku hanya bisa melongo melihat kelakuan dua orang di depanku ini.
Arsa mengatupkan rahangnya kuat. “Apa lo nggak punya urusan yang lebih penting dari mengurusi urusan orang lain? Apapun yang gue lakuin ke cewek gue, itu bukan urusan lo!”
Aku semakin melongo mendengar perkataan Arsa. Ceweknya? Maksudnya aku? Apa dia sudah gila?
Kemudian Arsa meraih tanganku dan menarikku paksa masuk ke mobilnya. Mas Asta hanya berdiri mematung menatap kepergian kami. Tanpa berusaha mencegah lagi. Tanpa berkata apa pun. Aku menatap Arsa dengan sebal. Rasanya ingin sekali mencakar mukanya itu sampai babak belur.
Kami hanya saling diam selama dua puluh menit di dalam mobil. Begitupula saat mobil Arsa berhenti di depan rumahku. Tanpa berniat mengucapkan terima kasih, aku membuka seat belt kemudian membuka pintu untuk turun dari mobil. Sampai aku teringat suatu hal. Sepertinya aku harus meluruskan suatu hal.
“Seperti yang aku udah bilang ke kamu kemarin, aku menolak perjodohan kita. Jadi, perkataan yang kamu bilang ke Mas Asta tadi jangan diulangi lagi. Aku menyukai dia. Dan aku harap, kamu ngerti dengan keputusanku.” Kataku dengan tenang.
Arsa tidak menanggapi. Dia hanya menatapku lekat-lekat dengan ekspresi wajah yang sulit kupahami. “Mulai besok nggak usah repot-repot buat antar jemput aku ke kantor. Tolak saja kalau keluargaku yang minta.” Lanjutku akhirnya.
Mata Arsa berubah nyalang. Dalam gerakan cepat kedua tangannya meraih wajah dan pinggangku dalam waktu bersamaan. Yang kurasakan selanjutkan bibirnya menyentuh bibirku dengan keras. Arsa menciumku dengan kasar. Detik pertama aku syok tanpa melakukan apa-apa. Kemudian detik selanjutnya aku mendorong keras tubuh Arsa. Entah karena memang tenaganya yang jauh diatasku atau karena emosi yang menguasainya, berusaha melepaskan diri dari tubuh Arsa saat ini sama sulitnya dengan berusaha lolos dari lilitan anaconda.
Hatiku sakit mendapati perlakuan Arsa yang kurang ajar padaku. Tidak sampai satu menit, Arsa melepaskan bibirnya dari bibirku karena mendengar isakku. Saat itulah aku memanfaatkan situasi dengan mendorong kuat tubuhnya untuk menjauh dari tubuhku. Tanpa berkata apa pun lagi aku keluar dari mobilnya dan berlari ke dalam rumah.
───



Sabtu, 21 Februari 2015

Inspirasiku Datang dari Pelosok Desa

Tempat yang inspiratif buatku yang pertama adalah sebuah kecamatan di ujung Timur Ponorogo (kota kelahiranku)─perbatasan dengan kota Trenggalek─yaitu kecamatan Sawoo. Disana, pertama kalinya aku melihat anak sekolah dengan semangat belajar yang sangat tinggi. Kecamatan Sawoo itu terletak di kaki gunung Bayangkaki dan sebagian besar wilayahnya memang pegunungan. Pertama kali ke sana adalah di saat aku membolos les dan lebih memilih ikut temanku untuk main ke kecamatan tersebut (saat SMA).

Aku salut sekaligus terharu melihat perjuangan mereka setiap hari untuk pergi ke sekolah. Sekolah, mulai dari SD sampai SMA terletak di pusat kecamatan. Jadi, mereka yang tinggal di daerah pegunungan harus berjalan kaki berkilo-kilo untuk bisa mencapai sekolahan. Aku pernah menanyai seorang teman SMA-ku yang tinggal di desa Tumpuk Sawoo (desa yang berada di dataran paling tinggi di kecamatan Sawoo). Untuk mereka yang berasal dari keluarga nggak mampu, mereka akan memilih berjalan kaki setiap hari untuk pergi ke sekolah. Sedangkan mereka yang berasal dari keluarga mampu, mereka akan memilih menyewa kamar kos yang dekat dengan sekolah mereka.

Aku suka sekali melihat suasana setiap kali jam berangkat dan pulang sekolah di kecamatan tersebut. Kesan keakraban dan kekeluargaan terlihat jelas di sana. Anak-anak berseragam mulai dari SD (dengan seragam putih─merah), SMP (dengan seragam putih─biru) dan SMA (dengan seragam putih─abu-abu) berjalan beriringan menapaki jalan yang semakin lama semakin menanjak. Mungkin, kalau hal itu terjadi padaku, aku nggak akan sanggup bila harus jalan kaki berkilo-kilo demi mencapai sekolah, SETIAP HARI.

Sejak saat itu, semangat juang anak-anak gunung itu untuk bersekolah menjadikanku banyak berfikir. Kalau mereka saja yang harus naik turun gunung demi ke sekolah mau melakukannya demi belajar, kenapa aku yang bisa mencapai sekolah dengan naik kendaraan nggak memiliki semangat sebesar mereka. Karena itulah, saat itu aku berusaha belajar dengan sungguh-sungguh, nggak malas-malas pergi ke sekolah lagi, nggak pernah bolos sekolah [tapi sesekali bolos pelajaran… :)) ]. Walaupun pada akhirnya prestasi akademikku tetap nggak bagus-bagus amat, sih.

Kemudian, tempat yang menginspirasi lainnya adalah sebuah desa masih di kota Ponorogo, yaitu desa Gontor. Di sana berdiri sebuah pondok pesantren modern Darussalam Gontor yang sudah cukup terkenal di Indonesia dan kawasan Asia. Setiap kali sore hari melewati desa itu, kita akan melihat ratusan bahkan mungkin ribuan anak berjalan dengan memakai mukena ( untuk yang perempuan) dan sarung plus kopyah (untuk laki-laki), dengan Al-Qur’an dalam pelukan mereka. Kelompok santri laki-laki biasanya akan berjalan berkelompok di depan dengan jarak yang cukup jauh dengan sekelompok santri perempuan yang berjalan berkelompok di belakang mereka.

Setiap kali melihat hal itu, yang langsung aku lakukan adalah melihat baju yang kukenakan saat itu. Jujur, aku malu dengan mereka. Baju yang kupakai jauh dari kata menutup aurat (bukan berarti aku pakai baju serba mini, lho). Mereka yang perempuan, yang kelihatan hanya wajah mereka. Sedangkan aku, hanya memakai celana selutut dan kaos oblong lengan pendek.

Terharu, malu, iri dan berbagai perasaan lainnya muncul setiap kali melihat pemandangan desa santri itu di sore hari. Aku terinspirasi dari sana untuk lebih mendalami agamaku. Pernah juga masuk pesantren, tapi nggak sampai lulus aku sudah keluar karena nggak bisa dengan peraturannya yang begitu ketat. Di pesantren itu, dari pagi sampai malam kegiatannya penuh banget. Bangun subuh, untuk melaksanakan shalat berjamaah. Pagi sampai siang sekolah formal, nanti istirahat siang dipakai untuk makan dan shalat dzuhur. Kemudian sore harinya untuk laki-laki merawat hewan ternak dan kebun sayur. Sedangkan untuk perempuan bersih-bersih dan menyiapkan makan malam. Kemudian sehabis shalat ashar ada kuliah dari ustadz lalu ngaji sampai menjelang magrib. Sehabis jamaah shalat magrib belajar ngaji bersama ustadz, kemudian sehabis isya ada pelajaran pendalaman agama. Sabtu malam, latihan qiro’ah Al-qur’an. Minggunya ada saja kegiatan. Mulai dari sema’an Al-Qur’an, pramuka, olahraga atau kegiatan-kegiatan lainnya yang akan menjadikan hari liburmu nggak pernah sia-sia.

Sebenarnya itu semua juga sangat berguna untukku. Hanya, tetap saja peraturan itu terlalu mengikat dan terlalu ketat bagiku. Tapi, setidaknya aku memiliki perbekalan ilmu agama yang cukup baik. Aku jadi belajar banyak tentang agamaku. Tentang apa yang boleh dan nggak boleh dilakukan. Dan itu cukup untuk kujadikan pegangan dalam hidup selama ini.



Jumat, 20 Februari 2015

My Birthday Giveaway



Syukur Alhamdulillah aku panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hidup yang begitu indah selama dua puluh empat tahun ini. Terima kasih telah menempatkanku di antara keluarga dan sahabat yang begitu baik dan perhatian padaku.
Ahh… nggak kerasa sudah selama itu aku hidup di dunia. Kayaknya baru kemarin main kejar-kejaran sama adik, main boneka sama temen sekolah, main petak umpet, nangis gara-gara ditinggal Ibu-Bapak kondangan terus aku nggak diajak.
Bicara soal ulang tahun, ada yang bilang bahwa ulang tahun itu artinya hanya bertambah tua dan semakin berkurang masa hidup di dunia. Sedangkan hal baik yang kulakukan masih sedikit. Di usiaku yang semakin dewasa ini aku seperti diingatkan akan hal itu. Karena itu, aku ingin melakukan hal-hal baik sebanyak mungkin. Salah satunya bagi-bagi buku gratis untuk 2 orang beruntung.
Giveaway ini aku adakan sebagai rasa syukurku atas bertambahnya usia. Semoga Tuhan masih sudi memberiku kebahagiaan dan mewujudkan banyak hal yang ingin kuraih. Amin.

Baiklah…. It’s time for giveaway. Simak persyaratannya baik-baik ya.

Persyaratan:
  1. Peserta berdomisili di Indonesia (maaf, khusus untuk pulau Jawa).
  2. Follow twitter @AntikaAnis, follow blog ini (bisa via apa pun), add akun wattpad-ku di http://www.wattpad.com/user/AnisAntika (nggak wajib), berteman dengan facebook Anis Antika (untuk yang nggak punya twitter).
  3. Wajib share link giveaway ini di twitter atau facebook kamu. Jangan lupa mention atau tag aku dan menggunakan tagar #GAComplicated dan ajak minimal tiga temanmu untuk mengikuti kuis ini. Boleh melalui twitter atau facebook . Contoh: Hai @RLeina @Ass @BM yuk ikutan GA Complicated berhadiah novel Rhapsody dari @AntikaAnis di (tulis link GA ini) #GAComplicated

  1. Baca post COMPLICATED mulai dari part 1 sampai part terakhir yang sudah di post sampai saat ini (yaitu part 5) di sini ATAU di sini

  1. Buatlah tokoh imajinasi (harus artis, boleh dalam atau luar negeri) yang menurut kalian sesuai dengan tokoh-tokoh yang ada di COMPLICATED. Berikan alasannya juga kenapa artis tersebut cocok memerankan tokoh itu. Jangan lupa sertakan foto artis tersebut. Tokohnya antara lain, Rhea, Arsa, Asta dan satu lagi kalian boleh pilih (Siska, Ares, orangtua Rhea dan Arsa). Tulis nama, akun twitter atau facebook, dan kota domisili di bagian akhir tulisan.
  2. Cantumkan nama kalian, kota tinggal dan akun twitter kalian.
  3. Post tokoh imajinasi kalian ke blog masing-masing (boleh ber-platform apa saja), kalau tidak punya boleh di note facebook. Beri judul COMPLICATED Star Contest. Kemudian kirimkan link-nya ke aku bisa melalui facebook atau twitter.
          Contoh:
           Twitter : Hai @AntikaAnis ini link COMPLICATED Star Contest aku ya (tulis link-nya)                       #GAComplicated
           Facebook : Hai Anis Antika ini link COMPLICATED Star Contest aku ya (tulis link)                             #GAComplicated. (khusus FB kirim di wall aku atau sebut aku di statusmu.
    8. Sertakan banner “COMPLICATED Stars Contest” diatas, dalam post kalian serta cantumkan               tulisan “Tulisan ini di buat untuk mengikuti #GAComplicated dari Anis Antika” di paling           bawah tulisan.

Giveaway berlangsung dari tanggal 20 Februari sampai tgl 28 Februari (pukul 23.59 WIB).
Pemenang akan diumumkan awal Maret 2015

Akan dipilih satu pemenang yang akan mendapatkan, eng ing eng… eks novel Rhapsody by Mahir Pradana dan Kapitan Pedang Panjang by Fira Basuki.


 

dan



SELAMAT BERIMAJINASI semuaa…!!                   
^_^
     Anis

Mimpi Sederhanaku



Mimpiku  yang ingin banget terwujud dalam waktu dekat ini adalah, pulang dan ketemu sama keluargaku. Untuk sebagian orang mungkin ini bukanlah mimpi yang luar biasa. Tapi, untuk eorang perantauan sepertiku, hal itu sangatlah luar biasa.
Aku ingin sekali pulang ke Ponorogo, ketemu keluargaku. Bilang kalau aku kangen sama mereka, sayang sama mereka. Aku ingin memeluk Ibu. Bermanja-manjaan dipangkuannya dan beliau membelai lembut kepalaku sampai aku tertidur. Aku juga ingin menghabiskan waktu sehari saja bersama mereka. Hanya ada Bapak, Ibu, kakak, aku dan adik. Ya, hanya kami berlima─seperti dulu saat aku dan saudara-saudaraku masih anak-anak. Ada Bapak yang lucu, ada Ibu yang selalu bijaksana dan adil, ada kakak yang emlindungi, dan ada adik yang seperti sahabat sendiri untukku─karena umur kami hanya beda setahun.
Aku ingin mengajak mereka berlibur ke pantai atau piknik ke gunung, atau kemana saja asal hanya kami berlima. Terus nanti bikin tenda di sana barbeque-an, makan bareng, bercanda, bertukar cerita kayak yang sering kami lakukan dulu.
Bukan karena jarak yang jauh (dari Surabaya ke Ponorogo cuma butuh jarak tempuh 5 jam), sehingga aku tidak bisa mewujudkan hal itu. Hanya saja, lagi-lagi pekerjaan yang nggak memungkinkan untuk aku untuk mewujudkan mimpi sesederhana itu, dalam waktu dekat. Setidaknya, aku butuh libur tiga hari untuk bisa pulang dan mewujudkan mimpi itu. Hanya saja, libur tiga hari itu kayaknya mustahil banget untuk waktu dekat ini.
Ya, mimpi yang sederhana. Tapi itu sangat berarti dan ingin sekali aku wujudkan. Akhir-akhir ini, setelah aku dan saudara-saudaraku sudah sama-sama dewasa, sibuk dengan urusan masing-masing─bahkan dua saudaraku sudah berkeluarga─kami jadi jarang sekali berkumpul dan ngobrol santai seperti dulu. Terlebih dua saudaraku sekarang sudah berkeluarga.
Kadang aku suka ngerasa jadi anak durhaka karena untuk sekedar meluangkan waktu demi bertemu orangtua saja nggak bisa. Agak egois memang. Aku lebih memilih pekerjaan daripada orangtua. Untuk kalian yang juga ada diposisiku, pasti mengerti alasan kenapa aku melakukan itu.
Kemudian ada mimpi sederhana yang kedua. Berkumpul kembali dengan sahabat-sahabatku. Vina, Yuyun, Ikka, Umy, Dwi dan Reni. Enam sahabat masa kecilku. Enam sahabat gilaku. Enam sahabat yang juga sering beradu argumen denganku. Yang hanya dengan mereka aku bisa menjadi diriku sendiri. Yang hanya dengan mereka aku bisa merasa bahwa dunia ini begitu indah. Yang hanya dengan mereka, aku merasa bahwa bercanda itu adalah hal yang sangat menyenangkan. Yang hanya dengan mereka, aku bisa bilang bahwa ‘sahabat itu bukan cuma bisa membuatmu tertawa, tapi juga menangis’.
Tidak jauh beda dengan keluargaku, mereka sangat penting bagiku. Mungkin mereka nggak tahu, tapi aku sungguh merasakan itu. Setiap kali pulang, aku selalu menyempatkan untuk bisa berkumpul dengan mereka. Walaupun pada kenyataannya selalu ada yang nggak bisa hadir karena kesibukan masing-masing dari kami.
Dua mimpi sederhana yang ingin kulakukan, karena kenyataannya aku nggak bisa hidup tanpa mereka. Karena aku sangat membutuhkan mereka. Karena mereka adalah bagian dari hidupku. Dan karena mereka, adalah sebagian dari bahagiaku.
Dua mimpi sederhana, yang sulit untuk diwujudkan karena situasi dan kondisi yang tidak mendukung. Satu harapan yang ada, saat lebaran nanti. Semoga, semoga Tuhan berkenan mewujudkan mimpiku itu. Amin.



Rabu, 18 Februari 2015

Sisi Lemah Laki-laki yang Tidak Diakui



Kali ini aku akan membicarakan soal sisi lain dari laki-laki yang terkenal dengan sikapnya yang tegas, keras, arogan dan egois. Sisi lemah laki-laki yang hampir nggak pernah diakui dan nggak ada yang mau mengakui. Yaitu, menangis.
Aku tidak ingin menghakimi atau pun menyalahkan mereka yang tidak mau mengakui. Namanya juga laki-laki. Mereka lebih sayang sama ego, kan? (sorry, ini fakta) Aku akan menggunakan contoh saja agar kalian para lelaki sedikit mau mengakui apa yang akan kusampaikan.
Yang kujadikan contoh kali ini adalah dua laki-laki paling tempramental, egois, arogan, kasar sekaligus paling tegas dan kuat yang pernah aku kenal. Dua orang ini adalah dua orang laki-laki yang berwajah mirip, bersifat dan berkelakuan mirip.
Ya, aku selalu menganggap bahwa mereka kuat. Mereka selalu berdiri sendiri. Tidak pernah meminta bantuan atau pun mengeluh. Mereka berjiwa pemimpin. Dan mereka membuktikannya dengan seringnya mereka terpilih sebagai pimpinan dari komunitas apa pun yang mereka ikuti. Namun, mereka tetap manusia. Memiliki sisi manusiawi yang selalu disangkal laki-laki mana pun. Sisi yang diharamkan dan pantang dilakukan apalagi diakui seperti yang sudah kubilang tadi. Mereka adalah Chris, kakakku. Dan Nathan, sepupuku.
Percaya nggak percaya, sudah beberapa kali aku melihat kakakku menangis. Pertama, waktu itu lebaran. Aku lupa kapan kejadiannya. Yang jelas sudah lama sekali. Mungkin waktu aku SMP kalau nggak SMA. Aku dan keluargaku seperti biasanya, bersilaturahmi ke rumah orang-orang yang dituakan di keluarga besar kami. Di sana, tanpa sengaja kami bertemu mantan pacar kakakku. Orang yang pernah dicintainya dulu itu, menghianatinya dengan menghadirkan orang ketiga. Saat itu kakakku yang menyudahi hubungan mereka. Namun wanita itu tidak menginginkan perpisahan. Harga diri kakakku terluka. Karenanya dia tidak menghiraukan sama sekali saat wanita itu pergi dari rumahku dengan berurai air mata.
Setelah sekian tahun berpisah dan akhirnya Tuhan mempertemukan mereka kembali─entah karena alasan apa─kakakku memilih untuk menghindarinya. Tidak mau menyapa atau berjabat tangan sebagai formalitas Idul Fitri. Yang kulihat setelah perempuan itu pergi, kakakku menangis tanpa suara. Dia tidak pernah mengaku saat kutanya alasan dia menangis. Itulah kali pertama aku melihat kakakku menangis.
Kedua kalinya aku melihat kakaku menangis adalah saat dia berpamitan padaku, adik dan Ibu sebelum dia pergi ke luar kota untuk bekerja dalam jangka waktu yang lama.
Ketiga kalinya, saat dia berada di titik tersulit dalam hidupnya. Dia kembali menangis. Entah karena merasa tidak sanggup lagi atau bagaimana aku juga nggak tahu. Sejak saat itu, sampai detik ini aku tidak pernah lagi melihatnya menangis.
Kemudian Nathan. Seumur hidup dan sepanjang aku kenal dengannya, aku nggak pernah mendapati dia terlihat lemah. Dia adalah adik sepupuku yang berusia diatasku setahun. Kami pernah bersekolah di SMA yang sama. Saat kelas XI dan XII berada di kelas yang sama, aku jadi sangat tahu orang seperti apa Nathan itu. Bagaimana sifat dan karakternya, yang ternyata nggak berbeda jauh dengan kakakku tadi.
Pertama dan terakhir kalinya aku melihat Nathan menangis adalah saat pemakaman Eyang Kakung Nathan yang adalah adik kandung kakekku. Aku tahu dia berusaha untuk tegar. Aku tahu dia berusaha keras menahan air matanya. Tapi, dia tetap hanya manusia biasa. Egonya dikalahkan. Dia menangis. Dia menitikkan air mata dihadapanku. Dia terisak.
Dari situlah aku baru benar-benar sadar bahwa laki-laki itu juga manusia biasa seperti halnya wanita. Memiliki hati, yang walaupun jarang untuk digunakan. Tapi, sekalinya digunakan selalu disaat yang tepat. Bukan disaat yang nggak penting-penting banget kayak yang dilakukan wanita pada umumnya. Dan sepengamatanku selama ini, yang sanggup membuat laki-laki menangis adalah… wanita dan keuarga. Iya, wanita. Aku tahu kalian para lelaki akan protes. Tapi itu fakta, dari apa yang aku amati dan lihat selama ini.
Jadi, tidak perlu lagi kalian para laki-laki mati-matian menyangkal. Tidak perlu lagi kalian gengsi mengakui bahwa kalian juga bisa memangis. Percuma! Fakta sudah menjawabnya (hweheee…. Peace man!)
Lagi pula, menangis tidak berarti lemah, kok. Percayalah, justru dengan tangis, segala rasa yang sulit diungkapkan dengan kata akan terlihat jelas. Menangis juga meringankan beban. Intinya, menangis bukanlah hal yang memalukan. Selama kalian tidak melakukannya dengan berlebihan─sambil meraung-raung dan teriak-teriak─dan pada situasi dan kondisi yang tepat.



Senin, 16 Februari 2015

Cara Sederhanaku Mengatasi Writer's Block


Dalam dunia kepenulisan, setiap penulis─entah amatir atau pun profesional─pasti pernah mengalami yang namanya writer’s block atau mandek ide. Hal ini wajar, kok. Tapi, jangan dibiarkan begitu saja karena hal ini akan sangat mempengaruhi hasil tulisan kita. Begitupun denganku. Sering sekali mengalami writer’s block. Aku menulis, tapi disamping itu saya juga memiliki pekerjaan utama sebagai staf administrasi di sebuah yayasan sosial. Disaat kepala sudah pusing dengan tumpukan laporan di kantor, mood untuk menulis pun jadi buruk yang berimbas ke mandeknya otak kita untuk menghasilkan ide.
Writer’s block, kalau dibiarkan berlama-lama tanpa berusaha membangkitkan ide lagi, yang ada tulisan kita nggak akan kelar-kelar dan akan mandek dalam jangka waktu yang lama.
Aku tipe orang yang nggak mau nulis kalau mood lagi buruk. Karena menurutku keadaan mood sangat mempengaruhi hasil tulisan. Kalau dipaksa buat nulis, yang ada cerita tulisan bakal ngaco kemana-mana. Biasanya kalau mengalami writer’s block, yang aku lakukan adalah, berhenti menulis. Kemudian aku seduh teh. Menghirupnya dalam-dalam sebelum meminumnya. Setelah itu memutar musik jazz. Memejamkan mata sejenak sambil mendengarkan alunan musik jazz yang lembut dan hangat, adalah cara paling efektif untuk merilekskan pikiran. Setelah pikiran kembali nyaman, biasanya aku akan kembali melanjutkan menulis.
Kalau hal itu masih belum bisa membangkitkan ideku, aku akan mengatasi writer’s block dengan cara menonton film atau drama Korea atau membaca buku yang satu genre dengan apa yang sedang aku tulis. Seringnya, dari film-film yang aku tonton dan buku yang aku baca, dengan sendirinya akan memunculkan ide. Dan saat ide itu muncul tiba-tiba, segera matikan layar TV atau letakkan buku dan mulailah menulis kembali.
Kemudian soal minder dengan tulisan sendiri. Sebenarnya sampai sekarang aku masih suka minder sama tulisan sendiri, sih. Setiap kali mau kirim ke penerbit, atau mempublikasikan tulisanku di blog, aku suka berpikiran ‘Tulisanku bakal disukai penerbit nggak, ya?’ atau ‘Kira-kira tulisanku ini bakal dapet kritikan banyak nggak, ya, dari pembaca blogku?’. Kemudian aku menemukan sebuah cara jitu untuk mengatasi krisis kepercayaan diriku itu. Yaitu dengan meminta beberapa teman untuk membaca tulisanku terlebih dulu, sebelum aku kirim ke penerbit atau aku publikasikan di blog. Ya… semacam first reader begitulah. Aku minta mereka buat mengoreksi dan memberi saran atau kritik terhadapa tulisanku tersebut. Kemudian, setelah mendapat koreksi dan kritik dari mereka, biasanya aku akan merevisi untuk mereka lihat lagi. Setelah mereka bilang oke, maka aku baru mengirim ke penerbit atau mempublikasikan tulisanku tersebut di blog.
Tapi sayangnya, sampai sekarang belum ada tuh tulisanku yang berhasil meluluhkan hati penerbit. It’s okay. Segala sesuatu butuh proses. Dan dengan sabar aku akan menunggu hasil dari proses panjang itu.


Tulisan ini diikutsertakan dalam 1st Giveaway blog Cokelat Gosong