Google+ Badge

Selasa, 24 Maret 2015

Book Review : Menikahlah Denganku





Judul : Menikahlah Denganku
Genre : Fiksi Romance
Penulis : Annisa Adrie
Penyunting : Pratiwi Utami
Desain Cover : @labusiam
Pemeriksa Aksara : Yntan
Penata Aksara : Martin Buczer
Digitalisasi : Rahmat Tsani H.
Penerbit : Bentang Pustaka
Terbit  : 2014
Tebal : 254 halaman
ISBN : 976-602-291-073-2




“Pada kenyataannya, sebuah masalah memang harus dihadapi dengan ksatria. Bukan malah ditinggal lari karena dia akan semakin kuat menjadi hantu pikiran yang ingin akal sehatku mati.”


Menikahlah denganku menceritakan tentang kehidupan pra wedding si tokoh utama yaitu Jenna. Jenna dan Satura adalah sepasang kekasih yang seperti tak terpisahkan. Karena sudah merasa saling mencintai, Satura pun melamar Jenna di sebuah masjid yang ingin dia gunakan untuk akad nikah dengan Jenna nanti. Ini yang sukses bikin aku ngiri. Betapa seriusnya niat Satura karena melamar saja di masjid.

Niat pernikahan mereka nggak berjalan mulus. Banyak banget rintangannya. Saat tanggal lahir Jenna dan Satura dihitung-hitung oleh Eyang Kakungnya, ternyata nggak ketemu. Iya, hitung-hitungan tanggal menurut adat Jawa gitu. Bagian ini yang bikin aku benar-benar was-was. Bagaimana kalau hal itu terjadi padaku dan batal nikah cuma gegara hitung-hitungan tanggal nggak ketemu. Sampek aku bela-belain telepon Ibu malam-malam buat tanya hal itu. Syukurlah, keluargaku nggak terlalu menerapkan hal itu.

Tapi walaupun hitungan tanggal nggak ketemu, Jenna berkeras untuk tetap menikah dengan Satura. Akhirnya keluarganya pun menerima dan mencari solusi tentang masalah ini.

Lalu masalah kedua muncul akibat konsep nyeleneh yang diinginkan Jenna. Pernikahan ala-ala negeri tengah hutan dengan menggunakan cocktail dress bukan baju dodot seperti yang diinginkan kedua orangtuanya. Karena sikap ngeyelnya Jenna inilah yang akhirnya membuat hubungannya dengan orangtua menjadi renggang. Bahkan Jenna nggak menyertakan mereka dalam persiapan pernikahannya. Agak-agak kesel juga sama sikap ngeyel Jenna ini.

Kemudian masalah ketiga muncul, Satura yang terkena tipu oleh customernya harus rela kehilangan uang puluhan juta─yang dipersiapkan untuk dana pernikahannya dengan Jenna. Karena merasa marah dan kalut, Satura pergi untuk memanjat tebing seperti yang selalu dia lakukan. Di situlah terjadi kecelakaan yang membuat Satura lumpuh. Satura menjadi seperti zombie. Hidup, bernapas, tapi nggak punya gairah. Nggak mau ngapa-ngapain bahkan mengabaikan Jenna.

Disaat-saat terjatuh seperti inilah ada seorang sahabat ayang selalu ada untuk Jenna. Namanya Rigel. Cowok konyol yang katanya Jenna mirip Rio Dewanto. Dia itu sahabat yang baik banget. Selalu ada buat Jenna. Selalu menguatkan saat dia rapuh. Perhatian banget sama sahabat. Mereka itu sahabat sehidup sekarat. Nggak terspisakan. Konyol. Gila. Justru kisah merekalah yang sangat aku suka di sini. Karena memang si Rigel ini aslinya suka sama Jenna.


“Yang sabar ya, Nyet. Jodoh lo nggak bakalan lari, mungkin lagi dipinjem orang aja. Entar kalau udah bosen juga dibalikin ke lo. Berdoa aja dia dikembalikan ke lo sebelum uzur.”


Bahkan Rigel juga yang akhirnya berhasil meyakinkan Satura kalau semua akan baik-baik saja. Pernikahannya dengan Jenna akan baik-baik saja walaupun dia lumpuh. Toh Jenna juga sudah menerima. Rigel jugalah yang mempersiapkan pernikahan mereka yang sempat gagal. Menyiapkan segala sesuatunya sampai benar-benar beres.

Endingnya yang membuat hati teriris banget. Siapa pun yang jadi Jenna, nggak yakin deh bakal bisa menerima dengan lapang dada. Pas hari akad nikah, saat Jenna dan seluruh keluarganya serta para undangan sudah berkumpul, Satura nggak kunjung datang. Rigel mendatanginya. Dan dengan gampangnya Satura bilang kalau nggak bisa menikah dengan Jenna. Karena dia terlalu mencintai Jenna dan dia nggak mau membebani Jenna dengan keadaannya. Dia juga melupakan bagaimana perjuangannya mendaki Semeru dengan menggunakan kruk demi memetik edelweiss yang akan digunakan sebagai mahar. Sumpah, sebel banget sama Satura. Dia itu, bodoh banget. Huhh…. Jadi emosi diriku. Padahal Jenna dan keluarganya itu sudah mau menerima dia apa adanya, lho. Belum tentu orang lain mau.

Tapi akhirnya Jenna tetap menikah, kok. Tapi bukan sama Satura si pengecut itu [kan, masih emosi saya]. Melainkan sama Rigel, sahabatnya tadi.


Dan, inilah quotes favoritku yang ada dalam novel Menikahlah Denganku :
  1. Setipis apa pun, pernikahan akan melahirkan sekat antara seseorang yang menikah dengan kehidupan di luar rumah tangganya. Seseorang yang menikah akan memiliki garis teritori yang tegas dalam hidupnya.
  2. Bukankah mandat tertinggi untuk mengatur hidup kita adalah kita sendiri?
  3. Hal terberat yang kita lalui adalah kita sama-sama berjuang untuk saling melupakan. Tapi, semakin kita menjauh, ternyata simpul di hati kita semakin kuat menaut.
  4. Demi sempurna aku telah menafikan banyak hal. Namun, demi sebentuk cinta yang sempurna, aku mengerti bahwa hati yang tulus mencintaiku tanpa ragu adalah hati terbaik yang selayaknya akan kupercayakan seluruh cinta kepadanya.
  5. Bahwa tak selamanya segala yang sempurna adalah tujuan.

2 komentar:

  1. judul bukunya cocok buat yang ngelamar, mungkin buat para laki yang mau ngelamar bisa ngasih buku ini, xD dan eheem gue cuma mau mengaminkan ini aja,,


    “Yang sabar ya, Nyet. Jodoh lo nggak bakalan lari, mungkin lagi dipinjem orang aja. Entar kalau udah bosen juga dibalikin ke lo. Berdoa aja dia dikembalikan ke lo sebelum uzur.”

    aamiin ya Allah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaa.... Tapi kayaknya ini buku kurang tepat kalo buat kado lamaran. Sedih banget. Bikin orang mikir banyak dulu sebelum akhirnya mutusin buat nikah

      Hapus