Google+ Badge

Sabtu, 07 Maret 2015

Definisi Sahabat Menurutku






Beberapa bulan yang lalu aku pernah ngepost dengan judul ‘Letter to My Best Friends’. Menuliskan keluhanku tentang seperti apa renggangnya hubungan persahabatanku dengan enam orang yang sudah bersahabat denganku sejak masih bayi dulu. Tapi, banyak dari mereka yang nggak memahami bahasa yang kugunakan—padahal pakai bahasa Indonesia sehari-hari yang seharusnya gampang banget buat dipahami. Sehingga membuat mereka salah paham, salah mengartikan maksudku dan bilang kalau aku malah ngajak mereka berantem. Sebenarnya tujuanku menulis surat itu adalah untuk mengingatkan mereka betapa aku sangat menyayangi dan menginginkan hubungan persahabatan kami tetap awet sampai tua nanti. Agar kalian tahu seperti apa isinya, lebih baik langsung baca di sini. Semoga kalian mengerti dengan maksudku.
Sebagai contoh adalah kalimat ini, “Aku yang terlalu sensitif dan mudah tersinggung. Reni dan Umex dengan kata-kata cablaknya yang kadang tanpa mereka sadari itu membuat yang lain tersinggung. Yuyun sama Dwex yang cenderung masa bodoh dan paling santai. Vina yang konyol tapi juga paling bisa diajak ngomong serius. Dan Mende, yang konyolnya nggak ketulungan.
Maksud dari kalimatku itu adalah menunjukkan sifat-sifat kami, yang justru membuat kami bersahabat. Tapi, ternyata kalimatku itu mereka anggap sebagai genderang perang. Katanya aku ngatain mereka. Aku shock. Aku bingung mau menjelaskan dengan bahasa apa agar mereka mengerti. Tapi tetap saja mereka nggak mau mengerti.
Setelah aku ngepost surat itu, hubunganku dengan beberapa dari mereka menjadi sedikit renggang. Terlebih lagi setelah munculnya si Sengkuni (sebut saja begitu karena hobinya sejak kecil membuatku kesal dan emosi) yang mengompori kami, sehingga semakin buruklah hubunganku dengan sahabat-sahabatku. Perasaanku saat itu antara sedih, kecewa (karena ungkapan sayangku malah dianggap sebagai genderang perang), marah, jengkel, kesal (karena sahabat-sahabatku nggak mengerti dengan yang kumaksud lewat surat itu).
Lalu, kegalauanku akan kehilangan mereka menghilang saat salah seorang dari mereka yang kebetulan berpendidikan lebih tinggi dari kami dan tinggal di kota (maaf, bukan maksudnya merendahkan yang nggak berpendidikan dan tinggal di desa, karena faktanya selama saya ngorbrol sama mereka sama sekali nggak nyambung dan mereka selalu salah paham dengan maksudku), dia mengerti maksud dari suratku. Dia memahami maksudnya. Dia membantuku untuk menjelaskan kepada sahabat-sahabatku tentang apa maksud suratku. Beberapa bulan kemudian, kami kembali baik.
Tapi, aku sudah terlanjur kecewa sama mereka. Aku memaafkan mereka. Tapi entah kenapa sejak saat itu aku nggak sesayang dulu sama mereka. Karena aku menyadari, bahwa selama ini sepertinya hanya aku yang menyayangi dan menginginkan persahabatan itu. Karena faktanya, mereka nggak pernah ada untukku dan mereka hanya mencariku saat butuh aku. Berada di antara mereka saat ini, seperti berada di antara orang-orang baru. Mereka seringnya membahas tentang apa yang terjadi pada mereka saat aku nggak ada di antara mereka. Aku merasa diabaikan. Merasa nggak dihargai kehadiranku. Aku sadar, sih, sepenuhnya bukan kesalahan mereka. Karena faktanya saat ini aku bekerja di Surabaya sedangkan mereka berada di Ponorogo. Mungkin karena lingkungan pergaulan kami yang berbeda, uang akhirnya menyebabkan ketidaknyambungan antara kami.
Sekarang ini, aku nggak berani untuk menyebut sahabat kepada siapa pun. Karena aku takut dikecewakan lagi. Padahal, ada satu teman yang diam-diam kusebut sahabat. Dia selalu ada untukku, dia mau kurepotkan dan mau merepotkanku, dia datang padaku saat menangis atau pun tertawa. Dia yang mengerti banget aku orang seperti apa dan bagaimana cara menghadapiku saat sifat burukku lagi kambuh. Dia yang bisa menerima segala kekuranganku sebagaimana aku menerima dia. Padahal, kami baru kenal tiga tahun. Bukan puluhan tahun seperti aku dan enam orang sahabatku tadi. Orang yang menyebalkan tapi sekaligus sangat baik. Sebut saja Santo (dia cewek). Seperti dialah yang kusebut sahabat.
Buatku, nggak pa-pa kehilangan enam orang sahabat yang nggak tulus, asalkan memiliki satu sahabat yang tulus padaku.
Pertanyaanku adalah, apakah orang yang selama ini kamu sebut sahabat dan sangat kamu sayangi, juga menganggap kamu seperti itu? Coba tanyakan pada dirimu sendiri. Pada penglihatanmu. Bukan cuma mata, tapi juga hati.

Regards,

Anis

6 komentar:

  1. Keadaan memang sering jauh dari yg kita harapkan, tapi percaya aja pasti selalu ada seseorang yg mau menjadi sahabat kita diluar sana. Bukan sahabat namanya kalo nggak mau mengerti..ya kan?? :)

    sisepatukumal.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, bener banget. Berarti dia cuma teman.

      Hapus
  2. Sahabat yang Tulus itu emang susah dicarinya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betup banget. Sudahkah kamu menemukan sahabat?

      Hapus
  3. Emang sulit ketemu sm org yg bs kita anggao sbg sahabat, aku aja baru nemu, 7 org, itu waktu kuliah n skrg kami masih sering komunikasi, mskipun brjauhan tp kami berusaha utk salibg mmbantu minimal mmbrikan support n doa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah Mbak punya tujuh. Aku aja cuma satu. Tapi itu lebih baik daripada banyak temen tapi nggak tulus sama kita. Mending satu tapi tulus. Iya enggak?

      Hapus