Google+ Badge

Sabtu, 01 November 2014

COMPLICATED Part 3




Ini boleh nggak, sih, kalau aku minta izin Papa buat ke kamar gitu? Ngantuk banget. Selesai makan siang para orangtua masih melanjutnya mengobrolnya di ruang keluarga. Mia dan Janeta sedang seru main PS sama Ares dan Arsa. Sedangkan aku, nggak tahu gimana ceritanya bisa terjebak duduk di sofa bareng para orangtua.

Aku menyikut pelan siku Mama yang duduk di sampingku, “Ma, Rhea ke kamar ya?” Aku bertanya, dan langsung mendapat tatapan tajam dari Mama.

“Ngantuk, Ma.” Aku merengek.

“Nggak sopan. Mendingan ikutan nimbrung sama Mas-mu sana.” Mama berkata setengah berbisik.

“Oke.” Aku menjawab dengan malas kemudian berdiri. Malas banget kalau harus bergabung main PS sama itu cowok dua dan Mia-Janeta. Maka aku berjalan menuju teras samping yang langsung terhubung dengan ruang keluarga. Siang ini lumayan sejuk. Halaman rumahku memang banyak tanaman, sih. Ada beberapa pepohonan tinggi dan tanaman-tanaman hias peliharaan Mama. Aku duduk di kursi rotan yang diletakkan di dekat jendela.

“Masih sekolah, Rhe?”

Aku agak kaget saat tiba-tiba Arsa muncul di sebelahku. “Oh, itu... enggak. Maksudnya udah lulus setahun lalu.” Jawabku dengan tergagap.

“Dulu, kuliah di mana?” Arsa bertanya lagi sambil duduk di kursi rotan sebelahku.

“Arva School of Fashion.”

“Ambil jurusan?”

Fashion desainer-lah. Apalagi memang.” Ini kenapa jadi kayak dialog interviewku sama Bu Siska setahun lalu, sih? Flat banget.

Baiklah, demi memecah kecanggungan, sepertinya aku harus bertanya juga. “Emangnya pas kecil dulu kita tetanggaan, ya? Seingatku dari aku kecil rumah sebelah itu punya keluarga Pak Danang.”

Arsa tersenyum. “Itu tetangga sebelah kanan rumahmu. Aku kan tetangga sebelah kiri. Ya, itu dulu rumahku.” Arsa menatap rumah sebelah yang sekarang berdiri menjulang di depan kami.

“Ohh…”

“Kamu beneran nggak ingat aku?” Arsa menautkan kedua alisnya. Menatapku serius.

“Hehee… enggak.” Jawabku dengan cengengesan. Kami saling diam untuk beberapa detik.

“Luka dilutut kanan kamu masih ada?” Arsa bertanya.

Refleks aku langsung melihat lutut kananku. Memang ada bekas luka yang sekarang warnanya memutih. Tapi aku nggak ingat cerita dibalik luka itu.

“Kok bisa tau, sih?”

“Itu dulu kamu jatuh gara-gara ngejar aku yang ngambil boneka kamu. Nggak ingat juga?” Arsa menjelaskan. Aku menggeleng.

Speechless. Dia masih ingat gitu sama kejadian… sembilan belas tahun lalu. Aku saja sama sekali nggak ingat.

“Jangan-jangan boneka beruang yang aku kasih buat hadiah perpisahan kita itu udah kamu buang lagi?” Arsa bertanya lagi. Boneka beruang? Hadiah perpisahan?

“Boneka beruang warna coklat itu bukan, sih?” Aku bertanya ragu. Wajah Arsa terlihat sumringah. Dia mengangguk mengiyakan. “Diminta sama ponakanku. Ya aku kasih aja.” Wajah sumringah Arsa berubah jadi kecewa.

Sampai segitunya? Aku saja yang punya boneka itu biasa-biasa saja. Lagipula, masa iya segede ini masih mainan boneka. Seingatku, aku hanya punya satu boneka itu karena aku memang bukan tipe cewek pecinta boneka. Dan mengingat umurku yang saat itu sudah tujuh belas tahun, maka saat Leora ponakanku meminta boneka itu ya, aku berikan.

“Maaf, deh. Nggak tau kalau itu dari kamu.”

It’s okay.” Arsa membuang tatapannya ke taman. “Udah gede ini juga. Masa masih mainan boneka.” Arsa melanjutkan kemudian tersenyum.

“Kamu sekeluarga emangnya pindah ke mana?” Aku bertanya.

“Jakarta.” Jawab Arsa pendek. Aku hanya manggut-manggut.

“Non Rhea.”

Aku menoleh saat mendengar suara Bik Nah. “Ya, Bik?”

“Ada tamu nyari Non.”

“Siapa?” Tumben banget ada tamu yang nyari aku.

“Ngg… lupa tanya namanya. Sekarang nunggu di teras depan.” Jawab Bik Nah kemudian berlalu.

“Mau ikut?” Aku menatap Arsa.

“Nemuin tamu kamu, gitu?”

“Ya kali mau ketemu sama pohon Rambutan yang Tante bilang tadi.” Aku menjawab dengan candaan. Arsa tertawa pelan.

“Nggak, deh.”

“Ya udah. Aku tinggal kalo gitu.” Aku berkata kemudian berjalan menyusuri teras samping yang langsung terhubung dengan teras depan. Agak kaget saat mendapati Mas Asta duduk di salah satu kursi yang ada di teras.

“Mas Asta?”

“Eh, Rhe. Tadinya aku telepon kamu, tapi nggak diangkat. Makanya langsung masuk aja. Aku ganggu acara keluarga kamu, ya?” Mas Asta berkata.

“Ah, enggak kok. Cuma temen-temennya Mama. Lagi reuni kayaknya.” Aku duduk di kursi satu lagi. “Ada perlu apa, Mas?”

“Oh, ini. Ada titipan dari Bu Siska. Tadinya beliau juga telepon kamu pas kamu belum lama ninggalin butik. Tapi nggak kamu angkat. Jadinya aku bawa aja. Kan rumah kita lumayan deket.”

“Masa, sih? Aku kok nggak dengar HPku bunyi, ya?” Bahkan sekarang aku lupa tasku tadi kuletakkan di mana. Aku menerima map dari tangan Mas Asta. Kemudian membuka untuk melihat isinya.

“Itu hasil rapat hari ini. Ada perubahan susunan acara. Kamu diminta untuk kertik ulang. Terus fotokopi sebanyak dua puluh lembar untuk rapat besok malam.”

“Rapat lagi?” Aku memekik tertahan.

Mas Asta tersenyum maklum. “Capek, ya, pulang malem terus?”

“Iya. Sampek tengah malem gitu. Udah capek, ngantuk, masih harus nyetir sejauh Hr. Muhammad-Rungkut lagi.”

“Mau pulang bareng?”

Pengen rasanya langsung teriak, ‘Mau banget, Mas.’ “Ngerepotin lagi dong ceritanya.” Aku tersenyum.

“Ya udah. Aku pulang aja. Kamu kan masih ada tamu, nggak enak kalau kelamaan ninggal mereka.” Mas Asta berdiri. Aku ikut berdiri.

“Tamu Mama, kok. Thanks ya, Mas, udah mau jauh-jauh nganterin titipan Bu Siska.” Aku tersenyum sopan.

“Sama-sama.”

Bersamaan dengan itu, segerombol manusia yang sedari tadi sibuk ngobrol di ruang keluarga muncul dari ruang tamu. Obrolan mereka langsung terhenti dan menatapku sama Mas Asta bergantian. Mas Asta mengangguk dan tersenyum sopan.

“Siapa, Rhe?” Mama bertanya dengan pandangan penasaran.

“EO buat acara festival butik, Ma. Ada urusan kerjaan.” Jawabku. Aku yakin, setelah semua orang ini pergi, Mama pasti akan menanyaiku macam-macam. Beliau nggak akan percaya begitu saja dengan jawabanku.

“Pulang ya, Rhe.” Mas Asta berpamitan, kemudian menyentuh pelan pinggangku. Sumpah, aku lumayan kaget dengan tindakan Mas Asta barusan. Bisa gitu ya, ngelakuin hal kayak begitu di depan orangtuaku dan teman-temannya.

“Mari semua.” Mas Asta menyapa semua orang kemudian berjalan keluar gerbang menuju mobilnya.

Suasana tiba-tiba terasa canggung. Semua mata masih terarah padaku. Memang sebegitu anehnya, ya, melihat laki-laki dan wanita hanya berdua?

───

“Yakin itu EO acara kantor kamu?” Mama bertanya padaku begitu semua orang pulang.

“Iya, Ma. Dia nganter titipan Bu Siska, nih.” Aku menunjukkan map yang dibawa Mas Asta tadi. Mama masih menatapku curiga.

“Mama nggak suka kalau kamu dekat sama orang tadi.” Tegas Mama mengatakan itu. Apa-apaan ini?

“Apaan sih, Ma. Emangnya kenapa kalo aku deket sama Mas Asta?” Aku menatap Mama minta penjelasan.

“Cowok kok cantik begitu.”

“Itu bukan cantik, Ma. Tapi rapi. Karena dia tipe cowok metroseksual yang memperhatikan banget penampilannya.” Mama terlihat ragu dengan pembelaanku. “Mama nggak ngira kalau Mas Asta itu gay, kan?”

“Dari penampilannya saja sudah kelihatan lho, Rhe. Dan setahu Mama, cowok model begitu kebanyakan memang gay.”

Hah? Seriusan itu Mamaku yang barusan ngomong? Kok jadi sarkas begitu? Oke, memang Mas Asta itu tipe cowok metroseksual yang memeperhatikan penampilan banget. Mukanya juga sehalus mukaku yang cewek ini. Yang aku yakin dia dapat dari perawatan di klinik kecantikan. Tapi bukan berarti dia gay, kan? Lagipula aku juga nggak ngelihat ada bedak di wajah Mas Asta.

“Mama itu suka ngasal, deh. Udah, ah. Rhea mau ngerjain tugas dari Bu Siska.” Kataku kemudian meninggalkan Mama yang masih berdiri di teras. Sedangkan Ares dan Papa sudah masuk sejak tamu mereka pulang tadi.

Aku melihat Papa sama Ares lagi main PS. Iya, Papaku yang umurnya lima puluh tahun lebih itu, masih suka main PS. Kayaknya hobi PS Ares itu ya turunan dari Papa ini. Aku berjalan melewati mereka untuk menuju kamarku yang ada di lantai dua.

“Rhea?”

Aku berhenti di ujung pintu saat Mama memanggilku. Apa lagi, sih? “Kenapa, Ma?” Aku menatap Mama yang kini berdiri di samping Papa.

“Mama lupa. Nanti malam kita ke rumah Om Wiryo. Kamu nggak ada acara, kan?”

Ya Tuhan. Baru ketemu, malamnya mau ketemu lagi? “Mau ngapain?”

“Kamu itu mau dijodohin sama Arsa.” Ares menyahut tanpa menatapku. Yang langsung mendapat pukulan dibahu oleh Mama. Aku melongo. Ini si Ares beneran apa ngaco, sih?”

“Apaan?” Aku bertanya.

“Om Wiryo ngundang keluarga kita buat dinner.” Mama menjawab.

“Bukan. Yang dibilang Ares tadi.” Aku menjelaskan.

“Ya apa salahnya? Arsa anak yang baik, ganteng, mapan. Mama sama Papa juga kenal baik sama orangtuanya. Daripada cowok cantik tadi.”

Seriusan, deh. Mama kok nyebelin banget sih, ngomongnya? Tega banget ngatain cowok yang lagi ditaksir anaknya dengan sebutan cowok cantik.

“Siti Nurbaya udah mati kali, Ma. Nggak usah berusaha buat nyiptain Siti Nurbaya baru, deh.” Aku berkata kemudian membalik tubuh dan berjalan menaiki tangga. Tidak ada yang berkomentar. Aku hanya mendengar cekikian Ares.

Jadi, inti dari kedatangan keluarga Ontowiryo ke rumahku siang ini nggak cuma buat ngomongin masalah bisnis doang, tho. Itu lebih ke mereka ingin mengenalkan aku dengan Arsa. Alias menjodohkan kami. Pantas saja, kenapa Papa sama Mama keukeuh banget kalau aku harus ketemu keluarga Ontowiryo ini.

Apa tadi? Perjodohan? Jangan harap. Aku nggak mau dijodoh-jodohkan kayak begitu. Kayak aku nggak laku saja. Ya memang sih, sekarang aku lagi jomblo. Tapi bukan berarti nggak laku, kan? Lagipula, aku kan lagi naksir Mas Asta. Dan melihat dia care ke aku akhir-akhir ini, kayaknya dia juga tertarik padaku. Iya, KAN?

───

COMPLICATED PART 4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar