Google+ Badge

Selasa, 23 Desember 2014

Doa untuk Bunda




Ketika ada yang bertanya, siapa orang yang paling kamu cintai di dunia? Dengan bangga aku menjawab, Bunda.
Aku tidak bisa membayangkan bila hidupku tanpa dia. Mungkin aku tidak akan bisa hidup. Mungkin hidup akan terasa tidak sama lagi. Ya. Aku terlalu mencintainya. Begitu mencintainya. Aku terlalu membutuhkannya. Aku terlalu tergantung padanya. Aku sangat, sangat, sangat takut kehilangannya.
Secerewet apa pun dia, aku sangat mencintainya. Semenyebalkan apa pun dia, aku tidak bisa hidup tanpanya. Sekeras apa pun cara mendidiknya, aku sangat berterima kasih padanya untuk semua itu. Karena hal itu menjadikanku lebih kuat dalam menjalani kerasnya hidup.

Terima kasih untuk segala perhatianmu, Bunda. Terima kasih untuk segala pengorbananmu. Terima kasih untuk cinta dan kasih sayang yang telah Bunda berikan selama ini. Terima kasih untuk nasehat-nasehat yang tiada hentinya. Terima kasih Bunda, karena telah melahirkanku dan memberiku hidup.
Maaf, untuk semua air matamu karena aku, Bunda. Maaf untuk kata-kata kasar dan sikap membangkangku saat remaja. Maaf untuk keringatmu demi menafkahiku.

Kini, kumemohon pada Tuhan.

Tuhan, berikan Bundaku hidup yang bahagia. Berikan Bundaku kesehatan. Berikan Bundaku panjang umur. Berikan Bundaku selalu ketabahan dalam menghadapi anak-anaknya. Tuhan, sayangilah Bundaku seperti dia menyayangiku dari bayi sampai sekarang. Amin.

Sabtu, 13 Desember 2014

Disaat Tuhan Menegur Kita




Kali ini mau membahas sesuatu yang agak berat. Yaitu tentang, sakit.

Seringnya kita lupa kalau tubuh kita ini nggak mungkin akan selalu sehat. Sedisiplin apa pun kita mengatur asupan makanan, olahraga, dan istirahat yang cukup. Bahkan, dengan gaya hidup sehat yang kita terapkan sekali pun, resiko untuk terkena penyakit itu selalu ada. Entah ringan atau pun berat. Kita tidak pernah tahu bukan, apa rencana Tuhan untuk kita?

Kalau menurut saya, penyebab kita terkena sakit itu ada tiga hal. Yang pertama, karena gaya hidup kita yang tidak sehat. Kedua, faktor keturunan (tahu kan, kalau ada beberapa sakit yang memang bisa menurun ke generasi selanjutnya?). Dan ketiga, cobaan.

Disaat kita sehat, kita sering berbuat sesuatu yang sebut saja ‘salah’. Dalam hal apa pun. Mungkin kita suka jahat terhadap orang lain, berbicara kasar, melawan orangtua, melakukan kecurangan-kecurangan dan masih banyak lagi kesalahan yang lainnya. Kemudian, Tuhan menegur kita dengan sakit. Sebenarnya kita harus bersyukur karena itu artinya Tuhan masih menyayangi kita. Tapi, tidak sedikit pula orang yang sudah ditegur dengan sakit, tetapi dia masih tetap saja melakukan kesalahan-kesalahan.

Saat ini, saya bekerja di sebuah Yayasan Sosial di Surabaya. Empat kali dalam seminggu kami mengadakan bakti sosial pengobatan dengan metode Therapy Longevitology (terapi energi alam). Banyak sekali orang yang datang untuk berobat. Berusaha untuk memperpanjang umur. Berjuang untuk sembuh. Mulai dari yang sakit ringan sampai sakit berat seperti tumor, kanker, AIDS, ALS, lupus dan berbagai macam sakit berat lainnya.

Saya suka mengamati pasien-pasien tersebut. Ada yang legowo menerima sakitnya dan telaten melakukan pengobatan. Tetapi tidak sedikit pula yang tidak bisa menerima sakitnya kemudian mereka menjadi pribadi yang sangat menyebalkan. Terlalu sensitif dan mudah tersinggung, kasar, temperamental.

Saya bersyukur Tuhan menempatkan saya dalam posisi saya saat ini (bekerja di tempat kerja saya yang sekarang dan bisa melihat orang-orang sakit tersebut). Saya jadi banyak berpikir, bahwa ketika kita sehat seringnya kita melupakan kewajiban kita terhadap Tuhan, sering melakukan kesalahan-kesalahan. Dari sini pula saya jadi sadar bahwa sakit datang tidak memandang gender, usia, status sosial, status ekonomi, ras. Sakit bisa menyerang siapa saja.

Inti dari apa yang saya sampaikan di atas adalah, di saat kita sehat, marilah kita berbuat sesuatu yang bermanfaat, menjadi orang yang baik, yang berguna untuk orang lain, tidak melupakan Tuhan. Jangan menunggu ditegur dulu baru kita mau bertobat dan berbuat baik.

Semoga, cerita saya di atas bisa bermanfaat untuk orang lain. Dan bisa menjadi pengingat bahwa masih ada Tuhan di atas kita yang siap menegur kita setiap saat dengan caranya yang kadang cukup sulit untuk kita terima. Tapi percayalah, Tuhan tidak akan menguji kita di luar batas kemampuan kita.



^_^

Anis




TENTANG DIA YANG MUNCUL SEBAGAI PENYEMBUH (A Story of Lyana Soenaryo & Artha Bimantara)



“Tha, lo bisa nggak, sih, nolak setiap kali keluarga gue ngatur hal kayak begini? Lo tau kan, gue nggak suka sama perjodohan ini.” Aku menatap Artha yang saat ini berdiri di depanku. Saat ini kami berada di depan rumahku. Berdiri di samping mobilnya. Dia baru mengantarku dari dinner yang direncanakan oleh keluargaku. Yang sialnya, menolak pun aku nggak bisa.
Artha tidak langsung menjawab. Dia hanya diam menatapku. Dan itu membuatku jadi salah tingkah. Sial. Kenapa akhir-akhir ini aku suka salah tingkah nggak jelas begini, sih, setiap kali Artha menatapku.
“Kenapa kita nggak coba aja, Yan?”
“B-buat?” Aku bertanya dengan dada berdebar.
“Kita. Kenapa nggak kita coba buat menerima perjodohan ini.” Jawab Artha.
Aku merasakan jantungku seperti lepas dari tempatnya. Si Artha ini gila atau apa, sih. Bukannya di awal perjodohan kami dia bilang kalau perjodohan ini bukan keinginannya? Bukankah dia bilang dia nggak bisa nolak karena Papa cukup berjasa atas kesuksesannya saat ini. Tapi sekarang─
“Awalnya gue memang ngerasa perjodohan ini rasanya konyol. Tapi, semakin mengenal elo, kayaknya gue ngerasain hal lain.” Lanjut Artha.
“Maksud lo?” Maksudnya dia nembak aku, nih?
Artha berdehem sebelum menjawab. “Begini, kenapa nggak kita coba aja buat… ya, pacaran, mungkin.”
Hah?
“Ya, anggap aja gue sebagai pelarian lo dari masa lalu lo itu. Gue rela, kok.” Lanjut Artha lagi.
Aku masih nggak menjawab. Ada gitu, ya, orang yang dengan bodohnya bilang rela menjadi pelarian dari masa lalu seseorang.
Karena melihatku nggak juga bereaksi, Artha melanjutkan, “Kita coba aja, Yan. Saat ini gue juga masih dalam tahap suka aja sama lo. Nanti kalau ternyata nggak berhasil, kita udahin. Gimana?”
Sumpah, seumur-umur baru kali ini ada yang nembak dengan cara konyol kayak begini. Udah dia bilang mau jadi pelarian aku, ditambah lagi dia bilang masih dalam tahap suka sama aku. Ini anak otaknya keseleo kali, ya?
Tapi, rasanya nggak salah kalau aku mengiyakan tawaran Artha barusan. Toh Artha juga cowok yang baik. Walaupun aku nggak menyukainya sebagai cowok. Maksudku, untuk saat ini setidaknya seperti itu. Dan seperti katanya tadi, kalau nggak berhasil, kita udahan.
“Baiklah.” Kataku akhirnya.
Aku melihat wajah tegang Artha berubah menjadi cerah. Dia tersenyum lebar kemudian mengacak pelan rambutku. Apa seperti ini yang dia bilang, masih dalam tahap suka? Dasar!
───


Sabtu, 06 Desember 2014

BEDA CINTA PERTAMA DAN PACAR PERTAMA


Semua orang tahu, bahwa pacar pertama adalah orang pertama yang menjadi kekasihmu. Tapi, terkadang banyak orang yang salah perpsepsi tentang arti cinta pertama. Ada sebagian kelompok yang menyebut bahwa cinta pertama yaitu adalah pacar pertama kita.
Kalau menurutku pribadi, pacar pertama itu nggak selalu menjadi cinta pertama. Karena yang aku alami, pacar pertamaku memang bukanlah cinta pertamaku. Cinta pertama adalah, seorang yang pertama kali membuat kamu jatuh cinta. Orang yang pertama kali membuat tidurmu nggak nyenyak karena selalu terbayang tentangnya. Orang pertama yang bisa membuatmu terpaku saat menatapnya. Orang pertama yang membuat jantungmu berdebar cepat kayak pacuan kuda setiap kali mendapati sentuhannya. Orang pertama yang membuatmu menangis saat merindukan dia tapi nggak bisa bertemu. Itulah yang disebut cinta pertama.
Percaya nggak percaya, perasaan terhadap cinta pertama selalu membekas dalam hati. Walaupun keberadaannya terasa samar, tapi dia masih ada. Seringnya berada di sudut terdalam hatimu. Dan hanya akan benar-benar terasa kembali saat kamu terkenang tentangnya atau bertemu dengannya. Beda dengan pacar pertama. Kalau aku, yang membekas adalah perasaan kesal karena dia dulu begitu mengacuhkanku (ahh… curhat lagi).
Seringnya juga, pacar pertama hanya akan menjadi perasaan saja tanpa adanya realisasi hubungan. Jadi, kita hanya jatuh cinta terhadap seseorang. Tetapi kita tidak pernah memiliki orang tersebut. Entah karena cinta bertepuk sebelah tangan atau karena tidak berani untuk mengungkapkan. Ya. Semacam jatuh cinta diam-diam.
Itulah perbedaan cinta pertama dan pacar pertama menurutku. Mungkin banyak dari kalian nggak setuju denganku. Tapi, itulah pendapatku. Seperti apa pendapat kalian, itu terserah kalian. Karena setiap orang selalu mempunyai sudut pandang berbeda dengan orang lain.
Anis

^_^