Google+ Badge

Selasa, 08 September 2015

Tentang Hujan





Aku menatap kelas dihadapanku yang saat ini kosong. Terkesan hampa. Bukan hanya karena tanpa penghuni, mendung yang menghiasi langit sore ini menambah kesan hampa tersebut. Sesekali petir bersahutan di langit.

Ahh... aku benci hujan. Menurutku hujan adalah simbol kesedihan. Langit seakan sedang menangis. Setiap kali hujan turun, perasaanku pasti berubah jadi nggak enak.

Seperti sore ini. Sepertinya aku kurang pandai memilih waktu untuk datang ke sekolah. Karena segala kenangan yang ada di dalamnya yang membuat separuh hatiku menghilang selama delapan tahun ini, ditambah hujan. Kombinasi yang tepat untuk membuatku sedih.

Aku menatap kelas sekali lagi. Ya. Ini adalah kelasku delapan tahun lalu. Kelas dimana penuh dengan kenangan tentang masa putih abu-abu, teman, sahabat dan cinta pertama. Disinilah kami menghabiskan masa bersama.

Aku seperti mendapati diriku dan dia duduk berdampingan di bangku nomor dua dari depan, dekat jendela. Dia tertawa, khasnya dia. Tawa keras yang renyah dan membuat siapapun yang mendengarnya ikut tertawa bersama.

Tujuanku kemari? Jangan tanya. Aku sendiri juga bingung. Kenapa dari sekian banyak tempat di kota ini--yang sudah kutinggalkan selama empat tahun--aku memilih untuk datang kemari. Dan membiarkan ribuan kenangan menyerbu keluar tanpa ampun. Ribuan kenangan yang sekarang menyerangku bersamaan, membuat dadaku sesak dan seketika mataku terasa panas.

Ahh... aku benci perasaan seperti ini. Rasanya dadaku sesak dan nggak enak. Semakin lama disini, bisa-bisa aku mati kehabisan napas. Aku membalik badanku. Menghindarkan pandanganku dari kelas. Di depanku tetes air hujan semakin lebat. Dasar bodoh. Bahkan aku melupakan payung.

Aku menengadah menatap ke langit yang gelap. Air semakin deras berjatuhan. Aku menadahkan tanganku ke tetesan air dari atap. Rasanya dingin. Sedikit membuatku rileks. Tapi, perasaan itu tidak lama berlangsung. Karena dadaku kembali sesak mendapati sosok yang berdiri sekitar lima meter di depanku--di tengah koridor penghubung kelas.

Walaupun derasnya air hujan membuat pandanganku buram, tapi aku tahu kalau itu adalah dia. Dia, pusat sakit hatiku. Dia, penyebab kekosongan di dadaku. Dia... yang saat ini pun masih membuat dadaku berdegup tanpa ampun.

Seakan tanpa dosa, dia tersenyum ke arahku. Menyebalkan!

2 komentar:

  1. Selalu suka macam bentuk tulisan tentang putih abu-abu. Ah, terima kasih telah menulis ini, terima kasih telah mengingatkan kembali masa itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaa... Karena banyak banget kenangan di dalamnya, maka nggak akan bisa dilupain.
      Terima kasih kembali Firman atas komentarnya.

      Hapus