Google+ Badge

Rabu, 25 Februari 2015

COMPLICATED Part 5



Aku menatap sekali lagi bayanganku dalam cermin. Blus putih polos sebagai atasan yang kumasukkan dalam rok lipat sebatas paha warna pink lembut. Stoking warna hitam membalut kakiku dan diakhiri dengan stiletto warna senada dengan rok yang kupakai. Rambut sebahuku yang kuwarnai dark brown kubiarkan tergerai. Ku menatap wajahku yang bermake-up tipis natural andalanku. Sempurna.
Samar-samar aku mendengar suara ribut dari bawah. Ini di rumahku ada apa, sih? Pagi-pagi begini sudah heboh saja. Masa iya pagi buta begini ada tamu? Aku menyahut shoulder bag warna moka dan expanding file tote bag warna biru tua dari atas meja kerjaku. Setengah berlari aku keluar dari kamar dan menuruni tangga karena penasaran dengan kegaduhan di rumahku yang baisanya damai ini.
Ruang makan mendadak sepi begitu suara stilettoku yang beradu dengan lantai terdengar. Semua menatap ke arahku. Mood baikku mendadak jadi ngedrop begitu melihat sesosok manusia yang saat ini sangat tidak ingin aku lihat berada di antara keluargaku. Terlebih saat dia tersenyum cerah ke arahku. Lupa apa, ya, sama kata-kata menyebalkan yang dia ucapkan semalam?
“Ngapain kamu di sini?” Kata itu refleks keluar dari mulutku karena rasa kesal yang muncul saat mengingat kejadian semalam.
“Rhea?” Mama menegurku dengan keras. “Nyapa yang baik. Kalau nggak ada Arsa semalam, kamu nggak bisa pulang, lho.”
“Bisa. Aku semalem udah mau masuk mobil temanku saat tiba-tiba orang ini muncul.” Jawabku dengan nada ketus.
“Siapa?” Tanya Mama dengan mata memicing curiga. “Si cowok cantik kemarin itu?”
Ares terbahak saat Mama mengucapkan kalimat barusan. Sedangkan Arsa tersenyum dan Papa tetap asyik dengan korannya. Sedangkan aku, menatap Mama dengan wajah syok melongo. Itu Mamaku yang barusan bilang? Ibu Amara Damanto yang ngakunya anak priyayi dari Jogja itu? Astaga! Sulit dipercaya. Pasti Eyang Kakung yang bernama belakang Notonegoro itu bakal syok melihat anaknya yang sekarang ini. Apa karena sudah nggak menyandang nama Notonegoro lagi, maka sikap Mama jadi agak-agak nggak sopan begitu? Ah! Lupakan!
“Mama!” Aku berseru dengan gemas.
“Bukan cowok cantik kali, Ma. Tapi barby boy.” Sahut Ares yang membuat tawa Arsa meledak. Sialan!
“Ares! Jaga itu mulut, ya.” Aku berseru keras pada Ares.
“Sudah! Kalian ini. Lagi di meja makan juga.” Papa menengahi. Melipat korannya lalu meletakkan di meja. Kemudian mengucapkan kalimat yang membuat jantungku hampir lepas. “Duduk, Rhea. Hari ini kamu berangkat sama Arsa. Mobil kamu Papa bawa ke kantor.”
“Nggak bisa! Papa, kan ada mobil sendiri.” Aku menolak mentah-mentah perintah Papa.
“Mobil Papa masuk bengkel dari kemarin.” Jawab Papa kalem sambil menerima sepiring nasi goreng dari Mama.
Aku duduk dengan sedikit hentakan. Aku menatap Papa dengan curiga. Kalau Ares dan Mama sengaja ngerjain aku kemarin, itu wajar. Tapi kalau Papa juga ikut-ikutan, ini namanya nggak wajar. Tapi sepertinya wajah Papa nggak lagi berbohong.
“Tapi Rhea, kan, lembur, Pa.”
“Ya biar dijemput lagi sama Arsa. Bisa kan, Arsa?” Papa berkata sambil menatap Arsa.
Arsa menjawab dengan sopan, “Tentu, Om.” Kemudian melemparkan senyum menyebalkan padaku.
Dan hal itu, menambah daftar alasan kenapa aku harus membenci cowok yang bernama Arsa itu. Menyebalkan!
───

Aku menghembuskan napas lega saat membuka pintu mobil Arsa. Semoga ini untuk yang terakhir kalinya aku keluar dari mobil ini.
“Ngapain kamu ikut keluar?” Aku berseru saat melihat Arsa ikut keluar dari mobilnya.
“Cuma mau pastiin kalau kamu masuk ke kantor dengan selamat.” Jawabnya santai.
Aku tersenyum sinis. Kayaknya bukan itu alasannya. “Kalau alasan kamu turun dari mobil agar dilihat Mas Asta kalau kamu antar aku, itu percuma. Karena Mas Asta itu nggak satu kantor denganku.” Wajah Arsa memerah mendengar perkataanku. Aku asumsikan kalau tebakanku itu benar. Sekali lagi aku tersenyum sinis kemudian meninggalkan Arsa dan mobilnya tanpa ucapan terima kasih. Toh bukan aku juga yang memintanya untuk mengantarku kerja.
“Widih. Pacar baru, Mbak? Ganteng banget.” Seru Amel dengan mata menatap takjub ke arah Arsa yang saat ini tersenyum ke arah kami sesaat sebelum masuk mobil.
Benar juga, sih, yang dibilang Amel barusan. Kalau dilihat-lihat, Arsa memang terlihat ganteng dengan setelan baju kerjanya. Sebentar, apa ini artinya itu orang bakal lama di Surabaya? Apa dia bekerja di sini? Oh tidak! Aku pikir dia dan keluarganya hanya liburan. Sial!
“Ganteng, sih. Tapi nyebelin.” Jawabku. Aku berjalan mendahului Amel untuk masuk ke kantor. Amel itu adalah sahabatku yang sudah seminggu ini nggak bertemu denganku karena dia ambil cuti. Dialah orang yang membawaku masuk ke Harsono Clothing. Dia sendiri bekerja di bagian marketing. Kami bersahabat sejak SMA. Dia itu satu-satunya orang lain (di luar keluarga) yang dekat denganku. Karena nggak banyak orang yang mau dekat denganku. Aku bukan tipe orang ramah yang mudah berteman dengan siapa pun. Mungkin karena sikap cuekku yang cenderung jutek itulah maka nggak ada orang yang mau dekat-dekat denganku.
By the way, mana oleh-oleh dari Singapore?” Aku menodong Amel. Dia menyerahkan paper bag coklat berukuran sedang ke arahku. Aku menerimanya dengan senyum lebar dan ucapan terima kasih.
“Kiranya, ada hubungan apakah antara Rhea Damanto dan lelaki tampan yang mengantarnya kerja barusan?” Amel berkata dengan gaya bicara Feni Rose saat membawakan acara gosip. Aku tertawa sambil menoyor pipinya.
“Norak! Udah, ah, mau nyiapain materi buat rapat entar sore.”
“Duh… yang mau ketemu Mas Asta.” Goda Amel lagi. Dia mneyikut-nyikut lenganku dengan heboh.
“Apaan, sih?”
“Jadi, Asta Praditta ataukah laki-laki yang kedapatan mengantar Rhea Damanto itu yang akhirnya akan dipilih untuk menjadi tambatan hatinya?” Lagi-lagi Amel berkata dengan logat Feni Rose.
“Ameeell?” Aku berseru dengan kesal. Belum sempat aku menjitak kepala itu bocah, dia sudah keburu ngacir ke lantai tiga. Dasar sableng!
Keingintahuan Amel mengenai Arsa nggak berhenti sampai di situ. Selama jam kerja aku diteror pesan WhatsApp, line, BBM bahkan SMS (masih ya, hari gini memakai layanan sms untuk kirim pesan) darinya yang menanyakan siapa cowok yang tadi pagi mengantarku. Lebih gilanya, dia sempat-sempatkan main ke mejaku disaat aku sibuk menyiapkan materi rapat sore nanti. Kalimatnya masih sama, “Siapa cowok yang nganter kamu pagi tadi?”
Puncaknya sepuluh menit lalu. Tepat jam duabelas siang Amel menghampiri mejaku untuk mengajak makan siang bersama. Padahal aku tahu betul dia punya tujuan lain. Jadilah sekarang kami duduk berhadap-hadapan di sebuah warung Soto Lamongan yang terletak di depan kantor.
So, siapa cowok tadi pagi?” See? Amel langsung menodongku begitu kami duduk.
“Cowok tadi namanya Arsa. Dia teman kecilku, anak sahabat Mama. Aku dijodohin sama dia.” Aku menjawab dengan lirih.
 “WHAT?
Aku langsung membungkam mulut Amel. Dia lupa apa, sih, kalau saat ini warung Soto tempat kami makan siang sedang penuh sesak?
Amel melepas tanganku dari mulutnya. “Kamu…. Seorang Rhea… dijodohin?” Amel berkata dengan suara berbisik. Setelahnya dia terbahak. Sungguh menyebalkan!
“Terus, nasib perasaan kamu ke Mas Atsa, gimana?” Tanya Amel masih dengan sisa tawanya.
“Karena itu, Mel. Kalau dari apa yang dilakukan Mas Asta semalem, kayaknya dia mulai tertarik sama aku, deh.”
Wait! Yang dilakukan Mas Asta semalam? Kamu… sama dia nggak─”
Aku berdecak kesal. Si Amel ini memang drama banget. Pemikirannya suka ajaib. “Nggak seperti yang kamu pikrikan, Amelia.” Sahutku dengan sebal. “Yang jelas, dari tatapannya aku melihat ketertarikan.”
“Kalau aku jadi kamu, kayaknya lebih pilih si Arsa, deh.”
Aku melempar tatapan minta penjelasan pada Amel.
“Oke. Mas Asta memang lebih ganteng, lebih putih, lebih terawat. Tapi, apa kamu nggak merasa risih dengan hal itu? Masa nanti kamu bakalan nyalon bareng dia? Kalau Arsa, aku yakin dia nggak akan mau perawatan di salon. Kecuali nungguin kamu nyalon, mungkin.” Amel berhenti sejenak saat Soto pesanan kami datang. Dia mengucapkan terima kasih pada pelayan warung kemudian melanjutkan, “Apa kamu nggak ngerasa kalau sebagai cowok, Mas Asta itu terlalu kinclong?”
Mama ngasih panggilan Mas Asta cowok cantik. Ares, barby boy. Dan sekarang Amel bilang terlalu kinclong? Ini ada apa dengan mata mereka, sih? Perasaan Mas Asta baik-baik saja. Oke, memang Mas Asta itu tipe-tipe cowok metroseksual yang memperhatikan banget penampilan. Tapi bukan berarti dia ‘aneh’, kan?
“Emang kenapa? Kan kamu tau kalau aku suka sama cowok yang bersih, rapi dan wangi. Dan Mas Asta memenuhi hal itu. Lagi pula, dari apa yang aku lihat, Mas Asta nggak aneh kayak yang kamu pikir, kok. Dia gentle.” Aku nggak terima mendengar Mas Asta diremehkan.
“Aku kan nggak bilang Mas Asta aneh. Justru malah kamu yang tanpa disadari memberi label aneh sama Mas Asta. Itu artinya kamu setuju sama yang aku bilang. Apa yang aku katakana tadi, kan, hanya pendapatku. Mungkin saja bisa salah.” Kata Amel kemudian nyengir.
Huh! Menyebalkan. Ini yang nggak aku suka dari Amel. Terkadang mulutnya itu pedas banget kalau lagi mengomentari orang lain. Kata-katanya memang nggak nyakitin, tapi makna dibaliknya yang bikin hati panas.
Daripada debat kusir berkepanjangan yang kalau diteruskan bisa jadi berantem, maka aku memilih diam dan mulai memakan nasi Soto-ku.
───

“Baiklah. Sampai bertemu di acara pembukaan festival besok lusa. Saya mengharapkan kehadiran Anda semua. Terima kasih untuk hari ini, selamat malam.”
Aku menghembuskan napas lega saat Bu Siska mengakhiri rapat malam ini. Rapat terakhir sebelum pembukaan festival besok lusa. Aku melirik Mas Asta yang sedang berdiskusi dengan Bu Siska. Belum ada tanda-tanda dia akan pulang. Ahh… harapan untuk mendapat tebengan pulang pupus sudah. Apa lagi yang bisa kulakukan kecuali minta satpam kantor buat mencarikan taksi. Maka, aku menyampirkan shoulder bag di bahu. Dan mendekap expanding file tote bag dalam pelukan.
“Bu Siska, Mas Asta, saya pulang duluan.” Pamitku pada Bu Siska dan Mas Asta. Mereka serempak menoleh ke arahku.
“Hati-hati, Rhe.” Seru Bu Siska yang hanya kutanggapi dengan senyuman. Sedangkan Mas Asta nggak berkata apa-apa, justru malah mengembalikan tatapannya ke layar laptop. Hatiku mencelus menyadari itu. Segitu nggak pentingnyakah diriku dimatanya? (Oke, drama)
Lampu Harsono butik sudah dimatikan semua karena memang sudah jam sebelas malam lebih. Dengan agak-agak takut aku berjalan menuju lorong sebelah butik yang memang dijadikan jalan untuk orang-orang kantor (jadi, orang kantor kalau mau keluar masuk dilarang melewati pintu Harsono butik).
Angin kencang menyambut begitu aku membuka pintu lorong. Sampai aku harus memegang erat rokku yang tertiup angin. Aku sedang celingukan mencari keberadaan Pak Imin, satpam kantor, saat sebuah suara berseru memanggilku.
“Rhea?”
Aku menoleh ke arah suara tersebut. “Eh.. Mas Asta. Butuh data yang ada padaku?”
Mas Asta menghampiriku setengah berlari. Napasnya terlihat ngos-ngosan. Apa itu artinya dia lari dari lantai tiga? Buat apa? Buat mengejarku?
“Bukan. Kamu nggak bawa mobil, kan? Bareng aku aja, yuk.”
Ini dia yang aku tunggu-tunggu dari tadi. “Berhubung memang nggak dijemput, aku mau deh.” Kataku sambil menyelipkan rambut sebahuku yang berantakan tertiup angin ke belakang telinga. Mas Asta tersenyum, kemudian tangannya melakukan gerakan yang mengisyaratkan aku untuk jalan. Kami berjalan santai bersisian menuju mobil Mas Asta yang terparkir di ujung halaman.
“Besok malam ada acara, Rhe?”
Aku menoleh untuk menatap Mas Asta, tanpa berkata apa pun. Karena aku tidak menanggapi, Mas Asta berkata lagi. “Ada film yang aku pengen tonton. Mau nemenin?”
Apa barusan itu bisa kuartikan sebagai ajakan kencan? Hei… jangan bilang aku terlalu PD. Karena faktanya kami bukan teman yang sudah kenal baik. Jadi, kalau dia mengajakku dengan alasan pertemanan, rasanya itu nggak masuk akal. Apalagi mengingat apa yang dia lakukan padaku semalam di parkiran.
“Boleh.” Kataku akhirnya dengan nada kalem. Padahal dalam dadaku bergemuruh hebat.
Aku hampir meloncat saat terdengar bunyi klakson beruntun dari arah mobil yang kami lewati. Aku menoleh ke arah mobil tersebut. Arsa keluar dari mobil dengan wajah gelap. Saat itu juga aku baru ingat apa yang dibilang Papa tadi pagi, kalau malam ini Arsa akan menjemputku. Tapi aku kan nggak bilang mau pulang jam berapa.
“Apa gunanya punya handphone kalau ada yang telepon nggak diangakat?” Arsa berkata dengan suara keras. Aku sampai menutup kedua telingaku. “Kamu tau berapa lama aku nunggu di luar?”
“Nggak usah teriak-teriak. Aku kan nggak suruh kamu buat jemput. Udah, aku mau pulang.” Kataku dengan berteriak juga karena terpancing sikap Arsa.
“Ayo, Mas.” Aku menarik tangan Mas Asta untuk menjauh dari Arsa. Tapi, baru beberapa langkah aku merasakan sebuah tangan menarik lenganku. Arsa memaksaku untuk mengikutinya.
“Nggak kayak begini caranya memperlakukan cewek.” Mas Asta berkata dengan tenang kemudian melepaskan cengkeraman tangan Arsa dari lenganku. Karena saking syoknya dengan apa yang terjadi barusan, aku hanya bisa melongo melihat kelakuan dua orang di depanku ini.
Arsa mengatupkan rahangnya kuat. “Apa lo nggak punya urusan yang lebih penting dari mengurusi urusan orang lain? Apapun yang gue lakuin ke cewek gue, itu bukan urusan lo!”
Aku semakin melongo mendengar perkataan Arsa. Ceweknya? Maksudnya aku? Apa dia sudah gila?
Kemudian Arsa meraih tanganku dan menarikku paksa masuk ke mobilnya. Mas Asta hanya berdiri mematung menatap kepergian kami. Tanpa berusaha mencegah lagi. Tanpa berkata apa pun. Aku menatap Arsa dengan sebal. Rasanya ingin sekali mencakar mukanya itu sampai babak belur.
Kami hanya saling diam selama dua puluh menit di dalam mobil. Begitupula saat mobil Arsa berhenti di depan rumahku. Tanpa berniat mengucapkan terima kasih, aku membuka seat belt kemudian membuka pintu untuk turun dari mobil. Sampai aku teringat suatu hal. Sepertinya aku harus meluruskan suatu hal.
“Seperti yang aku udah bilang ke kamu kemarin, aku menolak perjodohan kita. Jadi, perkataan yang kamu bilang ke Mas Asta tadi jangan diulangi lagi. Aku menyukai dia. Dan aku harap, kamu ngerti dengan keputusanku.” Kataku dengan tenang.
Arsa tidak menanggapi. Dia hanya menatapku lekat-lekat dengan ekspresi wajah yang sulit kupahami. “Mulai besok nggak usah repot-repot buat antar jemput aku ke kantor. Tolak saja kalau keluargaku yang minta.” Lanjutku akhirnya.
Mata Arsa berubah nyalang. Dalam gerakan cepat kedua tangannya meraih wajah dan pinggangku dalam waktu bersamaan. Yang kurasakan selanjutkan bibirnya menyentuh bibirku dengan keras. Arsa menciumku dengan kasar. Detik pertama aku syok tanpa melakukan apa-apa. Kemudian detik selanjutnya aku mendorong keras tubuh Arsa. Entah karena memang tenaganya yang jauh diatasku atau karena emosi yang menguasainya, berusaha melepaskan diri dari tubuh Arsa saat ini sama sulitnya dengan berusaha lolos dari lilitan anaconda.
Hatiku sakit mendapati perlakuan Arsa yang kurang ajar padaku. Tidak sampai satu menit, Arsa melepaskan bibirnya dari bibirku karena mendengar isakku. Saat itulah aku memanfaatkan situasi dengan mendorong kuat tubuhnya untuk menjauh dari tubuhku. Tanpa berkata apa pun lagi aku keluar dari mobilnya dan berlari ke dalam rumah.
───



4 komentar:

  1. hmm, flash fictionnya keren juga :)
    panjang lagi, lumayan buat dipake tugas b.indo kalau ada :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan flash fiction, darling. Ini cerita seri. Bahasa jadulnya cerbung. Ati-ati aja asal nggak ketahuan guru kamu kalau ngejiplak saya. Lagian flash fiction mah bukan begini

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus