Google+ Badge

Senin, 23 Juni 2014

Book Review: Dear Friend with Love




Judul : Dear Friend with Love
Genre : Fiksi Romance
Penulis : Nurilla Iryani
Penyunting : Herlina P. Dewi
Desain Cover : Teguh Santosa
Layout Isi : DeeJe
Proofreader : Tikah Kumala
Penerbit : Siletto Book
Terbit  : 2012
Tebal : 146 halaman
ISBN : 978-602-7572-07-2


Dear Friend with Love adalah novel Nurilla Iryani sebelum The Marriage Roller Coaster. Menceritakan tentang cinta terpendam Karin terhadap sahabat delapan tahunnya, Rama. Perasaan yang sudah sejak lama dia rasakan. Tapi nggak ada nyali buat menyatakan. Eh? Nggak juga sih, kayaknya lebih ke harga dirinya sebagai cewek yang nggak mengizinkan untuk menyatakan.
Padahal Karin itu sudah sangat perfect banget, lho. Cowok mana pun nggak akan bisa nolak, deh. Termasuk si Rama itu. Badannya oke, cantik, mandiri, sukses sebagai bisnis woman. Karin punya butik yang laris manis. Cuma satu kekurangannya, nggak punya pacar.
Selama bertahun-tahun Karin harus rela menerima kepahitan, setiap kali Rama mengenalkan cewek-ceweknya ke Karin. Sebenarnya, Karin nggak terlalu khawatir karena selama ini cewek-cewk itu cuma numpang lewat doang. Tapi, Karin merasa benar-benar terancam saat Rama menceritakan cewek teranyarnya dengan mata berbinar. Namanya Cicit. Eh? Astrida Irsyad maksudnya. Seorang model terkenal yang super duper cantik, tapi menurut Karin berbadan tipis. Hahaa… Si Karin kalau ngomong emang suka ngasal.
Agak heran juga sama si Rama. Masa ngasih panggilan sayang ke pacar Cicit, sih. Si Astrida juga, mau aja gitu dipanggil Cicit. Kalau kata si Karin, Cicit itu kayak nama curut.
Karin benar-benar kehilangan harapan untuk bisa mendapatkan Rama, setelah Rama mengungkapkan keinginannya untuk menikah dengan Cicit. Selama Karin mencintai Rama, disaat Rama ingin menikah dengan Cicit itulah puncak sakit hati Karin.
Dan, disaat Karin sudah putus asa dengan cinta terpendamnya terhadap Rama, muncullah Adam. Teman kecil Karin saat dia tinggal di Amerika. Cinta monyet Karin. Sekarang berubah jadi cowok perfect. Mereka dijodohkan oleh orangtua mereka. Iya. Dijodohkan. Orangtua Karin merasa anaknya itu sudah cukup umur untuk menikah, tapi nggak punya pacar juga. Makanya mereka menjodohkan Karin dengan Adam. Ya iyalah, orang masih nunggu Rama.
Rama sibuk dengan persiapan pernikahannya dengan Cicit, sedangkan Karin sibuk dengan perjodohannya dengan Adam. Emm, lebih tepatnya Adam yang PDKT, sih. Dan Karin nggak menolak saat Adam menembaknya. Ughh.. siapa juga sih, yang dengan bodohnya akan menolak cowok kayak Adam? Udah ganteng, keren, badan atletis, mapan, baik. Kurang apa, coba?
Yang bikin aku geregetan adalah, si Rama menunjukkan sikap jealous-nya saat Karin mengatakan bahwa dia pacaran dengan Adam. Apa maksudnya coba? Apa kabar dia dengan Cicit? Ehh…eh.. kok jadi aku yang emosi. Satu lagi, aku sebel banget sama sikap PD Rama yang luar biasa gedenya itu. Bikin aku pengen ngejitak kepalanya pakai pisau.
Semakin mendekati hari pernikahannya, Rama malah merasa semakin nggak yakin melakukannya. Dia merasa ada yang salah dengan keputusannya. Dia baru menyadari bahwa ternyata ternyata dia mencintai Karin. Dia nggak rela Karin bersama cowok lain. Parahnya, Cicitlah yang pertama kali menyadari hal itu. Maka dia membatalkan pernikahannya dengan Rama. Cicit jugalah yang menyadarkan Rama kalau ternyata cewek yang diinginkan Rama adalah Karin.
Akhirnya Rama menyatakan perasaannya pada Karin. Dia meminta Karin untuk meninggalkan Adam si cowok perfect. Gila aja! Awalnya Karin merasa bahagia karena ternyata perasaannya selama delapn tahun ini terbalas. Maka, dia menurut saja saat Rama meminta dia mengakhiri hubungannya dengan Adam.
Hari dimana Adam akan berangkat ke Arab Saudi untuk kembali bekerja di perusahaan minyak dan gas, Rama mengantar Karin ke rumah Adam untuk mutusin Adam. Di situlah Karin mencoba memahami perasaannya sendiri. Siapa yang lebih dia inginkan dan dia butuhkan. Dia ngobrol banyak sama Adam. Tentang perasaannya, tentang hubungannya ke depan dengan Adam. Adam coba memberikan Karin pengertian, dan akhirnya berhasil meyakinkan Karin. Kemudian, Karin memilih Adam untuk menjadi masa depannya dan membiarkan Rama tetap sebagai sahabatnya.

Aku selalu suka dengan gaya bahasa yang digunakan Mbak Nurilla ini. Bahasanya tuh ringan, mudah di pahami. Ya kayak ngomong sehari-hari begitulah. Sama satu hal yang aku suka dari buku ini, bahasanya lucu. Kalimat-kalimatnya sering bikin aku senyum bahkan sampai tertawa saat membacanya. Suka deh pokoknya.
Dan, ini dia quotes-quotes favoritku dari buku Dear Friend with Love:
1.      Salah satu hal klasik dalam relationship adalah… Woman always has problem with guy time. (hal: 23)
2.      Emang kalau jomblo kenapa, Ram? Kadang orang milih buat jomblo karena bisa bahagia dengan dirinya sendiri. Jadi nggak perlu mencari kebahagiaan dari orang laim. (hal: 66)
3.      Gue akuin juga kalau ketidakwarasan Karin bikin gue tetap waras menjalani hari-hari di ibukota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri ini. (hal: 85)
4.      Remember this guys: Kalau lo sedang ada masalah dengan cewek lo, jangan ajak dia ke tempat ramai. Cewek Nggak akan segan-segan nangis di tempat umum dan membuat lo tampak seperti seorang ibu tiri Cinderella yang jahat. (hal: 95)
5.      Bukankah yang ingin dicapai semua orang adalah kebahagiaan? Kalau kamu udah berhasil dapet, kenapa kamu lepas cuma karena kamu nggak yakin? (hal: 144)

Kalau ini kalimat kocak yang bikin aku tertawa (cuma sebagian sih, soalnya banyaaak banget kalimat kocak yang bikin ketawa. Takut nggak muat kalo aku tulis semua.. J):
1.      Tapi, karena aku tinggal di Indonesia Raya yang penuh dengan tante-tante rese yang hobi menanyakan, “Kapan nikah?” dan berujung dengan heboh menjodohkanku sana-sini saat tahu aku masih single. Mereka selalu bilang, “Jangan terlalu pilih-pilih.”
Helloooo, beli dondong saja milih, apalagi cari suami. (hal: 1)
2.      Kalau dilingkungan gue, ini sering banget gue lihat saat Jumat sore, jadwalnya gue futsal bareng anak-anak kantor. Selalu ada temen-temen gue yang nggak bisa ikutan karena nggak mau pacarnya marah kalau nggak ketemuan. Man, laki apa banci lo? Hari gini takut sama perempuan? Besok-beosk lo disuruh nyambel di dapur! (hal: 23)
3.      Nada Karin sinis tingkat dewa. Dan saat menatap gue, matanya itu lho, lebih tajem dari mata macan laper ngeliat kambing montok. (hal: 86)



Sekian review dariku. Thanks for reading. - _ -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar