Google+ Badge

Sabtu, 02 Mei 2015

Senja Maya



Aku menatap perempuan yang saat ini duduk di atas pasir putih pantai Uluwatu. Dia menatap ke satu titik. Tengah laut. Aku menyebutnya perempuan senja. Karena setiap kali melihatnya, adalah saat senja seperti ini. Perempuan itu selalu duduk di dekat tebing setiap harinya. Aku tertarik dengan cara berpakaiannya. Dres selutut motif bunga-bunga kecil.
Hari kedua, perempuan itu berada di tempat yang sama. Memakai setelan pakaian yang sama. Dan hari ini pun, perempuan itu masih di sana. Aku sungguh penasaran. Karena itu aku mendekatinya.
Aku tertegun begitu tiba di dekatnya. Tatapannya lurus menatap jauh ke arah lautan yang airnya mulai menguning terkena terpaan cahaya senja. Dengan langkah ragu aku berjalan mendekatinya. Tapi langkahku tertahan saat mendengar suara seorang laki-laki tua yang duduk tidak jauh dari perempuan itu.
“Biarkan dia sendiri.”
Aku menghampiri Bapak tua yang sedang menyesap tembakau dari batang rokok itu, dan duduk disampingnya. “Namanya Maya. Setiap hari dia berada di situ untuk menunggu Hilman. Suaminya.”
Aku bertanya, “Lalu, kenapa saya tidak pernah melihat laki-laki itu, Pak?”
“Hilman sudah meninggal. Setahun lalu saat dia berselancar dan tenggelam terbawa ombak. Maya tidak bisa menerima kematian Hilman. Karena itu, sejak setahun lalu dia selalu duduk di situ saat senja. Seperti yang dia lakukan semasa Hilman masih hidup. Menunggu Hilman selesai berselancar.”
“Semua berusaha mengajaknya bicara. Menyadarkannya bahwa Hilman sudah tiada. Tapi setiap kali itu terjadi, Maya pasti histeris.” Bapak tua itu berhenti sesaat untuk menyesap rokoknya. “Semua sudah menyerah.
Yang bisa kami lakukan hanyalah membiarkan dia seperti itu. Menikmati caranya mencintai Hilman.”
Tanpa kusadari, pipiku sudah basah oleh air mata. Aku tidak menyangka, bahwa ada orang yang begitu mencintai seseorang sampai membuatnya hilang kesadaran dan tidak mempedulikan sekelilingnya.

Biarkan dia bahagia dengan dunianya. Mungkin, hatinya berkata bahwa hanya Hilman yang pantas untuk ditunggu. Mungkin, memang seperti itulah caranya setia dalam mencintai Hilman, suaminya.

4 komentar:

  1. Brasa nntn bagian film mohabattain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha? Masa?
      Bagian mananya? Pas SD aku juga nonton itu film. Tapi yang bagian mananya?

      Hapus
  2. ini fiksi ato nyata? aku ngerasa bnr2 kyk real soalnya :) bacanya ikut kehanyut...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh... kamu menghayati banget ya? Ini fiksi, kok. Tiba-tiba muncul aja imajiansi tentang Maya ini.

      Hapus