Google+ Badge

Rabu, 23 Oktober 2013

Pieces of the Story ; SENJA TAK LAGI JINGGA




     “Begitu?” Vino tersenyum sinis. Mengusap darah disudut bibirnya. Menghampiri Ramon dan meninjunya tanpa aba-aba. Ramon tersungkur.

     “Vino?” Pekik Laras. Adel tidak bersuara. Hanya diam mematung menatap Ramon dan Vino. Wahid pun tidak menahan mereka lagi. Ini murni masalah mereka. Selama tidak terjadi pertumpahan darah, dia hanya akan diam mengamatinya dengan waspada.

     “Begitu kelakuan lo? Apa yang lo janjiin ke gue dulu. Lo bakal jaga Adel buat gue. Lo tau gue cinta sama Adel, dan lo tega rebut dia dari gue?” Kata Vino dengan nada tinggi. Ramon bangkit. Mendorong tubuh Vino.

      “Lo tau gimana keadaan Adel waktu lo ninggalin dia tanpa penjelasan? Dia hampir gila gara-gara lo, Vin. Dan disaat gue berusaha buat kuatin dia, saat itulah perasaan gue mulai tumbuh. Dan gue sadar kalo gue cinta dia. Saat itu juga gue janji sama diri gue sendiri, nggak akan gue biarin siapapun sakiti dia. Termasuk lo. Dan gue juga lihat perasaan itu dimata Adel.” Jelas Ramon panjang lebar. Suaranya mulai melunak. “Hanya saja….” Ramon menggantung kalimatnya. Matanya berkaca-kaca. Dia menatap Adel nanar. “…..gue nggak lihat mata itu lagi sejak beberapa Minggu yang lalu. Sejak pertemuan pertama kalian di butik. Dan bisa lo bayangin gimana perasaan gue saat denger cerita kalian di Cartil? Saat lo certain apa aja yang kalian lakuin?” Kali ini, Ramon tidak bisa lagi menahan airmatanya. Memalukan! Melukai harga dirinya sendiri. Menangis hanya karena cewek. Didepan semua sahabatnya. Dengan cepat dihapusnya air mata itu. Dia tersenyum sinis.

      “Munafik kalo aku bilang aku bahagia asal kamu bahagia. Aku terluka kalo kamu bahagia sama orang lain.” Ramon menatap mata Adel lekat-lekat. Kemudian berlalu meninggalkan Adel yang berurai air mata. Vino memandangnya nanar. Sahabatnya yang lain menatap iba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar