Google+ Badge

Minggu, 21 Juni 2015

[ Short Story ] COMPLICATED Part 6





Tanganku meraba-raba sekitar masih dengan mata terpejam. Mencari keberadaan iPode yang selalu kugunakan setiap malam untuk memutar musik sebelum tidur (iya, aku nggak bisa tidur kalau nggak ada musik). Begitu mendapatkan iPode-ku, aku membuka mata dengan memicing. Menekan tombol play pada layarnya kemudian menambah volume suara. Berharap lagu All of Me versi Boyce Avenu yang sekarang bergema melalui earphone di telingaku ini bisa meredam suara berisik dari lantai bawah. For God’s sake! Ini hari Sabtu, lho. Dan aku butuh waktu yang lama untuk tidur karena siang nanti aku harus ke Supermal buat persiapan pembukaan festival besok pagi.
Aku kembali terbangun saat mendengar ketukan di pintu kamarku yang lebih mirip dengan gedoran debt collector itu. Siapa, sih, yang rese banget begitu. Biasanya Mama juga masa bodo kalau aku bangun siang pas hari libur. Dengan kesal aku menarik bantal yang kupakai sampai menutupi telinga. Tapi ternyata volume keras di earphone dan bantal yang kugunakan untuk menyumpal telinga ini masih nggak membantu. Akhirnya aku bangun dengan mendengus kesal. Dan dengan kasar melepas earphone dari telinga. Dengan berjalan terseok dan mata setengah terpejam aku membuka pintu.
“Duh! Apaan, sih, Ma? Rhea masih pengen tidur. Nanti siang udah harus ke Supermall, lho.” Semburku begitu melihat wajah Mama.
“Kamu itu. Ini udah jam delapan, lho, Rhe. Bangun kenapa? Lain kali kalau habis subuh jangan tidur lagi. Pamali, tau.” Mama malah mengomeliku.
Aku menggaruk-garuk kepalaku dengan gemas sambil berkata, “Biasanya Mama juga nggak pernah protes. Udah, ah. Rhea mau tidur lagi. Jangan dibangunin kalau Rhea belum bangun sendiri.”
Mama menahan pintu yang akan kututup dengan kedua tangannya. “Nggak boleh tidur lagi. Mandi, dan buruan turun. Ada keluarga Ontowiryo di bawah.”
“Siapa?” Mataku langsung terbuka lebar begitu mendengar perkataan Mama.
“Iya. Dan Mama udah cukup malu karena anak perempuan Mama jam segini belum bangun juga. Buruan mandi. Terus kita sarapan bareng.” Kata Mama kemudian membalik badan dan berjalan menuju tangga.
Keluarga Ontowiryo itu nggak punya kerjaan banget apa, ya? Pagi-pagi buta di hari Sabtu begini sudah berada di rumahku. Demi apa pun, aku nggak mau ketemu Arsa si Kunyuk itu.

Walaupun kesal dan malas banget buat bertemu Arsa, akhirnya aku menurut perkataan Mama juga. Jam setengah sembilan, aku turun dari kamar. Sengaja banget untuk dilama-lamain turunnya. Keluargaku dan keluarga Ontowiryo lagi ngobrol seru sambil tertawa-tawa heboh di ruang keluarga saat aku turun.
“Eh, Rhea. Selamat pagi sayang. Kami ganggu istirahat kamu, ya?” Tante Syarika berdiri dan langsung menyambutku begitu aku tiba di hadapan mereka. Kami melakukan ritual wanita, cipika-cipiki. Emm, lebih tepatnya Tante Syarika sih, yang melakukan itu.
“Nggak kok, Tan. Udah bangun dari tadi.” Bohong banget. “Halo, Om.” Kemudian aku menyapa Om Ontowiryo, tanpa menyapa Arsa. Hal itu membuat orangtuaku dan orangtuanya saling pandang dengan tatapan heran.
“Hai, Rhe.” Arsa menyapaku dengan senyum lebar. Aku hanya menanggapinya dengan senyum tipis yang palsu banget. Sumpah! Saat ini rasanya aku ingin melempar vas bunga di depannya itu kalau nggak ingat ada keluarga kami. Dasar Sengkuni. Jahat banget.
“Karena kamu lama, kami tadi sarapan dulu.” Kata Mama.
“Nggak pa-pa, Ma. Rhea ke dapur dulu buat cari makan.” Kataku kemudian berjalan ke arah dapur.
Di atas meja sudah terhidang nasi goreng dalam mangkuk kaca. Hmm… nasi goreng seafood kesukaanku. Aku menuang satu sendok nasi ke atas piring. Kemudian mulai melahapnya tanpa mempedulikan keberadaan keluarga Ontowiryo.
“Rhe? Habis makan kamu siap-siap, ya.” Mama berseru dari ruang keluarga.
“Buat?” Aku menatap Mama dengan waswas. Filingku menangkap sesuatu yang nggak beres.
“Kita mau ke acara reuni kampus Mama sama Tante Syarika.” Jawab Mama dengan nada ceria. Oh, ternyata acara reuni itu beneran ada, tho? Kirain cuma akal-akalan Mama buat cari-cari alasan perihal dia pinjam mobilku kapan tau itu.
“Duh! Rhea nggak bisa, Ma. Siang ini harus ke Supermall buat persiapan pembukaan festival besok.” Jawabku dengan mulut penuh makanan. Aku melihat Arsa tersenyum saat menatap ke arahku. Sialan! Benar-benar manusia nggak tahu malu.
“Siang, kan, ke Supermal-nya? Acara reuni Mama jam sepuluh ini, kok. Nanti siang kamu boleh pergi, deh. Biar dianter sama Arsa.”
Ini Mamaku cara berpikirnya memang ajaib banget, deh. Di antar Arsa? Nggak akan. Lebih baik aku bayar taksi daripada harus diantar itu Sengkuni.
“Aduh, Ma. Rhea nggak ikut, deh.” Aku masih berusaha membujuk Mama.
“Nggak ada alasan. Masa teman-teman Mama pada bawa keluarganya, Mama nggak sendiri.”
“Kan ada Ares, Ma. Bilang aja Rhea lagi ada kerjaan.” Aku masih berusaha menolak.
“Rhea!” Mama berkata dengan nada yang nggak bisa dibantah. Ditambah lagi pelototan tajamnya yang mengintimidasi itu.
Aku menghembuskan napas sebal. Pasrah. “Oke.” Jawabku dengan malas.
───
Acara reuni kuliah yang Mama bilang tadi, ternyata jauh di luar bayanganku. Aku membayangkan reuni diadakan di sebuah gedung dan dihadiri oleh ratusan atau bahkan ribuan orang. Tapi ternyata, nggak ada seratus orang. Hanya teman-teman satu geng-nya Mama dulu. Termasuk Tante Syarika dan Tante Rita (iya, jadi dulu Mama dan Tante Rita merantau ke Surabaya untuk kuliah, dan disinilah mereka kenal Tante Syarika). Yang bikin banyak adalah keluarga yang mereka bawa. Dan satu lagi, diadakan di rumah seorang teman Mama yang berada di Pakuwon City. Gila, rumahnya gede banget. Kata Mama, si Tante Marini─teman kuliah Mama yang punya rumah ini─adalah istri seorang pengusaha timah sekaligus pemilik perkebunan kelapa sawit yang ada di Bangka.
Rumah Tante Marini bergaya Eropa klasik dengan pilar-pilar tinggi. Ada patung Dewa Yunani berukuran besar yang terletak di tengah-tengah halaman. Kalau aku nggak salah adalah Dewa Zeus. Udaranya juga sejuk karena banyak ditanami pepohonan. Acaranya sendiri diadakan di ruang tamu yang luasnya luar biasa. Ruang tamu rumah Tante Marini ini langsung terhubung dengan halaman samping. Di halaman itu terdapat banyak bunga anggrek dengan berbagai macam warna. Ini pasti koleksi Tante Marini. Ada juga satu set kursi kayu dengan ukiran Jawa di beranda samping. Dan sebuah gazebo dengan atap berupa ijuk, ada di salah satu sudut taman. Keempat tiangnya dililit dengan kain kotak-kotak hitam putih khas Bali. Ini rumah Tante Marini rame budaya, ya, ternyata.
“Rhea?”
Aku menoleh saat mendengar suara Mama. “Ya, Ma?”
“Ini Tante Marini. Teman kuliah Mama dulu. Mar, ini Rhea, anak bungsuku.” Mama memperkenalkanku pada Tante Marini.
“Halo, Tante.” Aku bermaksud menjabat tangan Tante Marini, tapi dia malah menghambur dan mengecup pipiku kanan kiri.
“Halo, Rhea. Kamu cantik banget. Persis kayak Mamamu pas muda dulu.” Tante Marini berkata dengan ceria. Walaupun seumuran Mamaku, tapi Tante Marini ini terlihat lebih muda. Jelas banget kalau Tante Marini mendapatkannya dari perawatan mahal. Matanya sipit khas chinese dengan kulit putih bersih. Saat tertawa, matanya jadi nggak kelihatan. Samar-samar aku mencium wangi mawar menguar dari tubuh Tante Marini. Wangi yang anggun.
“Terima kasih, Tante.” Aku menjawab dengan sopan.
“Kalau saja Ramon belum menikah, Tante mau deh, jadiin kamu mantu.” Tante Marini tertawa. Kemudian beralih ke Mamaku. “Beruntung banget itu si Syarika bakal besanan sama kamu, Andini.”
Besanan? Oh, tenang aja Tante, besanannya nggak bakal jadi. Kalau Mama masih juga ngeyel, biar si Ares saja yang menikah sama Arsa.
“Makan dulu yuk, Rhe.” Tante Marini berkata masih dengan nada cerianya. Aku suka deh sama Tante Marini ini. Kalau berada di dekat beliau, bawaannya jadi happy.
“Iya, Tan. Nanti Rhea ngambil sendiri deh. Mau lihat-lihat anggreknya Tante dulu.” Kataku menolak dengan halus.
“Ya sudah. Mama sama Tante ke dalem, ya.” Mama berkata padaku kemudian menggamit lengan Tante Marini dan berjalan ke dalam.
Mataku kembali tertuju ke gazebo. Aku berjalan menghampiri gazebo. Kemudian duduk di atas tempat duduknya yang dilapisi bantal berwarna krem. Hmm… nyamannya. Aku menegakkan punggungku kemudian memejamkan mata. Mencoba untuk bermeditasi. Lambat laun suara berisik orang berbincang memudar. Aku merasakan semilir angin yang menerpa wajahku. Kemudian yang terdengar hanyalah suara daun saling bergesekan saat tertiup angin. Cicit burung. Langkah kaki…
“Tidur, Rhe?”
Ah, Ares. Coba sehari saja nggak menggangguku. Aku mencoba untuk tidak menggubris Ares yang sekarang duduk disampingku. Aku bisa merasakan hempasan pantatnya di sampingku. Samar-samar aku mencium aroma maskulin parfumnya.
“Aku bawa Panna Cotta, dong.” Ares berkata dengan gaya seperti anak TK yang lagi pamer ke temannya. Tapi, tetap saja aku membuka mata. Seketika itu aku melihat vanilla panna cotta yang disiram dengan saus strawberry kesukaanku.
“Mau!” Aku merebut sendok dan gelas bening yang berisi panna cotta dari tangan Ares. Kemudian mulai melahapnya perlahan. Menikmati setiap sensasi manis, wangi dan asam di lidahku.
“Wah! Rusuh nih si Rhea. Ngambil sendiri woi.” Ares berusaha mengambil panna cotta miliknya dari tanganku.
“Yaela, Res. Sama adik sendiri masa pelit banget.” Aku berkata dengan tampang memelas. Ares berdecak kesal kemudian berhasil mengambil alih sendok dari tanganku. Dan dengan sigap menyendok panna cotta.
“Kayaknya lagi seru, nih.”
Moodku langsung jelek begitu menatap wajah Arsa. Karenanya aku diam saja saat Ares mengambil gelas panna cotta dari tanganku. Arsa kini duduk di samping kananku. Aku langsung berdiri untuk menjauh sejauh-jauhnya dari jangkauan si Sengkuni ini. Dengan gerakan cepat Arsa meraih pergelangan tanganku, untuk menahanku pergi.
“Jangan mulai, deh!” Aku membentaknya dan berusaha melepaskan gengaman tangannya.
“Wow… wow… aku nggak ikutan.” Ares berkata dengan berlebihan sambil mengangkat kedua tangannya kemudian berjalan menjauh dari gazebo.
“Lepasin, nggak!” Seruku kepada Arsa.
“Duduk kalau nggak mau jadi bahan tontonan.” Arsa mengancamku. Karena sadar akan hal itu, aku menurut dan kembali duduk di sampingnya. Seketika itu juga Arsa melepaskan tangannya dari tanganku.
Suasana hening dan menjadi canggung. Arsa berdehem sesaat sebelum berbicara. “Soal semalam… aku minta maaf.”
Aku tersenyum sinis sebelum menanggapi. “Enak banget, ya? Habis kurang ajar begitu, dengan gampangnya minta maaf. Terus, besok-besoknya kalau kurang ajar lagi, juga bakal minta maaf kayak barusan? Kamu itu nggak pernah diajari cara menghargai perempuan ya, sama Mama kamu?”
Rahang Arsa mengeras. Lalu dia menghembuskan napas berat sebelum menjawab. “Yang aku lakuin semalam itu memang kurang ajar. Karena itu aku minta maaf. Aku juga nggak tau kenapa─”
Arsa langsung terdiam saat tanganku menampar keras pipinya. Jangan menjudgeku karena melakukan hal itu. Aku rasa tamparan itu masih nggak sepadan untuk menghukumnya atas apa yang dia lakukan padaku semalam. Dia melukai harga diriku. Dan itu menyakitkan. Kalau kalian wanita, pasti kalian mengerti dengan apa yang aku rasakan.
Oke. Sepertinya aku menyesali apa yang aku lakukan barusan. Bukan karena merasa bersalah pada Arsa, terlebih karena aku berhasil merebut perhatian teman-teman kuliah Mama. Ternyata suaraku saat memaki Arsa tadi kelewat keras sehingga membuat orang-orang yang ada di dalam ruangan mengamati kami. Dan saat aku menampar Arsa tadi, Mamaku dan Tante Syarika melihatnya. Ini yang bakal jadi masalah. Karena saat ini aku melihat mereka berjalan ke arahku dengan tergesa. Mama dengan wajah murkanya dan Tante Syarika dengan wajah khawatirnya.
“Kamu ini apa-apaan sih, Rhea? Bikin malu Mama saja. Memangnya Arsa ngapain sampai kamu kurang ajar padanya begitu.”
Apa? Aku yang kurang ajar?
“Ma, bukan Rhea yang kurang ajar.”
“Minta maaf!” Mama berkata dengan nada yang nggak bisa dibantah. Sampai mati aku nggak akan melakukannya. Karena bukan aku yang bersalah.
“Arsa yang salah Tante. Arsa yang sudah kurang ajar sama Rhea.” Si Kunyuk yang duduk di sampingku itu berkata dengan tampang menyesal.
“Kurang ajar… bagaimana?” Tante Syarika menatap Arsa dan aku bergantian.
“Arsa─”
Tidak boleh ada yang tahu!
“Rhea mau pergi. Udah telat ke Supermal-nya.” Aku memotong perkataan Arsa kemudian berdiri dan meninggalkan Mamaku, Tante Syarika dan Arsa.
Semua orang menatap kepergianku. Tidak sedikit yang berkasak-kusuk saat aku melewati mereka. Duh! Kayak sinetron, deh. Ini sungguh memalukan. Aku yakin, sesampainya aku di rumah nanti, Mama masih akan menceramahiku. Biarlah! Yang jelas, sekarang aku ingin jauh-jauh dari si Kunyuk Arsa itu. Berada di dektanya membuat kesehatanku akan terganggu karena keseringan emosi.

───

Tidak ada komentar:

Posting Komentar