Sabtu, 14 Maret 2015

Berhenti Mengeluh, dan Lanjutkan Hidup




Sebagai manusia, kita akan lebih banyak mengeluh daripada bersyukur. Dulu, aku pikir hidupku sudah sangat bahagia. Memiliki keluarga yang lengkap, walaupun segala kebutuhan nggak serba lebih tapi bisa disebut cukup dan nggak kekurangan-lah. Kemudian, terjadilah tragedi Mei 1998. Usiaku masih tujuh tahun, sih, tapi aku ingat betul bagaimana jatuhnya usaha milik orangtuaku yang mengakibatkan hidup dari yang serba kecukupan menjadi serba kekurangan.

Sejak saat itu, keadaan ekonomi keluargaku nggak pernah membaik sampai sekarang. Kami lebih mirip lima orang yang hidup di satu rumah, tapi membiayai hidup masing-masing. Kami semua bekerja. Kami semua membiayai hidup masing-masing dari kami. Orantuaku, mereka menghidupi diri mereka berdua. Kami, tiga anak orangtuaku, memang tetap membantu kebutuhan finansial orangtua, tapi nggak seberapa. Itu pun kalau ada lebih setelah kebutuhan kami terpenuhi.

Kemudian, beberapa tahun yang lalu, aku didiagnosis sakit yang lumayan menakutkan untuk kaum wanita. Memang nggak parah, sih. Tapi, kalau dibiarkan saja sakit itu bisa mengancam nyawaku. Aku syok. Aku takut. Aku nggak ikhlas. Aku menyalahkan semua orang. Aku menyalahkan diriku sendiri. Aku menyalahkan keadaan. Kenapa harus aku yang menderita sakit itu? Kenapa nggak mereka para orang kaya saja? Kenapa nggak mereka yang selalu berbuat jahat saja? Banyak sekali pertanyaan kenapa dikepalaku. Kemudian aku menjalani beberapa pengobatan. Mulai dari pengobatan medis sampai pengobatan alternatif juga kujalani. Semoga sakit itu benar-benar smebuh dan nggak akan muncul lagi.

Kemudian, saat ini. Aku hidup sendiri di Surabaya. Membiayai hidupku sendiri. Menjaga diri sendiri. Terkadang aku suka mengeluh saat pulang kerja, capek, tapi masih harus membereskan kamar yang kutinggalkan dengan berantakan tadi paginya. Menyiapkan makan untuk diri sendiri. Apalagi kalau sakit, sudah nggak ada yang merawat, nggak ada yang ngantar ke dokter, nggak ada yang kasih makan. Rasanya nelangsa banget.

Awalnya, aku selalu mengeluh atas tiga hal di atas, nggak bisa menerima bahkan seringkali banyak muncul pertanyaan ‘kenapa harus aku?’ dalam kepalaku. Tapi, seiring berjalannya waktu. Seiring bertambahnya usia, aku jadi banyak berpikir. Bahwa segala sesuatu yang aku alami sekarang─baik atau pun buruk─itu adalah hasil dari perbuatanku di masa lalu. Kemudian aku introspeksi diri. Kejatuhan usaha keluargaku, itu karena situasi dan kondisi waktu itu. Sakitku, itu karena kebiasaanku yang sangat menggemari berbagai macam olahan mi dan pasta, bakso, camilan-camilan bego yang mengandung banyak bahan kimia, rasa jengkel dan sebalku pada Ayahku. Semua itulah yang mengakibatkan sakitku. Lalu tentang aku yang hidup mandiri di Surabaya, dari awal ini adalah pilihanku sendiri. Nggak ada yang memaksa. Jadi, seperti apa yang terjadi setelah aku di Surabaya, aku sendiri juga yang harus mengatasinya.

Nggak seharusnya aku menyalahkan orang lain, nggak seharusnya aku menyalahkan keadaan, nggak seharusnya aku menyalahkan diriku sendiri juga. Kuncinya hanya menerima, ikhlas, dan jalani. Serta tetap berusaha agar keluar dari segala masalah-masalah yang ada. Bukankah Tuhan nggak akan ngasih cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya?

Iya. Kita diberi akal pikiran dan segala kesempurnaan yang kita miliki sebagai manusia itu adalah untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Bukan malah untuk berbuat kesalahan.
Jadi, mari kita sama-sama merenung, introspeksi diri, kemudian berubah untuk menjadi lebih baik. Karena hidup masih panjang. Karena nggak mungkin selamanya kita hanya berdiri dititik yang sama. It’s time to move on! [move on dari kehidupan masa lalu yang buruk maksudnya]



Regards,
^_^
Anis


Sabtu, 07 Maret 2015

Definisi Sahabat Menurutku






Beberapa bulan yang lalu aku pernah ngepost dengan judul ‘Letter to My Best Friends’. Menuliskan keluhanku tentang seperti apa renggangnya hubungan persahabatanku dengan enam orang yang sudah bersahabat denganku sejak masih bayi dulu. Tapi, banyak dari mereka yang nggak memahami bahasa yang kugunakan—padahal pakai bahasa Indonesia sehari-hari yang seharusnya gampang banget buat dipahami. Sehingga membuat mereka salah paham, salah mengartikan maksudku dan bilang kalau aku malah ngajak mereka berantem. Sebenarnya tujuanku menulis surat itu adalah untuk mengingatkan mereka betapa aku sangat menyayangi dan menginginkan hubungan persahabatan kami tetap awet sampai tua nanti. Agar kalian tahu seperti apa isinya, lebih baik langsung baca di sini. Semoga kalian mengerti dengan maksudku.
Sebagai contoh adalah kalimat ini, “Aku yang terlalu sensitif dan mudah tersinggung. Reni dan Umex dengan kata-kata cablaknya yang kadang tanpa mereka sadari itu membuat yang lain tersinggung. Yuyun sama Dwex yang cenderung masa bodoh dan paling santai. Vina yang konyol tapi juga paling bisa diajak ngomong serius. Dan Mende, yang konyolnya nggak ketulungan.”
Maksud dari kalimatku itu adalah menunjukkan sifat-sifat kami, yang justru membuat kami bersahabat. Tapi, ternyata kalimatku itu mereka anggap sebagai genderang perang. Katanya aku ngatain mereka. Aku shock. Aku bingung mau menjelaskan dengan bahasa apa agar mereka mengerti. Tapi tetap saja mereka nggak mau mengerti.
Setelah aku ngepost surat itu, hubunganku dengan beberapa dari mereka menjadi sedikit renggang. Terlebih lagi setelah munculnya si Sengkuni (sebut saja begitu karena hobinya sejak kecil membuatku kesal dan emosi) yang mengompori kami, sehingga semakin buruklah hubunganku dengan sahabat-sahabatku. Perasaanku saat itu antara sedih, kecewa (karena ungkapan sayangku malah dianggap sebagai genderang perang), marah, jengkel, kesal (karena sahabat-sahabatku nggak mengerti dengan yang kumaksud lewat surat itu).
Lalu, kegalauanku akan kehilangan mereka menghilang saat salah seorang dari mereka yang kebetulan berpendidikan lebih tinggi dari kami dan tinggal di kota (maaf, bukan maksudnya merendahkan yang nggak berpendidikan dan tinggal di desa, karena faktanya selama saya ngorbrol sama mereka sama sekali nggak nyambung dan mereka selalu salah paham dengan maksudku), dia mengerti maksud dari suratku. Dia memahami maksudnya. Dia membantuku untuk menjelaskan kepada sahabat-sahabatku tentang apa maksud suratku. Beberapa bulan kemudian, kami kembali baik.
Tapi, aku sudah terlanjur kecewa sama mereka. Aku memaafkan mereka. Tapi entah kenapa sejak saat itu aku nggak sesayang dulu sama mereka. Karena aku menyadari, bahwa selama ini sepertinya hanya aku yang menyayangi dan menginginkan persahabatan itu. Karena faktanya, mereka nggak pernah ada untukku dan mereka hanya mencariku saat butuh aku. Berada di antara mereka saat ini, seperti berada di antara orang-orang baru. Mereka seringnya membahas tentang apa yang terjadi pada mereka saat aku nggak ada di antara mereka. Aku merasa diabaikan. Merasa nggak dihargai kehadiranku. Aku sadar, sih, sepenuhnya bukan kesalahan mereka. Karena faktanya saat ini aku bekerja di Surabaya sedangkan mereka berada di Ponorogo. Mungkin karena lingkungan pergaulan kami yang berbeda, uang akhirnya menyebabkan ketidaknyambungan antara kami.
Sekarang ini, aku nggak berani untuk menyebut sahabat kepada siapa pun. Karena aku takut dikecewakan lagi. Padahal, ada satu teman yang diam-diam kusebut sahabat. Dia selalu ada untukku, dia mau kurepotkan dan mau merepotkanku, dia datang padaku saat menangis atau pun tertawa. Dia yang mengerti banget aku orang seperti apa dan bagaimana cara menghadapiku saat sifat burukku lagi kambuh. Dia yang bisa menerima segala kekuranganku sebagaimana aku menerima dia. Padahal, kami baru kenal tiga tahun. Bukan puluhan tahun seperti aku dan enam orang sahabatku tadi. Orang yang menyebalkan tapi sekaligus sangat baik. Sebut saja Santo (dia cewek). Seperti dialah yang kusebut sahabat.
Buatku, nggak pa-pa kehilangan enam orang sahabat yang nggak tulus, asalkan memiliki satu sahabat yang tulus padaku.
Pertanyaanku adalah, apakah orang yang selama ini kamu sebut sahabat dan sangat kamu sayangi, juga menganggap kamu seperti itu? Coba tanyakan pada dirimu sendiri. Pada penglihatanmu. Bukan cuma mata, tapi juga hati.

Regards,

Anis

Jumat, 06 Maret 2015

Pola Makan Sehat, Enak & Mudah versi Anis



Saya sangat setuju dengan statement yang mengatakan bahwa ‘pola makan terbukti berhubungan erat dengan kondisi kesehatan seseorang’. Karena saya sudah mengalami serta membutikannya sendiri.
Dulu, saya memiliki kebiasaan buruk untuk tidak sarapan setiap pagi. Awalnya karena bangun yang selalu kesiangan sehingga saya tidak memiliki cukup waktu untuk sarapan. Hasilnya, saya menderita sakit maag yang lumayan parah. Lambung saya ini sekarang tidak bisa menerima minuman bersoda dan kafein. Sekecil apa pun kandungan kafein dan soda tersebut. Kalau saya nekat minum, ujung-ujungnya saya akan terkapar selama berhari-hari karena makanan jadi tidak bisa masuk ke lambung sama sekali.

Kemudian kebiasaan buruk saya yang kedua, suka ‘camilan bego’ yang dijual di mini market-mini market. Seringnya camilan itu mengandung zat pengawet, zat pewarna buatan dan MSG yang berlebihan. Suatu ketika saya mendapati ada benjolan di payudara sebelah kanan saya. Kata dokter yang pertama, ini hanya pembengkakan kelenjar susu. Kemudian dokter kedua menyebutkan benjolan ini bukan jenis parah, tetapi harus segera ditindak dengan opersai. Saat itu saya syok dan takut.

Saya merasa hal itu nggak adil karena saya penyuka sayur dan buah. Saya juga nggak selalu mengkonsumsi daging. Tapi kenapa saya mendapat sakit itu? Setelah saya berpikir, saya baru sadar dengan kebiasaan buruk saya saat masih remaja dulu. Penggemar ‘camilan bego’.
Setelah didiagnosis sakit tersebut, saya sempat menjadi vegetarian. Hanya makan sayur dna buah saja. Tapi kemudian kata dokter hal itu nggak harus dilakukan. Yang terpenting adalah menjaga pola makan dan mengurangi makanan berlemak serta berhenti mengkonsumsi makanan yang mengandung pengawet dan MSG.

Kemudian sampai sekarang saya sangat berhati-hati sekali menjaga pola makan. Selalu mengusakan untuk makan tiga kali sehari. Sarapan, makan siang dan makan malam tepat apda waktunya. Menunya juga harus selalu ada sayur. Saya mengurangi konsumsi daging dan ayam, juga camilan-camilan bego yang biasa saya konsumsi dulu. Serta memperbanyak minum air putih. Karena percaya atau tidak, air putih itu sangat bagus manfaatnya untuk tubuh kita.

Sudah sama-sama kita ketahui, kalau kita kurang minum maka keseimbangan tubuh kita akan terganggu. Parahnya kita bisa terkena dehidrasi yang bisa berakibat pada kematian. Saya memiliki sebuah cerita tentang air putih. Saat remaja dulu, Ibu saya menderita lemah jantung parah. Setiap mendengar suara keras sedikit saja dia akan langsung menangis. Sedikit tertekan, dia akan langsung lemas dan sakit. Kemudian dokter beliau menyarankan, untuk lari pagi setiap hari sampai badan merasa lelah dan tidak mampu untuk bergerak lagi. Kemudian setelahnya minum air putih sampai benar-benar kenyang. Ibu saya melaksanakan saran dari dokter tersebut selama beberapa bulan.

Setelah merasa kondisi jantungnya membaik, Ibu saya kembali periksa ke dokter. Dokter bilang, kemajuan kesehatan jantung Ibu sangat baik. Sampai akhirnya Ibu dinyatakan sembuh sampai detik ini, beliau sudah berusia lima puluh tahun lebih. Nah, itulah contoh sederhana tentang betapa bermanfaatnya air putih bagi tubuh kita.

Intinya, untuk mendapatkan hidup yang berkualitas dan selalu sehat, mengatur pola makan itu sangatlah penting. Dengan cara mengkombinasi makanan dari sayuran, buah, karbohidrat dan protein hewani serta air putih setiap hari─intinya konsumsi antara karbohidrat, sayur, buah dan protein hewani haruslah seimbang. Serta tidak mengabaikan jadwal makan. Sarapan antara jam tujuh sampai jam sepuluh pagi, makan siang antara jam dua belas sampai jam dua, dan makan malam antara jam enam sampai jam delapan. Dengan pola hidup yang lebih baik, maka kita akan mendapatkan hidup yang berkualitas juga.


Minggu, 01 Maret 2015

Cerita dari Masa Kecil



Wajah kami mirip. Darah yang mengalir di tubuh kami juga sama. Tapi, sifat dan kepribadian kami sangatlah bertolak belakang. Dia adalah adikku. Laki-laki yang lahir satu tahun setelahku. Sifatku yang cenderung nggak mau mengalah dan nggak mau kalah, sedangkan dia seringnya mengalah untukku. Aku yang cerewet dan banyak sekali maunya, kalau dia cenderung pendiam. Aku yang berani dan pemberontak, sedangkan dia akan lebih memilih diam dan menerima apa yang terjadi. Aku kalau diserang akan balik menyerang dengan lebih beringas, kalau dia akan lebih memilih diam dan membalik badan. Aku yang tegas dan nggak bisa ditindas, kalau dia nggak bisa tegas dan gampang sekali untuk diintimidasi. Dulu aku sering mengatainya, ‘Badan doang gede, nyali sekecil biji kedelai’.

Dulu, saat kami masih kecil, kami lebih terlihat seperti dua anak laki-laki kembar. Wajah kami mirip, potongan rambut pendek cepak, berkulit kecoklatan terbakar matahari, baju dan sepatu selalu bermodel sama hanya beda warna. Selalu main bersama. Iya, aku yang perempuan ini dulu mainnya sama anak laki-laki. Sebenarnya, aku punya dua teman perempuan. Dan kami (aku serta dua teman perempuanku itu) seringnya main sama anak laki-laki karena memang anak seumuran kami semuanya adalah laki-laki. Walaupun sebenarnya kami bisa saja main hanya bertiga, tapi, entah kenapa kami leih suka main bersama anak laki-laki.

Banyak jenis permainan yang sering kami mainkan dulu (kebanyakan permainan anak laki-laki, sih). Main perang-perangan (mulai dari Power Ranger, Satria Baja Hitam, Ultramen, Wiro Sableng, Kera Sakti), main kelereng, main petak umpet pas malam-malam (sengaja sembunyi di tempat gelap biar nggak kelihatan yang jaga, eh, malah ngelihat sesosok makhluk astral berbaju putih), main gobak sodor, lompat tali. Berlomba-lomba nyari jangkrik di sawah─saking semangatnya sampai bongkar-bongkar jalanan pematang sawah yang mengakibatkan kami dikejar-kejar sama pemilik sawah. Nyolong tebu di sawah yang katanya dijaga sama orang gila (yang ini jangan ditiru), kemudian ketahuan penjaga sawah yang ngejar kami sambil bawa celurit. Nyari ikan disungai, berburu burung pakai ketapel, nyari capung. Bikin layangan terus diterbangin bareng-bareng di sawah (kalau yang ini aku melakukannya sampai kelas X SMA─iya, malu-maluin memang, makanya jangan ditiru).

Dulu, aku dan adikku itu nggak terpisahkan. Kemana-mana harus selalu berdua. Ingat banget saat dia sakit usus buntu dulu, aku nangis berhari-hari karena ditinggal di rumah cuma berdua Eyang Putri. Sedangkan orangtua dan kakakku menjaga adik di rumah sakit. Yang aku takutkan saat itu cuma satu, bahwa aku nggak akan pernah melihat adikku lagi. Setelah operasi, adik nangis nyariin aku, tapinya aku takut buat bertemu dia (karena hal terakhir yang aku lihat sebelum dia masuk rumah sakit adalah sekujur badannya membiru dan kejang-kejang).

Kami juga sering masak berdua. Gara-gara nonton acara masak di TV, kemudian kami mempraktekkannya dan membuat dapur Ibu beserta segala isinya jadi berantakan. Satu hal konyol yang paling memalukan yang pernah kami lakukan dulu adalah, lari keliling halaman tanpa pakaian sama sekali─waktu itu kami masih dibawah sepuluh tahun. Lalu main kejar-kejaran, terus ujung-ujungnya aku ngumpet dikamar. Saling mendorong pintu kamar (aku yang berusaha menahan agar pintu nggak terbuka, dan adik yang berusaha untuk membuka pintu) sampai temboknya retak dan pintu hampir roboh─lagi-lagi kami dimarahi Bapak. Kemudian aku pernah sangat menyesal karena memukul tulang pinggul adikku pakai gayung sampai dia nangis sesenggukan (hanya gara-gara ribut kecil).

Pas SMA dulu, kami sering pergi ke mana-mana berdua naik sepeda (ke warnet, beli sesuatu ke warung saat di suruh Ibu, main ke rumah teman). Konyolnya, bukannya adik laki-lakiku itu yang membonceng, tapi malah aku yang membonceng dia. Karena badannya yang tinggi besar, boncengan sepedaku sampai rusak dan nggak bisa dipakai lagi. Lalu kami dimarahi sama Bapak. Kalau dimarahi begitu, paling kami cuma diam, saling tatap kemudian meringis menahan senyum. Itulah dunia masa kecil kami.

SEKARANG? Kami sudah hampir nggak pernah melakukan itu lagi. Nggak ada boncengan sepeda berdua ke warnet, nggak ada kejar-kejaran sampai ngumpet di kamar, nggak ada acara masak berdua, nggak ada nerbangin layang-layang di sawah. Ada kalanya, aku sangat merindukan hal-hal konyol belasan tahun lalu itu. Candaan-candaan konyol kami. Aku yang sok jagoan menantang sekelompok anak laki-laki yang mengintimidasi adikku. Nggak ada lagi adik kecilku yang sembunyi di belakang lemari kelasku saat SD, demi menungguku pulang sekolah. Nggak ada lagi cerita rebutan makanan. Nggak ada lagi main tikus-tikusan. Ahh… nggak nyangka waktu cepet banget berlalu.

Terlebih sekarang kami tinggal di kota yang berbeda. Aku di Surabaya, adikku di Ponorogo. Hampir nggak pernah ngobrol, sekali pun melalui telepon. Pergi berdua paling empat bulan sekali saat kebetulan aku pulang ke Ponorogo. Apalagi sekarang dia sudah menikah. Semakin nggak bisa ngelakuin hal-hal konyol lagi berdua. Sekarang aku baru percaya dengan kutipan novel Menikahlah Denganku-nya Annisa Adrie, “Setipis apa pun, pernikahan akan melahirkan sekat antara seseorang yang menikah dengan kehidupan di luar rumah tangganya. Seseorang yang menikah akan memiliki garis teritori yang tegas dalam hidupnya.”

Kalau dipikir-pikir─setelah kami sama-sama dewasa─sepertinya aku yang lebih pantas disebut adik dan adikku lebih pantas disebut sebagai kakak. Karena fisik adikku yang jauh lebih besar dan lebih dewasa daripada aku, kemudian seringnya dia yang mengayomi dan menjagaku, lalu fakta bahwa dia menikah lebih dulu daripada aku.

Sekarang jadi bisa mikir, sih, dulu saat kami kecil sering sekali bertengkar, setelah sama-sama dewasa dan sibuk dengan urusan masing-masing, kami menginginkan kebersamaan itu hadir lagi. Ya, begitulah manusia. Selalu menginginkan kembali yang telah terjadi, untuk kembali hadir di kehidupan masa kini. Padahal faktanya hal itu sangat mustahil.

Itulah kisah masa kecilku dengan adik laki-laki sekaligus sahabatku. Yang seringnya tanpa melibatkan kakak kami yang berusia sepuluh tahun di atas kami. Suatu saat, aku masih ingin merealisasikan keinginan untuk traveling keliling Jawa berdua. Semoga.

Sabtu, 28 Februari 2015

PEMENANG #GAComplicated

Setelah bersemedi di bawah pohon selama lima jam (emm.... agak lebay, sih), akhirnya bisa memilih satu pemenang dari #GAComplicated ini. Sebelumnya, mau mengucapkan terima kasih untuk semua yang ikut berpartisipasi dalam giveaway ini. Ada yang sesuai ekspetasi saya, ada juga yang cast-nya agak-agak ngaco dan nggak sesuai dengan tokoh fiktif ciptaan saya.

Duh, pembukaannya kepanjangan yak?! Mau ngumumin pemenang aja kok ribet banget. Namanya juga manusia yang doyan ngomong. :))  Baiklah, langsung saja. INI DIA PEMENANGNYA...





Rini Cipta Rahayu



Dan ini dia imaginary cast Complicated versi Rini Cipta Rahayu. http://rinspiration95.blogspot.com/2015/02/complicated-star-contest.html

Selamat untuk Rini Cipta Rahayu. Kamu mendapatkan novel Rhapsody dan Kapitan Pedang Panjang.

Rabu, 25 Februari 2015

COMPLICATED Part 5



Aku menatap sekali lagi bayanganku dalam cermin. Blus putih polos sebagai atasan yang kumasukkan dalam rok lipat sebatas paha warna pink lembut. Stoking warna hitam membalut kakiku dan diakhiri dengan stiletto warna senada dengan rok yang kupakai. Rambut sebahuku yang kuwarnai dark brown kubiarkan tergerai. Ku menatap wajahku yang bermake-up tipis natural andalanku. Sempurna.
Samar-samar aku mendengar suara ribut dari bawah. Ini di rumahku ada apa, sih? Pagi-pagi begini sudah heboh saja. Masa iya pagi buta begini ada tamu? Aku menyahut shoulder bag warna moka dan expanding file tote bag warna biru tua dari atas meja kerjaku. Setengah berlari aku keluar dari kamar dan menuruni tangga karena penasaran dengan kegaduhan di rumahku yang baisanya damai ini.
Ruang makan mendadak sepi begitu suara stilettoku yang beradu dengan lantai terdengar. Semua menatap ke arahku. Mood baikku mendadak jadi ngedrop begitu melihat sesosok manusia yang saat ini sangat tidak ingin aku lihat berada di antara keluargaku. Terlebih saat dia tersenyum cerah ke arahku. Lupa apa, ya, sama kata-kata menyebalkan yang dia ucapkan semalam?
“Ngapain kamu di sini?” Kata itu refleks keluar dari mulutku karena rasa kesal yang muncul saat mengingat kejadian semalam.
“Rhea?” Mama menegurku dengan keras. “Nyapa yang baik. Kalau nggak ada Arsa semalam, kamu nggak bisa pulang, lho.”
“Bisa. Aku semalem udah mau masuk mobil temanku saat tiba-tiba orang ini muncul.” Jawabku dengan nada ketus.
“Siapa?” Tanya Mama dengan mata memicing curiga. “Si cowok cantik kemarin itu?”
Ares terbahak saat Mama mengucapkan kalimat barusan. Sedangkan Arsa tersenyum dan Papa tetap asyik dengan korannya. Sedangkan aku, menatap Mama dengan wajah syok melongo. Itu Mamaku yang barusan bilang? Ibu Amara Damanto yang ngakunya anak priyayi dari Jogja itu? Astaga! Sulit dipercaya. Pasti Eyang Kakung yang bernama belakang Notonegoro itu bakal syok melihat anaknya yang sekarang ini. Apa karena sudah nggak menyandang nama Notonegoro lagi, maka sikap Mama jadi agak-agak nggak sopan begitu? Ah! Lupakan!
“Mama!” Aku berseru dengan gemas.
“Bukan cowok cantik kali, Ma. Tapi barby boy.” Sahut Ares yang membuat tawa Arsa meledak. Sialan!
“Ares! Jaga itu mulut, ya.” Aku berseru keras pada Ares.
“Sudah! Kalian ini. Lagi di meja makan juga.” Papa menengahi. Melipat korannya lalu meletakkan di meja. Kemudian mengucapkan kalimat yang membuat jantungku hampir lepas. “Duduk, Rhea. Hari ini kamu berangkat sama Arsa. Mobil kamu Papa bawa ke kantor.”
“Nggak bisa! Papa, kan ada mobil sendiri.” Aku menolak mentah-mentah perintah Papa.
“Mobil Papa masuk bengkel dari kemarin.” Jawab Papa kalem sambil menerima sepiring nasi goreng dari Mama.
Aku duduk dengan sedikit hentakan. Aku menatap Papa dengan curiga. Kalau Ares dan Mama sengaja ngerjain aku kemarin, itu wajar. Tapi kalau Papa juga ikut-ikutan, ini namanya nggak wajar. Tapi sepertinya wajah Papa nggak lagi berbohong.
“Tapi Rhea, kan, lembur, Pa.”
“Ya biar dijemput lagi sama Arsa. Bisa kan, Arsa?” Papa berkata sambil menatap Arsa.
Arsa menjawab dengan sopan, “Tentu, Om.” Kemudian melemparkan senyum menyebalkan padaku.
Dan hal itu, menambah daftar alasan kenapa aku harus membenci cowok yang bernama Arsa itu. Menyebalkan!
───

Aku menghembuskan napas lega saat membuka pintu mobil Arsa. Semoga ini untuk yang terakhir kalinya aku keluar dari mobil ini.
“Ngapain kamu ikut keluar?” Aku berseru saat melihat Arsa ikut keluar dari mobilnya.
“Cuma mau pastiin kalau kamu masuk ke kantor dengan selamat.” Jawabnya santai.
Aku tersenyum sinis. Kayaknya bukan itu alasannya. “Kalau alasan kamu turun dari mobil agar dilihat Mas Asta kalau kamu antar aku, itu percuma. Karena Mas Asta itu nggak satu kantor denganku.” Wajah Arsa memerah mendengar perkataanku. Aku asumsikan kalau tebakanku itu benar. Sekali lagi aku tersenyum sinis kemudian meninggalkan Arsa dan mobilnya tanpa ucapan terima kasih. Toh bukan aku juga yang memintanya untuk mengantarku kerja.
“Widih. Pacar baru, Mbak? Ganteng banget.” Seru Amel dengan mata menatap takjub ke arah Arsa yang saat ini tersenyum ke arah kami sesaat sebelum masuk mobil.
Benar juga, sih, yang dibilang Amel barusan. Kalau dilihat-lihat, Arsa memang terlihat ganteng dengan setelan baju kerjanya. Sebentar, apa ini artinya itu orang bakal lama di Surabaya? Apa dia bekerja di sini? Oh tidak! Aku pikir dia dan keluarganya hanya liburan. Sial!
“Ganteng, sih. Tapi nyebelin.” Jawabku. Aku berjalan mendahului Amel untuk masuk ke kantor. Amel itu adalah sahabatku yang sudah seminggu ini nggak bertemu denganku karena dia ambil cuti. Dialah orang yang membawaku masuk ke Harsono Clothing. Dia sendiri bekerja di bagian marketing. Kami bersahabat sejak SMA. Dia itu satu-satunya orang lain (di luar keluarga) yang dekat denganku. Karena nggak banyak orang yang mau dekat denganku. Aku bukan tipe orang ramah yang mudah berteman dengan siapa pun. Mungkin karena sikap cuekku yang cenderung jutek itulah maka nggak ada orang yang mau dekat-dekat denganku.
“By the way, mana oleh-oleh dari Singapore?” Aku menodong Amel. Dia menyerahkan paper bag coklat berukuran sedang ke arahku. Aku menerimanya dengan senyum lebar dan ucapan terima kasih.
“Kiranya, ada hubungan apakah antara Rhea Damanto dan lelaki tampan yang mengantarnya kerja barusan?” Amel berkata dengan gaya bicara Feni Rose saat membawakan acara gosip. Aku tertawa sambil menoyor pipinya.
“Norak! Udah, ah, mau nyiapain materi buat rapat entar sore.”
“Duh… yang mau ketemu Mas Asta.” Goda Amel lagi. Dia mneyikut-nyikut lenganku dengan heboh.
“Apaan, sih?”
“Jadi, Asta Praditta ataukah laki-laki yang kedapatan mengantar Rhea Damanto itu yang akhirnya akan dipilih untuk menjadi tambatan hatinya?” Lagi-lagi Amel berkata dengan logat Feni Rose.
“Ameeell?” Aku berseru dengan kesal. Belum sempat aku menjitak kepala itu bocah, dia sudah keburu ngacir ke lantai tiga. Dasar sableng!
Keingintahuan Amel mengenai Arsa nggak berhenti sampai di situ. Selama jam kerja aku diteror pesan WhatsApp, line, BBM bahkan SMS (masih ya, hari gini memakai layanan sms untuk kirim pesan) darinya yang menanyakan siapa cowok yang tadi pagi mengantarku. Lebih gilanya, dia sempat-sempatkan main ke mejaku disaat aku sibuk menyiapkan materi rapat sore nanti. Kalimatnya masih sama, “Siapa cowok yang nganter kamu pagi tadi?”
Puncaknya sepuluh menit lalu. Tepat jam duabelas siang Amel menghampiri mejaku untuk mengajak makan siang bersama. Padahal aku tahu betul dia punya tujuan lain. Jadilah sekarang kami duduk berhadap-hadapan di sebuah warung Soto Lamongan yang terletak di depan kantor.
“So, siapa cowok tadi pagi?” See? Amel langsung menodongku begitu kami duduk.
“Cowok tadi namanya Arsa. Dia teman kecilku, anak sahabat Mama. Aku dijodohin sama dia.” Aku menjawab dengan lirih.
 “WHAT?”
Aku langsung membungkam mulut Amel. Dia lupa apa, sih, kalau saat ini warung Soto tempat kami makan siang sedang penuh sesak?
Amel melepas tanganku dari mulutnya. “Kamu…. Seorang Rhea… dijodohin?” Amel berkata dengan suara berbisik. Setelahnya dia terbahak. Sungguh menyebalkan!
“Terus, nasib perasaan kamu ke Mas Atsa, gimana?” Tanya Amel masih dengan sisa tawanya.
“Karena itu, Mel. Kalau dari apa yang dilakukan Mas Asta semalem, kayaknya dia mulai tertarik sama aku, deh.”
“Wait! Yang dilakukan Mas Asta semalam? Kamu… sama dia nggak─”
Aku berdecak kesal. Si Amel ini memang drama banget. Pemikirannya suka ajaib. “Nggak seperti yang kamu pikrikan, Amelia.” Sahutku dengan sebal. “Yang jelas, dari tatapannya aku melihat ketertarikan.”
“Kalau aku jadi kamu, kayaknya lebih pilih si Arsa, deh.”
Aku melempar tatapan minta penjelasan pada Amel.
“Oke. Mas Asta memang lebih ganteng, lebih putih, lebih terawat. Tapi, apa kamu nggak merasa risih dengan hal itu? Masa nanti kamu bakalan nyalon bareng dia? Kalau Arsa, aku yakin dia nggak akan mau perawatan di salon. Kecuali nungguin kamu nyalon, mungkin.” Amel berhenti sejenak saat Soto pesanan kami datang. Dia mengucapkan terima kasih pada pelayan warung kemudian melanjutkan, “Apa kamu nggak ngerasa kalau sebagai cowok, Mas Asta itu terlalu kinclong?”
Mama ngasih panggilan Mas Asta cowok cantik. Ares, barby boy. Dan sekarang Amel bilang terlalu kinclong? Ini ada apa dengan mata mereka, sih? Perasaan Mas Asta baik-baik saja. Oke, memang Mas Asta itu tipe-tipe cowok metroseksual yang memperhatikan banget penampilan. Tapi bukan berarti dia ‘aneh’, kan?
“Emang kenapa? Kan kamu tau kalau aku suka sama cowok yang bersih, rapi dan wangi. Dan Mas Asta memenuhi hal itu. Lagi pula, dari apa yang aku lihat, Mas Asta nggak aneh kayak yang kamu pikir, kok. Dia gentle.” Aku nggak terima mendengar Mas Asta diremehkan.
“Aku kan nggak bilang Mas Asta aneh. Justru malah kamu yang tanpa disadari memberi label aneh sama Mas Asta. Itu artinya kamu setuju sama yang aku bilang. Apa yang aku katakana tadi, kan, hanya pendapatku. Mungkin saja bisa salah.” Kata Amel kemudian nyengir.
Huh! Menyebalkan. Ini yang nggak aku suka dari Amel. Terkadang mulutnya itu pedas banget kalau lagi mengomentari orang lain. Kata-katanya memang nggak nyakitin, tapi makna dibaliknya yang bikin hati panas.
Daripada debat kusir berkepanjangan yang kalau diteruskan bisa jadi berantem, maka aku memilih diam dan mulai memakan nasi Soto-ku.
───

“Baiklah. Sampai bertemu di acara pembukaan festival besok lusa. Saya mengharapkan kehadiran Anda semua. Terima kasih untuk hari ini, selamat malam.”
Aku menghembuskan napas lega saat Bu Siska mengakhiri rapat malam ini. Rapat terakhir sebelum pembukaan festival besok lusa. Aku melirik Mas Asta yang sedang berdiskusi dengan Bu Siska. Belum ada tanda-tanda dia akan pulang. Ahh… harapan untuk mendapat tebengan pulang pupus sudah. Apa lagi yang bisa kulakukan kecuali minta satpam kantor buat mencarikan taksi. Maka, aku menyampirkan shoulder bag di bahu. Dan mendekap expanding file tote bag dalam pelukan.
“Bu Siska, Mas Asta, saya pulang duluan.” Pamitku pada Bu Siska dan Mas Asta. Mereka serempak menoleh ke arahku.
“Hati-hati, Rhe.” Seru Bu Siska yang hanya kutanggapi dengan senyuman. Sedangkan Mas Asta nggak berkata apa-apa, justru malah mengembalikan tatapannya ke layar laptop. Hatiku mencelus menyadari itu. Segitu nggak pentingnyakah diriku dimatanya? (Oke, drama)
Lampu Harsono butik sudah dimatikan semua karena memang sudah jam sebelas malam lebih. Dengan agak-agak takut aku berjalan menuju lorong sebelah butik yang memang dijadikan jalan untuk orang-orang kantor (jadi, orang kantor kalau mau keluar masuk dilarang melewati pintu Harsono butik).
Angin kencang menyambut begitu aku membuka pintu lorong. Sampai aku harus memegang erat rokku yang tertiup angin. Aku sedang celingukan mencari keberadaan Pak Imin, satpam kantor, saat sebuah suara berseru memanggilku.
“Rhea?”
Aku menoleh ke arah suara tersebut. “Eh.. Mas Asta. Butuh data yang ada padaku?”
Mas Asta menghampiriku setengah berlari. Napasnya terlihat ngos-ngosan. Apa itu artinya dia lari dari lantai tiga? Buat apa? Buat mengejarku?
“Bukan. Kamu nggak bawa mobil, kan? Bareng aku aja, yuk.”
Ini dia yang aku tunggu-tunggu dari tadi. “Berhubung memang nggak dijemput, aku mau deh.” Kataku sambil menyelipkan rambut sebahuku yang berantakan tertiup angin ke belakang telinga. Mas Asta tersenyum, kemudian tangannya melakukan gerakan yang mengisyaratkan aku untuk jalan. Kami berjalan santai bersisian menuju mobil Mas Asta yang terparkir di ujung halaman.
“Besok malam ada acara, Rhe?”
Aku menoleh untuk menatap Mas Asta, tanpa berkata apa pun. Karena aku tidak menanggapi, Mas Asta berkata lagi. “Ada film yang aku pengen tonton. Mau nemenin?”
Apa barusan itu bisa kuartikan sebagai ajakan kencan? Hei… jangan bilang aku terlalu PD. Karena faktanya kami bukan teman yang sudah kenal baik. Jadi, kalau dia mengajakku dengan alasan pertemanan, rasanya itu nggak masuk akal. Apalagi mengingat apa yang dia lakukan padaku semalam di parkiran.
“Boleh.” Kataku akhirnya dengan nada kalem. Padahal dalam dadaku bergemuruh hebat.
Aku hampir meloncat saat terdengar bunyi klakson beruntun dari arah mobil yang kami lewati. Aku menoleh ke arah mobil tersebut. Arsa keluar dari mobil dengan wajah gelap. Saat itu juga aku baru ingat apa yang dibilang Papa tadi pagi, kalau malam ini Arsa akan menjemputku. Tapi aku kan nggak bilang mau pulang jam berapa.
“Apa gunanya punya handphone kalau ada yang telepon nggak diangakat?” Arsa berkata dengan suara keras. Aku sampai menutup kedua telingaku. “Kamu tau berapa lama aku nunggu di luar?”
“Nggak usah teriak-teriak. Aku kan nggak suruh kamu buat jemput. Udah, aku mau pulang.” Kataku dengan berteriak juga karena terpancing sikap Arsa.
“Ayo, Mas.” Aku menarik tangan Mas Asta untuk menjauh dari Arsa. Tapi, baru beberapa langkah aku merasakan sebuah tangan menarik lenganku. Arsa memaksaku untuk mengikutinya.
“Nggak kayak begini caranya memperlakukan cewek.” Mas Asta berkata dengan tenang kemudian melepaskan cengkeraman tangan Arsa dari lenganku. Karena saking syoknya dengan apa yang terjadi barusan, aku hanya bisa melongo melihat kelakuan dua orang di depanku ini.
Arsa mengatupkan rahangnya kuat. “Apa lo nggak punya urusan yang lebih penting dari mengurusi urusan orang lain? Apapun yang gue lakuin ke cewek gue, itu bukan urusan lo!”
Aku semakin melongo mendengar perkataan Arsa. Ceweknya? Maksudnya aku? Apa dia sudah gila?
Kemudian Arsa meraih tanganku dan menarikku paksa masuk ke mobilnya. Mas Asta hanya berdiri mematung menatap kepergian kami. Tanpa berusaha mencegah lagi. Tanpa berkata apa pun. Aku menatap Arsa dengan sebal. Rasanya ingin sekali mencakar mukanya itu sampai babak belur.
Kami hanya saling diam selama dua puluh menit di dalam mobil. Begitupula saat mobil Arsa berhenti di depan rumahku. Tanpa berniat mengucapkan terima kasih, aku membuka seat belt kemudian membuka pintu untuk turun dari mobil. Sampai aku teringat suatu hal. Sepertinya aku harus meluruskan suatu hal.
“Seperti yang aku udah bilang ke kamu kemarin, aku menolak perjodohan kita. Jadi, perkataan yang kamu bilang ke Mas Asta tadi jangan diulangi lagi. Aku menyukai dia. Dan aku harap, kamu ngerti dengan keputusanku.” Kataku dengan tenang.
Arsa tidak menanggapi. Dia hanya menatapku lekat-lekat dengan ekspresi wajah yang sulit kupahami. “Mulai besok nggak usah repot-repot buat antar jemput aku ke kantor. Tolak saja kalau keluargaku yang minta.” Lanjutku akhirnya.
Mata Arsa berubah nyalang. Dalam gerakan cepat kedua tangannya meraih wajah dan pinggangku dalam waktu bersamaan. Yang kurasakan selanjutkan bibirnya menyentuh bibirku dengan keras. Arsa menciumku dengan kasar. Detik pertama aku syok tanpa melakukan apa-apa. Kemudian detik selanjutnya aku mendorong keras tubuh Arsa. Entah karena memang tenaganya yang jauh diatasku atau karena emosi yang menguasainya, berusaha melepaskan diri dari tubuh Arsa saat ini sama sulitnya dengan berusaha lolos dari lilitan anaconda.
Hatiku sakit mendapati perlakuan Arsa yang kurang ajar padaku. Tidak sampai satu menit, Arsa melepaskan bibirnya dari bibirku karena mendengar isakku. Saat itulah aku memanfaatkan situasi dengan mendorong kuat tubuhnya untuk menjauh dari tubuhku. Tanpa berkata apa pun lagi aku keluar dari mobilnya dan berlari ke dalam rumah.
───



Sabtu, 21 Februari 2015

Inspirasiku Datang dari Pelosok Desa

Tempat yang inspiratif buatku yang pertama adalah sebuah kecamatan di ujung Timur Ponorogo (kota kelahiranku)─perbatasan dengan kota Trenggalek─yaitu kecamatan Sawoo. Disana, pertama kalinya aku melihat anak sekolah dengan semangat belajar yang sangat tinggi. Kecamatan Sawoo itu terletak di kaki gunung Bayangkaki dan sebagian besar wilayahnya memang pegunungan. Pertama kali ke sana adalah di saat aku membolos les dan lebih memilih ikut temanku untuk main ke kecamatan tersebut (saat SMA).

Aku salut sekaligus terharu melihat perjuangan mereka setiap hari untuk pergi ke sekolah. Sekolah, mulai dari SD sampai SMA terletak di pusat kecamatan. Jadi, mereka yang tinggal di daerah pegunungan harus berjalan kaki berkilo-kilo untuk bisa mencapai sekolahan. Aku pernah menanyai seorang teman SMA-ku yang tinggal di desa Tumpuk Sawoo (desa yang berada di dataran paling tinggi di kecamatan Sawoo). Untuk mereka yang berasal dari keluarga nggak mampu, mereka akan memilih berjalan kaki setiap hari untuk pergi ke sekolah. Sedangkan mereka yang berasal dari keluarga mampu, mereka akan memilih menyewa kamar kos yang dekat dengan sekolah mereka.

Aku suka sekali melihat suasana setiap kali jam berangkat dan pulang sekolah di kecamatan tersebut. Kesan keakraban dan kekeluargaan terlihat jelas di sana. Anak-anak berseragam mulai dari SD (dengan seragam putih─merah), SMP (dengan seragam putih─biru) dan SMA (dengan seragam putih─abu-abu) berjalan beriringan menapaki jalan yang semakin lama semakin menanjak. Mungkin, kalau hal itu terjadi padaku, aku nggak akan sanggup bila harus jalan kaki berkilo-kilo demi mencapai sekolah, SETIAP HARI.

Sejak saat itu, semangat juang anak-anak gunung itu untuk bersekolah menjadikanku banyak berfikir. Kalau mereka saja yang harus naik turun gunung demi ke sekolah mau melakukannya demi belajar, kenapa aku yang bisa mencapai sekolah dengan naik kendaraan nggak memiliki semangat sebesar mereka. Karena itulah, saat itu aku berusaha belajar dengan sungguh-sungguh, nggak malas-malas pergi ke sekolah lagi, nggak pernah bolos sekolah [tapi sesekali bolos pelajaran… :)) ]. Walaupun pada akhirnya prestasi akademikku tetap nggak bagus-bagus amat, sih.

Kemudian, tempat yang menginspirasi lainnya adalah sebuah desa masih di kota Ponorogo, yaitu desa Gontor. Di sana berdiri sebuah pondok pesantren modern Darussalam Gontor yang sudah cukup terkenal di Indonesia dan kawasan Asia. Setiap kali sore hari melewati desa itu, kita akan melihat ratusan bahkan mungkin ribuan anak berjalan dengan memakai mukena ( untuk yang perempuan) dan sarung plus kopyah (untuk laki-laki), dengan Al-Qur’an dalam pelukan mereka. Kelompok santri laki-laki biasanya akan berjalan berkelompok di depan dengan jarak yang cukup jauh dengan sekelompok santri perempuan yang berjalan berkelompok di belakang mereka.

Setiap kali melihat hal itu, yang langsung aku lakukan adalah melihat baju yang kukenakan saat itu. Jujur, aku malu dengan mereka. Baju yang kupakai jauh dari kata menutup aurat (bukan berarti aku pakai baju serba mini, lho). Mereka yang perempuan, yang kelihatan hanya wajah mereka. Sedangkan aku, hanya memakai celana selutut dan kaos oblong lengan pendek.

Terharu, malu, iri dan berbagai perasaan lainnya muncul setiap kali melihat pemandangan desa santri itu di sore hari. Aku terinspirasi dari sana untuk lebih mendalami agamaku. Pernah juga masuk pesantren, tapi nggak sampai lulus aku sudah keluar karena nggak bisa dengan peraturannya yang begitu ketat. Di pesantren itu, dari pagi sampai malam kegiatannya penuh banget. Bangun subuh, untuk melaksanakan shalat berjamaah. Pagi sampai siang sekolah formal, nanti istirahat siang dipakai untuk makan dan shalat dzuhur. Kemudian sore harinya untuk laki-laki merawat hewan ternak dan kebun sayur. Sedangkan untuk perempuan bersih-bersih dan menyiapkan makan malam. Kemudian sehabis shalat ashar ada kuliah dari ustadz lalu ngaji sampai menjelang magrib. Sehabis jamaah shalat magrib belajar ngaji bersama ustadz, kemudian sehabis isya ada pelajaran pendalaman agama. Sabtu malam, latihan qiro’ah Al-qur’an. Minggunya ada saja kegiatan. Mulai dari sema’an Al-Qur’an, pramuka, olahraga atau kegiatan-kegiatan lainnya yang akan menjadikan hari liburmu nggak pernah sia-sia.

Sebenarnya itu semua juga sangat berguna untukku. Hanya, tetap saja peraturan itu terlalu mengikat dan terlalu ketat bagiku. Tapi, setidaknya aku memiliki perbekalan ilmu agama yang cukup baik. Aku jadi belajar banyak tentang agamaku. Tentang apa yang boleh dan nggak boleh dilakukan. Dan itu cukup untuk kujadikan pegangan dalam hidup selama ini.