Kamis, 20 November 2014

Saat Putih Abu-abu Menjadi Kenangan



Percaya nggak percaya, masa putih abu-abu atau masa SMA nggak akan pernah hilang dari memori kita, nggak akan pernah lepas dari kenangan kita. Pasti semua akan setuju kalau aku bilang bahwa, masa-masa SMA itu adalah masa yang paling indah. Sejujurnya masa itu adalah masa yang paling aku rindukan dan kalau bisa aku ingin kembali ke masa itu (walau aku tahu kalau itu mustahil… L).
Disana banyak sekali hal yang terjadi. Mulai dari masa orientasi, perkenalan, persahabatan, persaingan, pertengkaran, hingga akhirnya semua itu menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Kalau aku, di masa itulah aku merasa menjadi remaja yang bandel. Suka protes, suka memberontak dan suka menuntut. Aku ingat banget bagaimana bandelnya aku dulu. Seperti anak SMA kebanyakan, sewaktu kelas sepuluh saat masih menjadi anak SMA baru, aku masih sangat patuh dengan peraturan yang ada di sekolah. Begitu naik ke kelas sebelas, perubahan itu mulai terjadi.
Yang tadinya kemeja dimasukkan dengan rapi, berubah jadi nggak pernah dimasukkan. Rok yang tadinya panjang di bawah lutut, berubah jadi pendek selutut. Kaos kaki yang tadinya panjang sebetis, berubah jadi pendek semata kaki. Dan rambut yang tadinya hitam legam, berubah warna jadi biru keunguan.
Belum lagi kebiasaan telat saya setiap hari. Malamnya begadang gara-gara nonton film kalau nggak baca novel, paginya bangun kesiangan, ketinggalan bus, telat sampai sekolah, minta surat izin guru piket, kena omel panjang lebar. Dan yang paling bikin malu adalah, hukuman sosial yang berupa tugas mencabuti rumput lapangan dan bersih-bersih ruang guru. Duhh…. malunya guys. Belum lagi nanti pas sampai kelas masih kena omel lagi sama guru.
Kemudian diberlakukannya peraturan baru oleh guru ekonomi di sekolahku (emang dasar guru ekonomi, yang ada dipikirannya cuma uang melulu). Jadi, setiap kali terlambat masuk kelas, waktu itu kena denda uang. Baju nggak dimasukkan juga kena denda uang. Sampai akhir tahun itu uang hasil pelanggaran bisa dipakai buat sewa bus untuk rekreasi bersama (serius, nggak bohong) karena saking seringnya murid-murid melanggar dua peraturan itu.
Hal-hal kayak begitulah yang sebenarnya sangat aku rindukan. Candaan di kelas pas jam pelajaran, nge-bully teman bahkan sampai nge-bully guru sampai bikin beliau nangis (yang ini jangan ditiru… dosa!) sorakan-sorakan norak, teriakan-teriakan jahil. Bolos pelajaran, bolos sekolah. Nongkrong di UKS sampai akhirnya kena omel guru jaga karena berantakin UKS. Nongkrong di KOPSIS pas jam pelajaran sambil nonton acara musik. Nongkrong di belakang kelas. Nyolong mangga di kebun sekolah. Bolos jam olahraga dengan alasan nyeri datang bulan. Telat di ahri Senin dan nggak ikut upacara yang akhirnya dihukum hormat di bawah tiang bendera kalau enggak disuruh keliling sekolah sambil bilang ‘saya terlambat datang ke sekolah, saya tidak ikut upacara, dan saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi’ (tapi masiiih saja dilanggar). Duhh… masa-masa konyol bin bodoh itulah yang sangat bikin kangen.
Satu lagi yang nggak pernah lepas dari masa SMA. Cinta. Iya, C.I.N.T.A. Love. Naksir teman sekelas, naksir kakak kelas, naksir si kapten basket yang populer, naksir ketua OSIS yang nerd tapi pinter dan ganteng, naksir cowok kelas sebelah yang cool. Kalau aku pribadi, dimasa inilah aku mengalami yang namanya cinta pertama. Karena sampai sekarang pun aku masih menyukai orang itu (curhat colongan… J).
Mojok berdua di kantin, ngobrol berdua di bawah pohon trembesi depan sekolah, janjian ketemu di toilet pas jam pelajaran, pulang bareng, duduk sebangku. Eitsss…. Tapi aku nggak punya sejarah tentang hal-hal yang baru kusebutkan, lho. Itu yang aku lihat dari teman-temanku (serius, nggak bohong).
Dan akhirnya perpisahan itu pun terjadi. Selepas SMA, semua sibuk menggapai mimpi untuk masa depan. Komunikasi semakin jarang, pertemuan jauh berkurang. Sampai akhirnya lost contact dan nggak pernah bertemu selama bertahun-tahun.
Kenangan-kenangan itu sering melintas baik saat kita sadar maupun dalam mimpi kita. Kita merindukan masa itu, ingin mengulang masa itu, tapi kita nggak bisa mewujudkannya. Kini, semua menjadi sibuk dengan urusan masing-masing. Bahkan nggak jarang masa SMA itu hanya sekedar kenangan untuk sebagian orang.
Sapalah sahabat-sahabat SMA kalian dulu. Biar bagaimana pun, mereka menyumbang kenangan dalam memorimu. Biar bagaimana pun, kamu pernah berbahagia bersama mereka. Kalian pernah sama-sama bercita-cita. Kalian pernah bercanda tawa, kalian pernah saling mendukung, kalian pernah gila-gilaan bareng.
Jangan biarkan kesibukanmu sekarang menjadi dinding pembatas yang akhirnya menjadi semkain tinggi karena kamu nggak pernah berusaha untuk meruntuhkannya. Sapalah mereka, sebelum kalian menyesal karena terjadi sesuatu yang nggak memungkinkan kalian bertemu lagi dengan mereka.

Anis
^_^


Berikut adalah beberapa quotes tentang persahabatan.

“Saat-saat seragam putih abu-abu mendominasi. Hari-hari yang dimuali dengan kejamnya orientasi, lalu perkenalan, lalu persahabatan, lalu kenangan.” ~Winna Efendi (Remember When)

“A friend is someone who knows all about you and still loves you.” ~Elbert Hubbard

“Berikan senyuman tuk sebuah perpisahan. Kenanglah sahabat… kita untuk slamanya.” ~Bondan Prakoso (Kita Slamanya ♫)

“But when we leave this year we won't be coming back. No more hanging out cause we're on a different track. But when we leave this year we won't be coming back.” ~Vitamin C (Graduation ♫)


Sabtu, 01 November 2014

COMPLICATED Part 3




Ini boleh nggak, sih, kalau aku minta izin Papa buat ke kamar gitu? Ngantuk banget. Selesai makan siang para orangtua masih melanjutnya mengobrolnya di ruang keluarga. Mia dan Janeta sedang seru main PS sama Ares dan Arsa. Sedangkan aku, nggak tahu gimana ceritanya bisa terjebak duduk di sofa bareng para orangtua.

Aku menyikut pelan siku Mama yang duduk di sampingku, “Ma, Rhea ke kamar ya?” Aku bertanya, dan langsung mendapat tatapan tajam dari Mama.

“Ngantuk, Ma.” Aku merengek.

“Nggak sopan. Mendingan ikutan nimbrung sama Mas-mu sana.” Mama berkata setengah berbisik.

“Oke.” Aku menjawab dengan malas kemudian berdiri. Malas banget kalau harus bergabung main PS sama itu cowok dua dan Mia-Janeta. Maka aku berjalan menuju teras samping yang langsung terhubung dengan ruang keluarga. Siang ini lumayan sejuk. Halaman rumahku memang banyak tanaman, sih. Ada beberapa pepohonan tinggi dan tanaman-tanaman hias peliharaan Mama. Aku duduk di kursi rotan yang diletakkan di dekat jendela.

“Masih sekolah, Rhe?”

Aku agak kaget saat tiba-tiba Arsa muncul di sebelahku. “Oh, itu... enggak. Maksudnya udah lulus setahun lalu.” Jawabku dengan tergagap.

“Dulu, kuliah di mana?” Arsa bertanya lagi sambil duduk di kursi rotan sebelahku.

“Arva School of Fashion.”

“Ambil jurusan?”

“Fashion desainer-lah. Apalagi memang.” Ini kenapa jadi kayak dialog interviewku sama Bu Siska setahun lalu, sih? Flat banget.

Baiklah, demi memecah kecanggungan, sepertinya aku harus bertanya juga. “Emangnya pas kecil dulu kita tetanggaan, ya? Seingatku dari aku kecil rumah sebelah itu punya keluarga Pak Danang.”

Arsa tersenyum. “Itu tetangga sebelah kanan rumahmu. Aku kan tetangga sebelah kiri. Ya, itu dulu rumahku.” Arsa menatap rumah sebelah yang sekarang berdiri menjulang di depan kami.

“Ohh…”

“Kamu beneran nggak ingat aku?” Arsa menautkan kedua alisnya. Menatapku serius.

“Hehee… enggak.” Jawabku dengan cengengesan. Kami saling diam untuk beberapa detik.

“Luka dilutut kanan kamu masih ada?” Arsa bertanya.

Refleks aku langsung melihat lutut kananku. Memang ada bekas luka yang sekarang warnanya memutih. Tapi aku nggak ingat cerita dibalik luka itu.

“Kok bisa tau, sih?”

“Itu dulu kamu jatuh gara-gara ngejar aku yang ngambil boneka kamu. Nggak ingat juga?” Arsa menjelaskan. Aku menggeleng.

Speechless. Dia masih ingat gitu sama kejadian… sembilan belas tahun lalu. Aku saja sama sekali nggak ingat.

“Jangan-jangan boneka beruang yang aku kasih buat hadiah perpisahan kita itu udah kamu buang lagi?” Arsa bertanya lagi. Boneka beruang? Hadiah perpisahan?

“Boneka beruang warna coklat itu bukan, sih?” Aku bertanya ragu. Wajah Arsa terlihat sumringah. Dia mengangguk mengiyakan. “Diminta sama ponakanku. Ya aku kasih aja.” Wajah sumringah Arsa berubah jadi kecewa.

Sampai segitunya? Aku saja yang punya boneka itu biasa-biasa saja. Lagipula, masa iya segede ini masih mainan boneka. Seingatku, aku hanya punya satu boneka itu karena aku memang bukan tipe cewek pecinta boneka. Dan mengingat umurku yang saat itu sudah tujuh belas tahun, maka saat Leora ponakanku meminta boneka itu ya, aku berikan.

“Maaf, deh. Nggak tau kalau itu dari kamu.”

“It’s okay.” Arsa membuang tatapannya ke taman. “Udah gede ini juga. Masa masih mainan boneka.” Arsa melanjutkan kemudian tersenyum.

“Kamu sekeluarga emangnya pindah ke mana?” Aku bertanya.

“Jakarta.” Jawab Arsa pendek. Aku hanya manggut-manggut.

“Non Rhea.”

Aku menoleh saat mendengar suara Bik Nah. “Ya, Bik?”

“Ada tamu nyari Non.”

“Siapa?” Tumben banget ada tamu yang nyari aku.

“Ngg… lupa tanya namanya. Sekarang nunggu di teras depan.” Jawab Bik Nah kemudian berlalu.

“Mau ikut?” Aku menatap Arsa.

“Nemuin tamu kamu, gitu?”

“Ya kali mau ketemu sama pohon Rambutan yang Tante bilang tadi.” Aku menjawab dengan candaan. Arsa tertawa pelan.

“Nggak, deh.”

“Ya udah. Aku tinggal kalo gitu.” Aku berkata kemudian berjalan menyusuri teras samping yang langsung terhubung dengan teras depan. Agak kaget saat mendapati Mas Asta duduk di salah satu kursi yang ada di teras.

“Mas Asta?”

“Eh, Rhe. Tadinya aku telepon kamu, tapi nggak diangkat. Makanya langsung masuk aja. Aku ganggu acara keluarga kamu, ya?” Mas Asta berkata.

“Ah, enggak kok. Cuma temen-temennya Mama. Lagi reuni kayaknya.” Aku duduk di kursi satu lagi. “Ada perlu apa, Mas?”

“Oh, ini. Ada titipan dari Bu Siska. Tadinya beliau juga telepon kamu pas kamu belum lama ninggalin butik. Tapi nggak kamu angkat. Jadinya aku bawa aja. Kan rumah kita lumayan deket.”

“Masa, sih? Aku kok nggak dengar HPku bunyi, ya?” Bahkan sekarang aku lupa tasku tadi kuletakkan di mana. Aku menerima map dari tangan Mas Asta. Kemudian membuka untuk melihat isinya.

“Itu hasil rapat hari ini. Ada perubahan susunan acara. Kamu diminta untuk kertik ulang. Terus fotokopi sebanyak dua puluh lembar untuk rapat besok malam.”

“Rapat lagi?” Aku memekik tertahan.

Mas Asta tersenyum maklum. “Capek, ya, pulang malem terus?”

“Iya. Sampek tengah malem gitu. Udah capek, ngantuk, masih harus nyetir sejauh Hr. Muhammad-Rungkut lagi.”

“Mau pulang bareng?”

Pengen rasanya langsung teriak, ‘Mau banget, Mas.’ “Ngerepotin lagi dong ceritanya.” Aku tersenyum.

“Ya udah. Aku pulang aja. Kamu kan masih ada tamu, nggak enak kalau kelamaan ninggal mereka.” Mas Asta berdiri. Aku ikut berdiri.

“Tamu Mama, kok. Thanks ya, Mas, udah mau jauh-jauh nganterin titipan Bu Siska.” Aku tersenyum sopan.

“Sama-sama.”

Bersamaan dengan itu, segerombol manusia yang sedari tadi sibuk ngobrol di ruang keluarga muncul dari ruang tamu. Obrolan mereka langsung terhenti dan menatapku sama Mas Asta bergantian. Mas Asta mengangguk dan tersenyum sopan.

“Siapa, Rhe?” Mama bertanya dengan pandangan penasaran.

“EO buat acara festival butik, Ma. Ada urusan kerjaan.” Jawabku. Aku yakin, setelah semua orang ini pergi, Mama pasti akan menanyaiku macam-macam. Beliau nggak akan percaya begitu saja dengan jawabanku.

“Pulang ya, Rhe.” Mas Asta berpamitan, kemudian menyentuh pelan pinggangku. Sumpah, aku lumayan kaget dengan tindakan Mas Asta barusan. Bisa gitu ya, ngelakuin hal kayak begitu di depan orangtuaku dan teman-temannya.

“Mari semua.” Mas Asta menyapa semua orang kemudian berjalan keluar gerbang menuju mobilnya.

Suasana tiba-tiba terasa canggung. Semua mata masih terarah padaku. Memang sebegitu anehnya, ya, melihat laki-laki dan wanita hanya berdua?

───

“Yakin itu EO acara kantor kamu?” Mama bertanya padaku begitu semua orang pulang.

“Iya, Ma. Dia nganter titipan Bu Siska, nih.” Aku menunjukkan map yang dibawa Mas Asta tadi. Mama masih menatapku curiga.

“Mama nggak suka kalau kamu dekat sama orang tadi.” Tegas Mama mengatakan itu. Apa-apaan ini?

“Apaan sih, Ma. Emangnya kenapa kalo aku deket sama Mas Asta?” Aku menatap Mama minta penjelasan.

“Cowok kok cantik begitu.”

“Itu bukan cantik, Ma. Tapi rapi. Karena dia tipe cowok metroseksual yang memperhatikan banget penampilannya.” Mama terlihat ragu dengan pembelaanku. “Mama nggak ngira kalau Mas Asta itu gay, kan?”

“Dari penampilannya saja sudah kelihatan lho, Rhe. Dan setahu Mama, cowok model begitu kebanyakan memang gay.”

Hah? Seriusan itu Mamaku yang barusan ngomong? Kok jadi sarkas begitu? Oke, memang Mas Asta itu tipe cowok metroseksual yang memeperhatikan penampilan banget. Mukanya juga sehalus mukaku yang cewek ini. Yang aku yakin dia dapat dari perawatan di klinik kecantikan. Tapi bukan berarti dia gay, kan? Lagipula aku juga nggak ngelihat ada bedak di wajah Mas Asta.

“Mama itu suka ngasal, deh. Udah, ah. Rhea mau ngerjain tugas dari Bu Siska.” Kataku kemudian meninggalkan Mama yang masih berdiri di teras. Sedangkan Ares dan Papa sudah masuk sejak tamu mereka pulang tadi.

Aku melihat Papa sama Ares lagi main PS. Iya, Papaku yang umurnya lima puluh tahun lebih itu, masih suka main PS. Kayaknya hobi PS Ares itu ya turunan dari Papa ini. Aku berjalan melewati mereka untuk menuju kamarku yang ada di lantai dua.

“Rhea?”

Aku berhenti di ujung pintu saat Mama memanggilku. Apa lagi, sih? “Kenapa, Ma?” Aku menatap Mama yang kini berdiri di samping Papa.

“Mama lupa. Nanti malam kita ke rumah Om Wiryo. Kamu nggak ada acara, kan?”

Ya Tuhan. Baru ketemu, malamnya mau ketemu lagi? “Mau ngapain?”

“Kamu itu mau dijodohin sama Arsa.” Ares menyahut tanpa menatapku. Yang langsung mendapat pukulan dibahu oleh Mama. Aku melongo. Ini si Ares beneran apa ngaco, sih?”

“Apaan?” Aku bertanya.

“Om Wiryo ngundang keluarga kita buat dinner.” Mama menjawab.

“Bukan. Yang dibilang Ares tadi.” Aku menjelaskan.

“Ya apa salahnya? Arsa anak yang baik, ganteng, mapan. Mama sama Papa juga kenal baik sama orangtuanya. Daripada cowok cantik tadi.”

Seriusan, deh. Mama kok nyebelin banget sih, ngomongnya? Tega banget ngatain cowok yang lagi ditaksir anaknya dengan sebutan cowok cantik.

“Siti Nurbaya udah mati kali, Ma. Nggak usah berusaha buat nyiptain Siti Nurbaya baru, deh.” Aku berkata kemudian membalik tubuh dan berjalan menaiki tangga. Tidak ada yang berkomentar. Aku hanya mendengar cekikian Ares.

Jadi, inti dari kedatangan keluarga Ontowiryo ke rumahku siang ini nggak cuma buat ngomongin masalah bisnis doang, tho. Itu lebih ke mereka ingin mengenalkan aku dengan Arsa. Alias menjodohkan kami. Pantas saja, kenapa Papa sama Mama keukeuh banget kalau aku harus ketemu keluarga Ontowiryo ini.

Apa tadi? Perjodohan? Jangan harap. Aku nggak mau dijodoh-jodohkan kayak begitu. Kayak aku nggak laku saja. Ya memang sih, sekarang aku lagi jomblo. Tapi bukan berarti nggak laku, kan? Lagipula, aku kan lagi naksir Mas Asta. Dan melihat dia care ke aku akhir-akhir ini, kayaknya dia juga tertarik padaku. Iya, KAN?

───

COMPLICATED PART 4

Sabtu, 05 Juli 2014

COMPLICATED Part 2




Ya Tuhan, apa dosaku dimasa lalu sehingga saat hari libur seperti ini pun masih saja ada yang mengganggu. Kenapa juga sebelum tidur semalam aku nggak matikan saja itu handphone? Sehingga pagi buta begini nggak akan ada yang menggangguku.
Dengan paksa aku membuka mataku yang rasanya masih sangat mengantuk. Siapa, sih, yang nggak tahu tata karma banget begini. Aku mencari-cari handphone masih dengan mata terpejam. Ini dimana, sih handphoneku. Bunyinya nyaring tapi kok nggak ketemu-ketemu. Ough, ternyata nyelip di bawah bantal.
“Halooo?” Aku menyapa dengan malas-malasan.
“Maaf Rhea, hari libur begini mengganggu.”
Mendengar suara Bu Siska di seberang sana mataku sontak melebar dan aku langsung bangun terduduk. “Oh, Ibu. Nggak pa-pa kok. Ada yang bisa dibantu?”
Aku berkata dengan nada sopan dan mengangguk-angguk sopan. Seakan-akan Bu Siska itu ada di depanku. Nggak tahu kenapa, kalau berhadapan atau berbicara dengan Bu Siska mendadak jadi sopan. Mungkin karena pembawaannya yang berwibawa sehingga membuat membuat semua orang menghormatinya.
“Saya hanya mau mengingatkan soal naskah pidato pesanan saya kemarin.”
Aku langsung menepuk jidatku sendiri. Karena kemarin seharian aku sibuk dengan ID card peserta bazar dan panitia, maka aku melupakan kertas pidato Bu Siska yang minta diketik ulang. Rencananya ingin aku ketik semalam. Tapi karena badanku sudah sangat lelah, jadi aku menundanya.
“Oh, sudah, Bu. Ibu mau saya antar jam berapa?” Bebohong untuk kebaikan nggak dosa, kan? Iya, untuk kebaikan diriku sendiri maksudnya.
Bu Siska memang baik, jarang marah. Kecuali kalau kesalahan kami sebagai karyawan itu sudah sangat fatal. Tapi, marahnya Bu Siska itu nyeremin. Percayalah, sekali aja ngelihat Bu Siska marah, lain kali nggak akan mau mengulangi lagi.
“Sejam lagi?” Jawab Bu Siska yang entah itu pertanyaan atau pernyataan.
“Sejam lagi saya berangkat dari rumah ya, Bu? Soalnya ini baru bangun.” Jawabku.
“Jam segini baru bangun?” Bu Siska berkata dengan nada terkejut. Maka aku menoleh untuk menatap jam dinding bulat warna putih di dinding kamarku yang berwarna nude. Oh, ternyata udah nggak pagi lagi, tho? Jam sembilan lewat banyak.
“Iya, Bu. Semalam habis begadang sama Kakak saya nonton bola sambil ngerjain pesenan Ibu ini.” Jawabku sekenanya.
“Oh. Ya sudah. Saya harap nggak sampai sejam lagi kamu sudah sampai. Terima kasih.” Kata Bu Siska kemudian memutus sambungan telepon.
Aku menghembuskan napas lega. Tapi sesaat kemudian, seperti tersengat aku bangun dari tempat tidur. Berjalan menghampiri tas kerjaku yang kuletakkan di meja dekat jendela. Meja yang sewaktu sekolah dan kuliah dulu kugunakan sebagai meja belajar. Tapi kini beralih fungsi sebagai meja kerja. Buat ngerjain apa saja.
Aku menyalakan laptopku dan dengan cepat mengetik ulang kertas Bu Siska yang penuh coretan kemarin itu. Kok serasa flash back ke masa SMA dulu, ya? Bangun subuh demi mengerjakan PR yang belum aku kerjakan. Padahal sudah harus dikumpulkan pagi itu juga. Aah, kebiasaanku itu kok ya nggak berubah-berubah.
───
“Pagi semuaa?” Aku berteriak lantang untuk menyapa orang satu rumah. Ares─kakakku─sedang menonton Doraemon. Ya ampun, umur hampir tiga puluh tahun nontonnya masih Doraemon. Emm,, sebenarnya aku juga, sih.. J
Papa duduk di sebelah Ares dengan koran di tangannya. Sedangkan Mama lagi sibuk sama Bik Nah di dapur. Nggak tahu lagi masak apa. Dan, mereka semua entah kebetulan atau bagaimana, menjawab sapaanku dengan serempak.
“Mau kemana udah rapi begitu?” Ares menatapku dari kepala sampai kaki dengan tatapan seakan-akan celana pendek sepaha warna krem dan polo shirt warna putih yang kukenakan ini adalah bikini.
“Mau ke butik buat anter naskah pidato Bu Siska. Kemarin belum kelar.” Jawabku sambil berjalan menuju dapur yang terletak bersebelahan dengan ruang keluarga yang hanya dibatasi rak kayu setinggi satu meter dengan lebar empat meter. Rak kayu yang digunakan untuk menyimpan buku koleksi Papa dan Mama.
Kami, satu keluarga ini penggila buku semua. Kalau Papa jelas buku tentang bisnis. Mama buku apa saja. Ares, jelas buku tentang fotografi karena itu memang bidang kerjanya. Sedangkan aku, kebanyakan fiksi dan beberapa buku non fiksi tapi yang ringan.
“Kamu mau kemana, Rhe?” Mama bertanya sambil tetap sibuk memotong sayur.
“Ke butik, Ma.” Jawabku sambil mengambil gelas dari rak. Menuang air putih yang ada di teko kaca di atas meja.
“Ini kan Sabtu, Rhe.” Mama Bertanya lagi.
Aku menengguk minuman dulu baru menjawab Mama. “Ada kerjaan yang aku bawa pulang. Dan Bu Siska mau aku anter kerjaan itu sekarang. Ya udah, Rhea berangkat dulu ya, Ma.” Aku berkata sambil menghampiri Mama kemudian mencium pipi kanannya. Lalu aku berjalan meninggalkan dapur.
“Tapi jam makan siang bisa pulang, kan?” Mama bertanya setengah berteriak.
“Nggak janji, Ma.” Aku menjawab sambil terus berjalan. Mama masih saja berkata tapi aku nggak menggubrisnya. Ini sudah hampir satu jam lewat dari waktu Bu Siska telepon tadi. Kalau aku nggak buru-buru berangkat, bisa kena amuk beneran.
“Sebelum jam makan siang usahain sudah pulang ya, Rhe.” Kali ini Papa berkata saat aku melintasi ruang keluarga. Aku menghentikan langkah. Kalau Mama cerewet meminta semua anggota keluarga hadir di meja makan saat jam makan itu wajar. Kalau Papa? Mencurigakan. Ini ada apa, sih? Mau ada Presiden datang?
“Kenapa emang, Pa?” Aku bertanya.
“Keluarga Om Ontowiryo mau datang.” Jawab Papa yang kini tatapannya kembali ke koran.
“Oh.” Jawabku dengan anggukan. Kayak aku tahu saja siapa Om Ontowiryo. “Oke. Rhea berangkat dulu. Assalamu’alaikum.” Aku berkata sambil ngeloyor pergi. Aku sudah benar-benar telat. Dan nggak mau kena amukan Bu Siska yang langka banget itu.
───
Rekor tercepatku. Jarak Rungkut – Hr. Muhammad hanya dengan dua puluh menit. WOW nggak, tuh? Dari Surabaya ujung Timur ke Surabaya ujung Barat cuma dua puluh menit. Nggak usah tanya kecepatan laju mobilku berapa. Yang penting, aku sekarang tiba di butik dengan sehat sentosa tanpa kurang suatu apa pun.
Aku turun dari mobil. Berjalan dengan setengah berlari masuk ke butik. Mobil Bu Siska dan beberapa mobil yang tidak kukenal terparkir manis di depan butik.
“Siang, Mbak Rhea.” Fitri, salah seorang SPG butik menyapaku.
“Siang. Bu Siska ada?” Aku bertanya basa-basi pada Fitri. Padahal jawabannya sudah pasti ada.
“Ada di ruang rapat.” Fitri menjawab dengan santun.
“Hah? Rapat lagi?” Aku bertanya dengan mata melotot. Itu Ibu Bosku nggak capek apa, ya? Weekend begini masih saja kerja.
“Iya, Mbak. Sama pihak EO.”
“Ya udah. Aku naik dulu.” Kataku sambil berjalan menuju tangga untuk ke lantai tiga.
Harsono Clothing ini terdiri dari empat lantai. Lantai pertama dan kedua untuk butik. Lantai tiga untuk kantor, dan lantai empat untuk gudang. Sedangkan pabriknya terletak terpisah. Tapi nggak jauh juga, kok. Terletak di ruko bagian dalam, tapi masih satu kompleks pertokoan. Sedangkan butiknya ini di pinggir jalan Raya.
Aku langsung menuju ruang rapat yang terletak diujung ruangan. Bersebelahan dengan ruangan Bu Siska. Samar-samar aku mendengar suara Bu Siska yang sedang berbicara. Aku mengetuk pintu. Pada ketukan pertama langsung ada sahutan. Maka aku membuka pintu dan mendapati Bu Siska sedang rapat bersama Mas Asta dan tiga karyawannya. Semuanya cowok. WOW banget nggak, sih, Bu Siska ini? Sesiangan ini sudah dikerubutin cowok saja. Cakep-cakep lagi.
“Selamat siang.” Aku menyapa semua orang yang ada di ruang rapat, yang sedang menatapku.
“Siang. Masuk, Rhe.” Bu Siska mempersilahkanku. Aku tersenyum dan berjalan menghampirinya. Menyadari bahwa Mas Asta saat ini sedang mengamatiku sedari masuk hingga berdiri di samping Bu Siska, membuat dadaku berdebar kencang.
“Ini pesanan Ibu kemarin.” Aku menyerahkan Map biru yang berisi naskah pidato Bu Siska dan susunan acara.
Bu Siska menerimanya. Kemudian membaca sekilas naskah yang kuketik. Kemudian berkata, “Oke. Terima kasih ya, Rhea.”
Aku tersenyum. “Sama-sama, Bu. Ada yang bisa saya bantu lagi?” Sumpah, itu cuma basa-basi. Aku berharap banget Bu Siska menjawab tidak.
“Emm… sepertinya nggak ada. Maaf, ya, sudah mengganggu hari libur kamu.”
Syukurlah. Maka aku menjawab, “Nggak pa-pa, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu.” Aku mengangguk sopan. Lalu menyapa semua orang yang ada di ruangan itu. “Mari semuanya.” Yang dijawab serempak oleh Mas Asta dan anak buahnya.
Handphoneku berdering begitu keluar dari ruang rapat. Aku mengaduk-aduk isi tasku yang ternyata rame banget. Ini handphone dimana, sih? Nah, ketemu. Papa yang telepon.
“Ya, Pa?” Aku menjawab telepon sambil terus berjalan menuruni tangga.
“Kamu dimana? Buruan pulang.”
Ini Bapakku kenapa, sih? Tumben banget nanyain aku lagi di mana. Lagipula, perasaan aku tadi sudah bilang kalau mau ke butik, deh.
“Lagi di butik, Pa. Tadi kan Rhea udah bilang. Baru juga pergi tiga puluh menit yang lalu.” Aku bicara dengan sedikit ngos-ngosan saat menuruni tangga lantai dua. Ini Bu Siska nggak ada niatan untuk pasang lift apa, ya? Atau escalator, gitu? Naik turun tangga ke empat lantai itu lumayan capek, lho.
“Ya sudah. Buruan pulang. Ini Om Ontowiryo sekeluarga sudah datang.” Kata Papa akhirnya.
“Oke, Pa.” Aku berkata sambil melirik Gucci Chrono warna putih yang melingkari pergelangan tangan kiriku. Jam sebelas lebih lima menit. Katanya jam makan siang. Masih sejam lagi, kali.
“Nggak pakai lama.” Papa berkata kemudian memutus sambungan telepon tanpa berkata apa-apa.
 Siapa, sih, Om Ontowiryo sekeluarga itu? Sampai Papa berharap banget seluruh keluarganya ikut menyambut keluarga itu orang. Calon presiden? Kayaknya bukan deh, ya. Aku tahu kali, capres kita itu kan yang merah sama yang putih itu.
Entahlah. Daripada telat pulang dan membuat Papa marah─yang biasanya berimbas ke adegan pencabutan segala fasilitas yang biasa kugunakan─lebih baik buru-buru pulang. Dan, rekor kedua pagi ini. Karena nggak tahu kenapa hari ini jalanan Surabaya kok lumayan lengang, aku tancap gas dengan kecepatan tinggi. Alhasil, cukup dua puluh menit untuk tiba di rumahku yang letaknya hampir diujung Timur Surabaya ini.
Ini rumahku kok banyak mobil, ya? Ada tiga mobil asing. Gerbang rumahku juga terbuka lebar banget. Nggak kayak biasanya yang tertutup rapat. Setelah memarkir mobil, aku keluar dan berjalan mendekati Pak Tarjo yang sedang mencuci mobil Papa. Tukang kebun sekaligus penjaga rumahku.
“Pak, ada acara apaan, sih?” Aku bertanya pada Pak Tarjo.
Pak Tarjo mengerutkan dahinya kemudian berkata, “Lah? Kok Non bisa nggak tau? Lagi ada pertemuan keluarga, kan?”
“Loh? Katanya Papa tadi, keluarga Om Ontowiryo yang mau datang. Kok jadi pertemuan keluarga begini?”
“Ya saya ndak tau, Non.” Jawab Pak Tarjo cuek sambil tetap sibuk menggosok mobil dengan spons yang penuh busa.
“Ya udah. Aku masuk, deh.” Aku berjalan masuk sambil mengubek-ubek kantong Doraemon-ku lagi (baca tas), karena aku mendengar handphoneku berbunyi.
Mataku langsung melebar begitu mendapati invite dari Mas Asta. Untuk lebih meyakinkan, aku melihat DP-nya yang terlihat cool karena dia memakai kemeja warna putih dengan lengan digulung sampai siku. Nggak tahu kenapa, dadaku kembali berdebar. Dengan tersenyum, aku meng-accept permintaan Mas Asta.
Eh? Kok ruang tamu sepi? Terus ini tamu tiga mobil pada ke mana? Samar-samar aku mendengar suara orang tertawa dan berbincang dari ruang keluarga. Wow? Sepenting apakah tamu ini sehingga Papa sama Mama membawanya ke ruang keluarga? Selama ini kan, hanya keluarga dekat saja yang dijamu di ruang keluarga. Aku kok makin penasaran, ya, sama keluarga Om Ontowiryo ini. Jangan-jangan mereka itu sahabat lama orangtuaku. Kemudian aku adalah anaknya yang dititipkan ke Mama dan Papa. Dan Om Ontowiryo itu adalah pemilik kilang minyak terbesar di Timur Tengah. Oh, oke. Lupakan! Terlalu sinetron kayaknya.
“Rhea?” Seorang wanita seusia Mama memekik girang begitu melihatku muncul diambang pintu. Yang kukenali sebagai Tante Rita. Pemilik sebuah Wedding Organizer terkemuka di Jogja. Sahabat sehidup sekarat Mama semenjak SMA. Iya, Mamaku asli Jogja. Sedangkan Papa asli Surabaya.
“Tante Rita? Apa kabar?” Aku menanggapi dengan memekik juga. Kemudian aku menghampiri Tante Rita yang juga sedang berjalan menghampiriku. Lalu kami melakukan ritual wanita kalau bertemu. Pelukan dan cium pipi kanan-kiri.
“Baik. Kamu kok nggak pernah main ke Jogja lagi, sih?” Tante Rita berbicara dengan kemayu. Memang seperti itulah gayanya kalau sedang bicara. Kalau orang belum kenal mungkin akan menganggapnya benar-benar kemayu (dalam bahasa Jawa artinya sok cantik).
“Lagi sibuk sama kerjaan, Tan.” Aku menjawab sambil mengamati Tante Rita yang sekarang jauh lebih kurus ketimbang tiga tahun lalu, pertemuan terakhir kami. Dietnya sukses sepertinya.
“Rhea. Sapa yang lainnya juga, dong.” Mama menegurku. Aku mengedarkan pandangan ke orang-orang yang ada di ruang keluarga. Aku mengenal semua anggota keluarga Tante Rita. Tapi, merasa asing dengan tiga orang lain yang sekarang menatapku dengan penuh minat.
Aku menyalami mereka satu per satu. Om Dibyo suami Tante Rika, Janeta dan Mia anak-anak Tante Rita yang masih SMA kalau nggak salah. Lalu menyalami tiga orang asing tadi.
“Ini Om Wiryo, Tante Syarika, dan Arsa anak mereka.” Mama menjelaskan tanpa aku memintanya. Dan senyum nggak pernah hilang dari bibirnya.
Akhirnya aku menyalami keluarga Ontowiryo dan memperkenalkan diri. Emm, sebentar. Aku kok baru sadar ya, kalau siapa tadi, Arsa ya? Ternyata lumayan keren juga. Diam-diam aku mengamati penampilannya. Walaupun sedang duduk, aku bisa tahu kalau postur ini cowok tinggi. Sekitar seratus delapan puluh. Badannya, tipe-tipe badan Rio Dewanto yang suka bikin cewek tiba-tiba lapar itulah. Apalagi saat dibalut kemeja hitam lengan panjang dengan ujung dilipat ke atas. Duh… sepertinya semua cowok suka melakukan itu, ya? Kulitnya kuning langsat khas Jawa. Matanya tajam, alisnya tebal, hidungnya mancung, rahangnya bergaris tegas, dagu dan pipinya ditumbuhi bulu-bulu halus, dan… senyumnya manis.
“Rhe, duduk dong.” Suara Mama menyadarkanku. Aku bisa merasakan wajahku memanas. Semoga saja mereka tidak menyadari hal itu. Aku berjalan mendekati Mama dan duduk di sampingnya. Tepatnya di antara Papa dan Mama.
“Kamu ingat Arsa nggak, sih, Rhe?” Kali ini Papa yang bertanya.
“Enggak.” Jawabku jujur.
“Masa kamu lupa? Mereka dulu tinggal di sebelah, lho. Arsa ini temen main kamu pas kecil dulu.” Papa berkata.
“Nggak inget, Pa.” Aku menjawab dengan tersenyum.
“Dulu Arsa suka nakut-nakutin kamu kalau pohon rambutan depan rumah kamu itu ada hantunya. Sampai kamu menangis dan nggak mau tidur sendiri selama berminggu-minggu.” Tante Syarika menyahut. Aku hanya nyengir. Sumpah, nggak ingat sama sekali.
“Waktu itu kan mereka masih kecil, Ma. Apalagi Rhea. Masih empat tahun kalau nggak salah.” Om Ontowiryo menyahut.
Aku menatap Arsa yang hanya senyum-senyum. Duh, cobaan banget, nih. Senyumnya menggoda banget.
“Arsa, kamu nggak mau nanyain kabar Rhea?” Tante Syarika menatap Arsa penuh arti.
“Oh? Apa kabar, Rhea?” Arsa menatapku. Suaranya khas cowok banget. Berat, dalam. Aduduu, jadi deg-degan begini sih?
“Baik.” Jawabku singkat. Bukannya nggak sopan, hanya bingung mau bicara apa lagi.
“Kalian harus sering-sering ngobrol. Biar saling mengenal dan kembali akrab kayak dulu.” Tante Syarika berkata lagi yang ditanggapi senyum oleh Mama dan Papa.
Sebentar. Ini kayaknya aku kok menangkap sinyal-sinyal nggak beres, ya? Orangtuaku sama orangtuanya Arsa, kok mencurigakan banget. Ini nggak akan ada cerita Siti Nurbaya, kan?
Selanjutnya, para orangtua sibuk membicarakan ini itu. Yang kalau aku tidak salah tangkap isi pembicaraan mereka, sepertinya Papa, Om Wiryo, dan Om Dibyo berencana untuk bekerjasama membangun restoran Jawa di Surabaya sini. Oh, ngomongin bisnis, tho? Terus, ini anak-anaknya dianggurin aja, gitu?
“Kita ke meja makan aja, yuk? Sudah keroncongan ini perut.” Papa berkata yang disambut tawa dari semua orang. Apanya yang lucu, coba?
Kadang-kadang suka heran sama para pelaku bisnis atau big-big bos kalau sedang bersama seperti ini. Seperti yang kulihat juga di kantorku antara Bu Siska dan rekan-rekan bisnisnya. Mereka itu seringnya bercandanya garing, tapi yang lainnya menanggapi dengan tawa yang berlebihan. Palsu banget nggak, sih? Pernah juga dulu itu seorang karyawan bank partner Bu Siska membuat kesalahan. Bu Siska merasa dirugikan dan besoknya, kepala cabang bank tersebut datang dengan membawa sekeranjang buah sebagai tanda permohonan maaf. Astaga. Sampai sebegitunya, lho.
Aku berdiri paling akhir setelah para orangtua berjalan lebih dulu menuju meja makan yang ternyata rame banget dengan makanan enak-enak.
“Sepertinya kita akan sering bertemu, Rhe.” Arsa berjalan menjajariku. Samar-samar tercium wangi parfum maskulin yang masih terasa asing di penciumanku.
Aku mengernyitkan dahi. “Maksudnya?”
Bukannya menjawab pertanyaanku, Arsa malah tersenyum mencurigakan dan berjalan mendahuluiku.

───


COMPLICATED PART 3