Sabtu, 01 November 2014

COMPLICATED Part 3




Ini boleh nggak, sih, kalau aku minta izin Papa buat ke kamar gitu? Ngantuk banget. Selesai makan siang para orangtua masih melanjutnya mengobrolnya di ruang keluarga. Mia dan Janeta sedang seru main PS sama Ares dan Arsa. Sedangkan aku, nggak tahu gimana ceritanya bisa terjebak duduk di sofa bareng para orangtua.

Aku menyikut pelan siku Mama yang duduk di sampingku, “Ma, Rhea ke kamar ya?” Aku bertanya, dan langsung mendapat tatapan tajam dari Mama.

“Ngantuk, Ma.” Aku merengek.

“Nggak sopan. Mendingan ikutan nimbrung sama Mas-mu sana.” Mama berkata setengah berbisik.

“Oke.” Aku menjawab dengan malas kemudian berdiri. Malas banget kalau harus bergabung main PS sama itu cowok dua dan Mia-Janeta. Maka aku berjalan menuju teras samping yang langsung terhubung dengan ruang keluarga. Siang ini lumayan sejuk. Halaman rumahku memang banyak tanaman, sih. Ada beberapa pepohonan tinggi dan tanaman-tanaman hias peliharaan Mama. Aku duduk di kursi rotan yang diletakkan di dekat jendela.

“Masih sekolah, Rhe?”

Aku agak kaget saat tiba-tiba Arsa muncul di sebelahku. “Oh, itu... enggak. Maksudnya udah lulus setahun lalu.” Jawabku dengan tergagap.

“Dulu, kuliah di mana?” Arsa bertanya lagi sambil duduk di kursi rotan sebelahku.

“Arva School of Fashion.”

“Ambil jurusan?”

“Fashion desainer-lah. Apalagi memang.” Ini kenapa jadi kayak dialog interviewku sama Bu Siska setahun lalu, sih? Flat banget.

Baiklah, demi memecah kecanggungan, sepertinya aku harus bertanya juga. “Emangnya pas kecil dulu kita tetanggaan, ya? Seingatku dari aku kecil rumah sebelah itu punya keluarga Pak Danang.”

Arsa tersenyum. “Itu tetangga sebelah kanan rumahmu. Aku kan tetangga sebelah kiri. Ya, itu dulu rumahku.” Arsa menatap rumah sebelah yang sekarang berdiri menjulang di depan kami.

“Ohh…”

“Kamu beneran nggak ingat aku?” Arsa menautkan kedua alisnya. Menatapku serius.

“Hehee… enggak.” Jawabku dengan cengengesan. Kami saling diam untuk beberapa detik.

“Luka dilutut kanan kamu masih ada?” Arsa bertanya.

Refleks aku langsung melihat lutut kananku. Memang ada bekas luka yang sekarang warnanya memutih. Tapi aku nggak ingat cerita dibalik luka itu.

“Kok bisa tau, sih?”

“Itu dulu kamu jatuh gara-gara ngejar aku yang ngambil boneka kamu. Nggak ingat juga?” Arsa menjelaskan. Aku menggeleng.

Speechless. Dia masih ingat gitu sama kejadian… sembilan belas tahun lalu. Aku saja sama sekali nggak ingat.

“Jangan-jangan boneka beruang yang aku kasih buat hadiah perpisahan kita itu udah kamu buang lagi?” Arsa bertanya lagi. Boneka beruang? Hadiah perpisahan?

“Boneka beruang warna coklat itu bukan, sih?” Aku bertanya ragu. Wajah Arsa terlihat sumringah. Dia mengangguk mengiyakan. “Diminta sama ponakanku. Ya aku kasih aja.” Wajah sumringah Arsa berubah jadi kecewa.

Sampai segitunya? Aku saja yang punya boneka itu biasa-biasa saja. Lagipula, masa iya segede ini masih mainan boneka. Seingatku, aku hanya punya satu boneka itu karena aku memang bukan tipe cewek pecinta boneka. Dan mengingat umurku yang saat itu sudah tujuh belas tahun, maka saat Leora ponakanku meminta boneka itu ya, aku berikan.

“Maaf, deh. Nggak tau kalau itu dari kamu.”

“It’s okay.” Arsa membuang tatapannya ke taman. “Udah gede ini juga. Masa masih mainan boneka.” Arsa melanjutkan kemudian tersenyum.

“Kamu sekeluarga emangnya pindah ke mana?” Aku bertanya.

“Jakarta.” Jawab Arsa pendek. Aku hanya manggut-manggut.

“Non Rhea.”

Aku menoleh saat mendengar suara Bik Nah. “Ya, Bik?”

“Ada tamu nyari Non.”

“Siapa?” Tumben banget ada tamu yang nyari aku.

“Ngg… lupa tanya namanya. Sekarang nunggu di teras depan.” Jawab Bik Nah kemudian berlalu.

“Mau ikut?” Aku menatap Arsa.

“Nemuin tamu kamu, gitu?”

“Ya kali mau ketemu sama pohon Rambutan yang Tante bilang tadi.” Aku menjawab dengan candaan. Arsa tertawa pelan.

“Nggak, deh.”

“Ya udah. Aku tinggal kalo gitu.” Aku berkata kemudian berjalan menyusuri teras samping yang langsung terhubung dengan teras depan. Agak kaget saat mendapati Mas Asta duduk di salah satu kursi yang ada di teras.

“Mas Asta?”

“Eh, Rhe. Tadinya aku telepon kamu, tapi nggak diangkat. Makanya langsung masuk aja. Aku ganggu acara keluarga kamu, ya?” Mas Asta berkata.

“Ah, enggak kok. Cuma temen-temennya Mama. Lagi reuni kayaknya.” Aku duduk di kursi satu lagi. “Ada perlu apa, Mas?”

“Oh, ini. Ada titipan dari Bu Siska. Tadinya beliau juga telepon kamu pas kamu belum lama ninggalin butik. Tapi nggak kamu angkat. Jadinya aku bawa aja. Kan rumah kita lumayan deket.”

“Masa, sih? Aku kok nggak dengar HPku bunyi, ya?” Bahkan sekarang aku lupa tasku tadi kuletakkan di mana. Aku menerima map dari tangan Mas Asta. Kemudian membuka untuk melihat isinya.

“Itu hasil rapat hari ini. Ada perubahan susunan acara. Kamu diminta untuk kertik ulang. Terus fotokopi sebanyak dua puluh lembar untuk rapat besok malam.”

“Rapat lagi?” Aku memekik tertahan.

Mas Asta tersenyum maklum. “Capek, ya, pulang malem terus?”

“Iya. Sampek tengah malem gitu. Udah capek, ngantuk, masih harus nyetir sejauh Hr. Muhammad-Rungkut lagi.”

“Mau pulang bareng?”

Pengen rasanya langsung teriak, ‘Mau banget, Mas.’ “Ngerepotin lagi dong ceritanya.” Aku tersenyum.

“Ya udah. Aku pulang aja. Kamu kan masih ada tamu, nggak enak kalau kelamaan ninggal mereka.” Mas Asta berdiri. Aku ikut berdiri.

“Tamu Mama, kok. Thanks ya, Mas, udah mau jauh-jauh nganterin titipan Bu Siska.” Aku tersenyum sopan.

“Sama-sama.”

Bersamaan dengan itu, segerombol manusia yang sedari tadi sibuk ngobrol di ruang keluarga muncul dari ruang tamu. Obrolan mereka langsung terhenti dan menatapku sama Mas Asta bergantian. Mas Asta mengangguk dan tersenyum sopan.

“Siapa, Rhe?” Mama bertanya dengan pandangan penasaran.

“EO buat acara festival butik, Ma. Ada urusan kerjaan.” Jawabku. Aku yakin, setelah semua orang ini pergi, Mama pasti akan menanyaiku macam-macam. Beliau nggak akan percaya begitu saja dengan jawabanku.

“Pulang ya, Rhe.” Mas Asta berpamitan, kemudian menyentuh pelan pinggangku. Sumpah, aku lumayan kaget dengan tindakan Mas Asta barusan. Bisa gitu ya, ngelakuin hal kayak begitu di depan orangtuaku dan teman-temannya.

“Mari semua.” Mas Asta menyapa semua orang kemudian berjalan keluar gerbang menuju mobilnya.

Suasana tiba-tiba terasa canggung. Semua mata masih terarah padaku. Memang sebegitu anehnya, ya, melihat laki-laki dan wanita hanya berdua?

───

“Yakin itu EO acara kantor kamu?” Mama bertanya padaku begitu semua orang pulang.

“Iya, Ma. Dia nganter titipan Bu Siska, nih.” Aku menunjukkan map yang dibawa Mas Asta tadi. Mama masih menatapku curiga.

“Mama nggak suka kalau kamu dekat sama orang tadi.” Tegas Mama mengatakan itu. Apa-apaan ini?

“Apaan sih, Ma. Emangnya kenapa kalo aku deket sama Mas Asta?” Aku menatap Mama minta penjelasan.

“Cowok kok cantik begitu.”

“Itu bukan cantik, Ma. Tapi rapi. Karena dia tipe cowok metroseksual yang memperhatikan banget penampilannya.” Mama terlihat ragu dengan pembelaanku. “Mama nggak ngira kalau Mas Asta itu gay, kan?”

“Dari penampilannya saja sudah kelihatan lho, Rhe. Dan setahu Mama, cowok model begitu kebanyakan memang gay.”

Hah? Seriusan itu Mamaku yang barusan ngomong? Kok jadi sarkas begitu? Oke, memang Mas Asta itu tipe cowok metroseksual yang memeperhatikan penampilan banget. Mukanya juga sehalus mukaku yang cewek ini. Yang aku yakin dia dapat dari perawatan di klinik kecantikan. Tapi bukan berarti dia gay, kan? Lagipula aku juga nggak ngelihat ada bedak di wajah Mas Asta.

“Mama itu suka ngasal, deh. Udah, ah. Rhea mau ngerjain tugas dari Bu Siska.” Kataku kemudian meninggalkan Mama yang masih berdiri di teras. Sedangkan Ares dan Papa sudah masuk sejak tamu mereka pulang tadi.

Aku melihat Papa sama Ares lagi main PS. Iya, Papaku yang umurnya lima puluh tahun lebih itu, masih suka main PS. Kayaknya hobi PS Ares itu ya turunan dari Papa ini. Aku berjalan melewati mereka untuk menuju kamarku yang ada di lantai dua.

“Rhea?”

Aku berhenti di ujung pintu saat Mama memanggilku. Apa lagi, sih? “Kenapa, Ma?” Aku menatap Mama yang kini berdiri di samping Papa.

“Mama lupa. Nanti malam kita ke rumah Om Wiryo. Kamu nggak ada acara, kan?”

Ya Tuhan. Baru ketemu, malamnya mau ketemu lagi? “Mau ngapain?”

“Kamu itu mau dijodohin sama Arsa.” Ares menyahut tanpa menatapku. Yang langsung mendapat pukulan dibahu oleh Mama. Aku melongo. Ini si Ares beneran apa ngaco, sih?”

“Apaan?” Aku bertanya.

“Om Wiryo ngundang keluarga kita buat dinner.” Mama menjawab.

“Bukan. Yang dibilang Ares tadi.” Aku menjelaskan.

“Ya apa salahnya? Arsa anak yang baik, ganteng, mapan. Mama sama Papa juga kenal baik sama orangtuanya. Daripada cowok cantik tadi.”

Seriusan, deh. Mama kok nyebelin banget sih, ngomongnya? Tega banget ngatain cowok yang lagi ditaksir anaknya dengan sebutan cowok cantik.

“Siti Nurbaya udah mati kali, Ma. Nggak usah berusaha buat nyiptain Siti Nurbaya baru, deh.” Aku berkata kemudian membalik tubuh dan berjalan menaiki tangga. Tidak ada yang berkomentar. Aku hanya mendengar cekikian Ares.

Jadi, inti dari kedatangan keluarga Ontowiryo ke rumahku siang ini nggak cuma buat ngomongin masalah bisnis doang, tho. Itu lebih ke mereka ingin mengenalkan aku dengan Arsa. Alias menjodohkan kami. Pantas saja, kenapa Papa sama Mama keukeuh banget kalau aku harus ketemu keluarga Ontowiryo ini.

Apa tadi? Perjodohan? Jangan harap. Aku nggak mau dijodoh-jodohkan kayak begitu. Kayak aku nggak laku saja. Ya memang sih, sekarang aku lagi jomblo. Tapi bukan berarti nggak laku, kan? Lagipula, aku kan lagi naksir Mas Asta. Dan melihat dia care ke aku akhir-akhir ini, kayaknya dia juga tertarik padaku. Iya, KAN?

───

COMPLICATED PART 4

Sabtu, 05 Juli 2014

COMPLICATED Part 2




Ya Tuhan, apa dosaku dimasa lalu sehingga saat hari libur seperti ini pun masih saja ada yang mengganggu. Kenapa juga sebelum tidur semalam aku nggak matikan saja itu handphone? Sehingga pagi buta begini nggak akan ada yang menggangguku.
Dengan paksa aku membuka mataku yang rasanya masih sangat mengantuk. Siapa, sih, yang nggak tahu tata karma banget begini. Aku mencari-cari handphone masih dengan mata terpejam. Ini dimana, sih handphoneku. Bunyinya nyaring tapi kok nggak ketemu-ketemu. Ough, ternyata nyelip di bawah bantal.
“Halooo?” Aku menyapa dengan malas-malasan.
“Maaf Rhea, hari libur begini mengganggu.”
Mendengar suara Bu Siska di seberang sana mataku sontak melebar dan aku langsung bangun terduduk. “Oh, Ibu. Nggak pa-pa kok. Ada yang bisa dibantu?”
Aku berkata dengan nada sopan dan mengangguk-angguk sopan. Seakan-akan Bu Siska itu ada di depanku. Nggak tahu kenapa, kalau berhadapan atau berbicara dengan Bu Siska mendadak jadi sopan. Mungkin karena pembawaannya yang berwibawa sehingga membuat membuat semua orang menghormatinya.
“Saya hanya mau mengingatkan soal naskah pidato pesanan saya kemarin.”
Aku langsung menepuk jidatku sendiri. Karena kemarin seharian aku sibuk dengan ID card peserta bazar dan panitia, maka aku melupakan kertas pidato Bu Siska yang minta diketik ulang. Rencananya ingin aku ketik semalam. Tapi karena badanku sudah sangat lelah, jadi aku menundanya.
“Oh, sudah, Bu. Ibu mau saya antar jam berapa?” Bebohong untuk kebaikan nggak dosa, kan? Iya, untuk kebaikan diriku sendiri maksudnya.
Bu Siska memang baik, jarang marah. Kecuali kalau kesalahan kami sebagai karyawan itu sudah sangat fatal. Tapi, marahnya Bu Siska itu nyeremin. Percayalah, sekali aja ngelihat Bu Siska marah, lain kali nggak akan mau mengulangi lagi.
“Sejam lagi?” Jawab Bu Siska yang entah itu pertanyaan atau pernyataan.
“Sejam lagi saya berangkat dari rumah ya, Bu? Soalnya ini baru bangun.” Jawabku.
“Jam segini baru bangun?” Bu Siska berkata dengan nada terkejut. Maka aku menoleh untuk menatap jam dinding bulat warna putih di dinding kamarku yang berwarna nude. Oh, ternyata udah nggak pagi lagi, tho? Jam sembilan lewat banyak.
“Iya, Bu. Semalam habis begadang sama Kakak saya nonton bola sambil ngerjain pesenan Ibu ini.” Jawabku sekenanya.
“Oh. Ya sudah. Saya harap nggak sampai sejam lagi kamu sudah sampai. Terima kasih.” Kata Bu Siska kemudian memutus sambungan telepon.
Aku menghembuskan napas lega. Tapi sesaat kemudian, seperti tersengat aku bangun dari tempat tidur. Berjalan menghampiri tas kerjaku yang kuletakkan di meja dekat jendela. Meja yang sewaktu sekolah dan kuliah dulu kugunakan sebagai meja belajar. Tapi kini beralih fungsi sebagai meja kerja. Buat ngerjain apa saja.
Aku menyalakan laptopku dan dengan cepat mengetik ulang kertas Bu Siska yang penuh coretan kemarin itu. Kok serasa flash back ke masa SMA dulu, ya? Bangun subuh demi mengerjakan PR yang belum aku kerjakan. Padahal sudah harus dikumpulkan pagi itu juga. Aah, kebiasaanku itu kok ya nggak berubah-berubah.
───
“Pagi semuaa?” Aku berteriak lantang untuk menyapa orang satu rumah. Ares─kakakku─sedang menonton Doraemon. Ya ampun, umur hampir tiga puluh tahun nontonnya masih Doraemon. Emm,, sebenarnya aku juga, sih.. J
Papa duduk di sebelah Ares dengan koran di tangannya. Sedangkan Mama lagi sibuk sama Bik Nah di dapur. Nggak tahu lagi masak apa. Dan, mereka semua entah kebetulan atau bagaimana, menjawab sapaanku dengan serempak.
“Mau kemana udah rapi begitu?” Ares menatapku dari kepala sampai kaki dengan tatapan seakan-akan celana pendek sepaha warna krem dan polo shirt warna putih yang kukenakan ini adalah bikini.
“Mau ke butik buat anter naskah pidato Bu Siska. Kemarin belum kelar.” Jawabku sambil berjalan menuju dapur yang terletak bersebelahan dengan ruang keluarga yang hanya dibatasi rak kayu setinggi satu meter dengan lebar empat meter. Rak kayu yang digunakan untuk menyimpan buku koleksi Papa dan Mama.
Kami, satu keluarga ini penggila buku semua. Kalau Papa jelas buku tentang bisnis. Mama buku apa saja. Ares, jelas buku tentang fotografi karena itu memang bidang kerjanya. Sedangkan aku, kebanyakan fiksi dan beberapa buku non fiksi tapi yang ringan.
“Kamu mau kemana, Rhe?” Mama bertanya sambil tetap sibuk memotong sayur.
“Ke butik, Ma.” Jawabku sambil mengambil gelas dari rak. Menuang air putih yang ada di teko kaca di atas meja.
“Ini kan Sabtu, Rhe.” Mama Bertanya lagi.
Aku menengguk minuman dulu baru menjawab Mama. “Ada kerjaan yang aku bawa pulang. Dan Bu Siska mau aku anter kerjaan itu sekarang. Ya udah, Rhea berangkat dulu ya, Ma.” Aku berkata sambil menghampiri Mama kemudian mencium pipi kanannya. Lalu aku berjalan meninggalkan dapur.
“Tapi jam makan siang bisa pulang, kan?” Mama bertanya setengah berteriak.
“Nggak janji, Ma.” Aku menjawab sambil terus berjalan. Mama masih saja berkata tapi aku nggak menggubrisnya. Ini sudah hampir satu jam lewat dari waktu Bu Siska telepon tadi. Kalau aku nggak buru-buru berangkat, bisa kena amuk beneran.
“Sebelum jam makan siang usahain sudah pulang ya, Rhe.” Kali ini Papa berkata saat aku melintasi ruang keluarga. Aku menghentikan langkah. Kalau Mama cerewet meminta semua anggota keluarga hadir di meja makan saat jam makan itu wajar. Kalau Papa? Mencurigakan. Ini ada apa, sih? Mau ada Presiden datang?
“Kenapa emang, Pa?” Aku bertanya.
“Keluarga Om Ontowiryo mau datang.” Jawab Papa yang kini tatapannya kembali ke koran.
“Oh.” Jawabku dengan anggukan. Kayak aku tahu saja siapa Om Ontowiryo. “Oke. Rhea berangkat dulu. Assalamu’alaikum.” Aku berkata sambil ngeloyor pergi. Aku sudah benar-benar telat. Dan nggak mau kena amukan Bu Siska yang langka banget itu.
───
Rekor tercepatku. Jarak Rungkut – Hr. Muhammad hanya dengan dua puluh menit. WOW nggak, tuh? Dari Surabaya ujung Timur ke Surabaya ujung Barat cuma dua puluh menit. Nggak usah tanya kecepatan laju mobilku berapa. Yang penting, aku sekarang tiba di butik dengan sehat sentosa tanpa kurang suatu apa pun.
Aku turun dari mobil. Berjalan dengan setengah berlari masuk ke butik. Mobil Bu Siska dan beberapa mobil yang tidak kukenal terparkir manis di depan butik.
“Siang, Mbak Rhea.” Fitri, salah seorang SPG butik menyapaku.
“Siang. Bu Siska ada?” Aku bertanya basa-basi pada Fitri. Padahal jawabannya sudah pasti ada.
“Ada di ruang rapat.” Fitri menjawab dengan santun.
“Hah? Rapat lagi?” Aku bertanya dengan mata melotot. Itu Ibu Bosku nggak capek apa, ya? Weekend begini masih saja kerja.
“Iya, Mbak. Sama pihak EO.”
“Ya udah. Aku naik dulu.” Kataku sambil berjalan menuju tangga untuk ke lantai tiga.
Harsono Clothing ini terdiri dari empat lantai. Lantai pertama dan kedua untuk butik. Lantai tiga untuk kantor, dan lantai empat untuk gudang. Sedangkan pabriknya terletak terpisah. Tapi nggak jauh juga, kok. Terletak di ruko bagian dalam, tapi masih satu kompleks pertokoan. Sedangkan butiknya ini di pinggir jalan Raya.
Aku langsung menuju ruang rapat yang terletak diujung ruangan. Bersebelahan dengan ruangan Bu Siska. Samar-samar aku mendengar suara Bu Siska yang sedang berbicara. Aku mengetuk pintu. Pada ketukan pertama langsung ada sahutan. Maka aku membuka pintu dan mendapati Bu Siska sedang rapat bersama Mas Asta dan tiga karyawannya. Semuanya cowok. WOW banget nggak, sih, Bu Siska ini? Sesiangan ini sudah dikerubutin cowok saja. Cakep-cakep lagi.
“Selamat siang.” Aku menyapa semua orang yang ada di ruang rapat, yang sedang menatapku.
“Siang. Masuk, Rhe.” Bu Siska mempersilahkanku. Aku tersenyum dan berjalan menghampirinya. Menyadari bahwa Mas Asta saat ini sedang mengamatiku sedari masuk hingga berdiri di samping Bu Siska, membuat dadaku berdebar kencang.
“Ini pesanan Ibu kemarin.” Aku menyerahkan Map biru yang berisi naskah pidato Bu Siska dan susunan acara.
Bu Siska menerimanya. Kemudian membaca sekilas naskah yang kuketik. Kemudian berkata, “Oke. Terima kasih ya, Rhea.”
Aku tersenyum. “Sama-sama, Bu. Ada yang bisa saya bantu lagi?” Sumpah, itu cuma basa-basi. Aku berharap banget Bu Siska menjawab tidak.
“Emm… sepertinya nggak ada. Maaf, ya, sudah mengganggu hari libur kamu.”
Syukurlah. Maka aku menjawab, “Nggak pa-pa, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu.” Aku mengangguk sopan. Lalu menyapa semua orang yang ada di ruangan itu. “Mari semuanya.” Yang dijawab serempak oleh Mas Asta dan anak buahnya.
Handphoneku berdering begitu keluar dari ruang rapat. Aku mengaduk-aduk isi tasku yang ternyata rame banget. Ini handphone dimana, sih? Nah, ketemu. Papa yang telepon.
“Ya, Pa?” Aku menjawab telepon sambil terus berjalan menuruni tangga.
“Kamu dimana? Buruan pulang.”
Ini Bapakku kenapa, sih? Tumben banget nanyain aku lagi di mana. Lagipula, perasaan aku tadi sudah bilang kalau mau ke butik, deh.
“Lagi di butik, Pa. Tadi kan Rhea udah bilang. Baru juga pergi tiga puluh menit yang lalu.” Aku bicara dengan sedikit ngos-ngosan saat menuruni tangga lantai dua. Ini Bu Siska nggak ada niatan untuk pasang lift apa, ya? Atau escalator, gitu? Naik turun tangga ke empat lantai itu lumayan capek, lho.
“Ya sudah. Buruan pulang. Ini Om Ontowiryo sekeluarga sudah datang.” Kata Papa akhirnya.
“Oke, Pa.” Aku berkata sambil melirik Gucci Chrono warna putih yang melingkari pergelangan tangan kiriku. Jam sebelas lebih lima menit. Katanya jam makan siang. Masih sejam lagi, kali.
“Nggak pakai lama.” Papa berkata kemudian memutus sambungan telepon tanpa berkata apa-apa.
 Siapa, sih, Om Ontowiryo sekeluarga itu? Sampai Papa berharap banget seluruh keluarganya ikut menyambut keluarga itu orang. Calon presiden? Kayaknya bukan deh, ya. Aku tahu kali, capres kita itu kan yang merah sama yang putih itu.
Entahlah. Daripada telat pulang dan membuat Papa marah─yang biasanya berimbas ke adegan pencabutan segala fasilitas yang biasa kugunakan─lebih baik buru-buru pulang. Dan, rekor kedua pagi ini. Karena nggak tahu kenapa hari ini jalanan Surabaya kok lumayan lengang, aku tancap gas dengan kecepatan tinggi. Alhasil, cukup dua puluh menit untuk tiba di rumahku yang letaknya hampir diujung Timur Surabaya ini.
Ini rumahku kok banyak mobil, ya? Ada tiga mobil asing. Gerbang rumahku juga terbuka lebar banget. Nggak kayak biasanya yang tertutup rapat. Setelah memarkir mobil, aku keluar dan berjalan mendekati Pak Tarjo yang sedang mencuci mobil Papa. Tukang kebun sekaligus penjaga rumahku.
“Pak, ada acara apaan, sih?” Aku bertanya pada Pak Tarjo.
Pak Tarjo mengerutkan dahinya kemudian berkata, “Lah? Kok Non bisa nggak tau? Lagi ada pertemuan keluarga, kan?”
“Loh? Katanya Papa tadi, keluarga Om Ontowiryo yang mau datang. Kok jadi pertemuan keluarga begini?”
“Ya saya ndak tau, Non.” Jawab Pak Tarjo cuek sambil tetap sibuk menggosok mobil dengan spons yang penuh busa.
“Ya udah. Aku masuk, deh.” Aku berjalan masuk sambil mengubek-ubek kantong Doraemon-ku lagi (baca tas), karena aku mendengar handphoneku berbunyi.
Mataku langsung melebar begitu mendapati invite dari Mas Asta. Untuk lebih meyakinkan, aku melihat DP-nya yang terlihat cool karena dia memakai kemeja warna putih dengan lengan digulung sampai siku. Nggak tahu kenapa, dadaku kembali berdebar. Dengan tersenyum, aku meng-accept permintaan Mas Asta.
Eh? Kok ruang tamu sepi? Terus ini tamu tiga mobil pada ke mana? Samar-samar aku mendengar suara orang tertawa dan berbincang dari ruang keluarga. Wow? Sepenting apakah tamu ini sehingga Papa sama Mama membawanya ke ruang keluarga? Selama ini kan, hanya keluarga dekat saja yang dijamu di ruang keluarga. Aku kok makin penasaran, ya, sama keluarga Om Ontowiryo ini. Jangan-jangan mereka itu sahabat lama orangtuaku. Kemudian aku adalah anaknya yang dititipkan ke Mama dan Papa. Dan Om Ontowiryo itu adalah pemilik kilang minyak terbesar di Timur Tengah. Oh, oke. Lupakan! Terlalu sinetron kayaknya.
“Rhea?” Seorang wanita seusia Mama memekik girang begitu melihatku muncul diambang pintu. Yang kukenali sebagai Tante Rita. Pemilik sebuah Wedding Organizer terkemuka di Jogja. Sahabat sehidup sekarat Mama semenjak SMA. Iya, Mamaku asli Jogja. Sedangkan Papa asli Surabaya.
“Tante Rita? Apa kabar?” Aku menanggapi dengan memekik juga. Kemudian aku menghampiri Tante Rita yang juga sedang berjalan menghampiriku. Lalu kami melakukan ritual wanita kalau bertemu. Pelukan dan cium pipi kanan-kiri.
“Baik. Kamu kok nggak pernah main ke Jogja lagi, sih?” Tante Rita berbicara dengan kemayu. Memang seperti itulah gayanya kalau sedang bicara. Kalau orang belum kenal mungkin akan menganggapnya benar-benar kemayu (dalam bahasa Jawa artinya sok cantik).
“Lagi sibuk sama kerjaan, Tan.” Aku menjawab sambil mengamati Tante Rita yang sekarang jauh lebih kurus ketimbang tiga tahun lalu, pertemuan terakhir kami. Dietnya sukses sepertinya.
“Rhea. Sapa yang lainnya juga, dong.” Mama menegurku. Aku mengedarkan pandangan ke orang-orang yang ada di ruang keluarga. Aku mengenal semua anggota keluarga Tante Rita. Tapi, merasa asing dengan tiga orang lain yang sekarang menatapku dengan penuh minat.
Aku menyalami mereka satu per satu. Om Dibyo suami Tante Rika, Janeta dan Mia anak-anak Tante Rita yang masih SMA kalau nggak salah. Lalu menyalami tiga orang asing tadi.
“Ini Om Wiryo, Tante Syarika, dan Arsa anak mereka.” Mama menjelaskan tanpa aku memintanya. Dan senyum nggak pernah hilang dari bibirnya.
Akhirnya aku menyalami keluarga Ontowiryo dan memperkenalkan diri. Emm, sebentar. Aku kok baru sadar ya, kalau siapa tadi, Arsa ya? Ternyata lumayan keren juga. Diam-diam aku mengamati penampilannya. Walaupun sedang duduk, aku bisa tahu kalau postur ini cowok tinggi. Sekitar seratus delapan puluh. Badannya, tipe-tipe badan Rio Dewanto yang suka bikin cewek tiba-tiba lapar itulah. Apalagi saat dibalut kemeja hitam lengan panjang dengan ujung dilipat ke atas. Duh… sepertinya semua cowok suka melakukan itu, ya? Kulitnya kuning langsat khas Jawa. Matanya tajam, alisnya tebal, hidungnya mancung, rahangnya bergaris tegas, dagu dan pipinya ditumbuhi bulu-bulu halus, dan… senyumnya manis.
“Rhe, duduk dong.” Suara Mama menyadarkanku. Aku bisa merasakan wajahku memanas. Semoga saja mereka tidak menyadari hal itu. Aku berjalan mendekati Mama dan duduk di sampingnya. Tepatnya di antara Papa dan Mama.
“Kamu ingat Arsa nggak, sih, Rhe?” Kali ini Papa yang bertanya.
“Enggak.” Jawabku jujur.
“Masa kamu lupa? Mereka dulu tinggal di sebelah, lho. Arsa ini temen main kamu pas kecil dulu.” Papa berkata.
“Nggak inget, Pa.” Aku menjawab dengan tersenyum.
“Dulu Arsa suka nakut-nakutin kamu kalau pohon rambutan depan rumah kamu itu ada hantunya. Sampai kamu menangis dan nggak mau tidur sendiri selama berminggu-minggu.” Tante Syarika menyahut. Aku hanya nyengir. Sumpah, nggak ingat sama sekali.
“Waktu itu kan mereka masih kecil, Ma. Apalagi Rhea. Masih empat tahun kalau nggak salah.” Om Ontowiryo menyahut.
Aku menatap Arsa yang hanya senyum-senyum. Duh, cobaan banget, nih. Senyumnya menggoda banget.
“Arsa, kamu nggak mau nanyain kabar Rhea?” Tante Syarika menatap Arsa penuh arti.
“Oh? Apa kabar, Rhea?” Arsa menatapku. Suaranya khas cowok banget. Berat, dalam. Aduduu, jadi deg-degan begini sih?
“Baik.” Jawabku singkat. Bukannya nggak sopan, hanya bingung mau bicara apa lagi.
“Kalian harus sering-sering ngobrol. Biar saling mengenal dan kembali akrab kayak dulu.” Tante Syarika berkata lagi yang ditanggapi senyum oleh Mama dan Papa.
Sebentar. Ini kayaknya aku kok menangkap sinyal-sinyal nggak beres, ya? Orangtuaku sama orangtuanya Arsa, kok mencurigakan banget. Ini nggak akan ada cerita Siti Nurbaya, kan?
Selanjutnya, para orangtua sibuk membicarakan ini itu. Yang kalau aku tidak salah tangkap isi pembicaraan mereka, sepertinya Papa, Om Wiryo, dan Om Dibyo berencana untuk bekerjasama membangun restoran Jawa di Surabaya sini. Oh, ngomongin bisnis, tho? Terus, ini anak-anaknya dianggurin aja, gitu?
“Kita ke meja makan aja, yuk? Sudah keroncongan ini perut.” Papa berkata yang disambut tawa dari semua orang. Apanya yang lucu, coba?
Kadang-kadang suka heran sama para pelaku bisnis atau big-big bos kalau sedang bersama seperti ini. Seperti yang kulihat juga di kantorku antara Bu Siska dan rekan-rekan bisnisnya. Mereka itu seringnya bercandanya garing, tapi yang lainnya menanggapi dengan tawa yang berlebihan. Palsu banget nggak, sih? Pernah juga dulu itu seorang karyawan bank partner Bu Siska membuat kesalahan. Bu Siska merasa dirugikan dan besoknya, kepala cabang bank tersebut datang dengan membawa sekeranjang buah sebagai tanda permohonan maaf. Astaga. Sampai sebegitunya, lho.
Aku berdiri paling akhir setelah para orangtua berjalan lebih dulu menuju meja makan yang ternyata rame banget dengan makanan enak-enak.
“Sepertinya kita akan sering bertemu, Rhe.” Arsa berjalan menjajariku. Samar-samar tercium wangi parfum maskulin yang masih terasa asing di penciumanku.
Aku mengernyitkan dahi. “Maksudnya?”
Bukannya menjawab pertanyaanku, Arsa malah tersenyum mencurigakan dan berjalan mendahuluiku.

───


COMPLICATED PART 3

Jumat, 04 Juli 2014

Jadi Anak Kosan Itu Nggak Selalu Enak



Kata banyak anak kosan, hidup sendiri di kota orang itu enak, bebas, mau ngapain aja nggak ada yang larang dan nggak ada yang usil ngegosipin. Pokoknya ‘semau gue’ lah.
Enggak selamanya kayak begitu, guys. Oke, dibeberapa hal memang enak, sih. Contohnya, mau ngedate pulang jam berapa pun, kagak bakalan ada Ibu yang ngomelin kita. Mau bergaya fashion kayak bagaimana pun, nggak bakal ada yang ngegosipin juga. Karena mau bagiaman pun polah tingkah kita, toh nggak ada yang kenal kita juga.
Kayak misalnya aku, hang out bareng temen kerja. Mulai dari sepulang kerja baru balik kosan tengah malam. Enak banget memang. Bebas yang benar-benar bebas. Ya ngopi lah, nonton, nyari gebetan, shopping.
Yang lebih enak lagi saat weekend atau liburan panjang. Liburan bareng temen-temen ke luar kota. Seru-seruan, gila-gilaan. Nginep berhari-hari. Coba kalau tinggal sama orangtua, pasti nggak bakal dikasih pergi pakai nginep segala.
Tapi, walau pun bebas, kita juga harus punya aturan, lho. Karena nggak ada orangtua atau saudara yang ngontrol kelakuan kita. Yang bakal negur kita kalau kita ngelakuin hal yang diluar batas. Apalagi kita sebagai cewek. Harus benar-benar bisa jaga diri dan bertanggung jawab atas keselamatan diri kita sendiri.
Dan, NGGAK ENAKNYA adalah, kurang perhatian dari keluarga. Perhatian nggak cukup hanya kita dapatkan dari sahabat atau pacar saja. Kita juga btuuh perhatian dari keluarga. Percayalah, nggak ada yang benar-benar bisa menerima kita lahir batin kecuali orangtua atau keluarga. Sejelek apapun kita, semenyebalkan apapun kita, senggak bisa diaturnya kita, cuma keluarga yang masih mau peduli sama kita.
Yang lebih nelangsa adalah, saat kebetulan lagi nggak punya cowok. Sakit, nggak ada yang nganter ke dokter. Nggak ada yang beliin makan, karena buat bangun aja badan udah pasti nggak kuat. Bersyukur banget kalau kebetulan temen nggak lagi sibuk jadi bisa nganter ke dokter. Nggak ada yang jagain juga. Jadi, kalau badan rasanya nggak enak banget ditengah malem, haus, mau ngambil air nggak kuat berdiri, itu nelangsa banget, guys. Sumpah, aku kapok sakit di kota orang.
Sewaktu lembur terus pulang kemaleman, nggak ada yang jemput dan anter pulang ke kosan. Padahal jalan ke kosan itu agak-agak rawan buat cewek. Aku pernah ngalamin hal kayak begitu. Sering malah. Tapi paling parah yang ini. Waktu itu kantor lagi ada acara. Semacam festival kebudayaan begitulah. Aku berrtanggung jawab untuk stand jualan. Pulang paling terakhir karena harus beresin barang dulu. Yang lain udah pada pulang. Nggak ada taksi, nggak ada angkot, nggak punya kendaraan juga. Mau minta jemput cowok, dianya lagi ke laut (nggak tau ngapain, nyari hiu kali). Minta jemput temen, nggak tega udah jam dua dini hari.
Akhirnya aku nebeng supir bos yang harus anterin barang bos ke rumahnya. Karena jalan nggak muat dilewatin mobil bos yang besarnya kebangetan itu, akhirnya aku diturunin di jalan raya. Terus, untuk sampai ke kosan aku harus jalan kaki.
Banyangin, guys, jam dua dini hari. Cewek, jalan sendirian. Yang aku takutin waktu itu bukan setan. Sumpah bukan itu. Aku lebih takut dengan segerombol cowok mabuk yang tiba-tiba muncul dari gang. Mau minta tolong siapa, coba? Padahal itu udah tengah malem dan nggak ada satu orang pun yang kelihatan bentuknya.
Satu lagi yang bikin nelangsa, soal makan. Selalu beli dan kadang rasanya nggak sesuai dengan selera kita. Kadang kangeeeen banget sama masakan Ibu. Yang walaupun yang dimasak cuma itu-itu saja, tapi rasanya enak karena dibuatnya penuh cinta.
Belum lagi kalau pulang kerja. Badan capek banget. Kepala pusing gegara bingung nyari selisih antara pengeluaran dan pendapatan. Nyampek kosan nggak ada yang nyambut, nggak ada yang nawarin makan, nggak ada yang tanya ‘Gimana kerjaannya, An?’, “Kamu udah makan apa belum? Ibu masakin masakan kesukaanmu’. Kalau lagi mengalami masa seperti itu, yang bisa aku lakukan hanya nangis. Bukannya menemui suasana rumah yang hangat, yang ada aku malah menemui kamar kos yang nggak seberapa lebar dengan lampu yang belum dinyalakan. Belum lagi kalau ternyata kamar lagi berabtakan banget. Sumpah, rasanya pengen ngamuk.
Tapi, banyak pelajaran yang aku dapat setelah tinggal sendiri di kosan jauh dari orangtua. Aku jadi lebih mandiri dalam hal papaun. Nyari duit sendiri, hidupin diri sendiri, beli ini itu pakai duit sendiri, nggak pernah nyusahin orangtua lagi kalau soal duit. Bahkan, Alhamdulillah udah bisa ngasih mereka walaupun nggak banyak. Dan, aku jadi orang yang bertanggung jawab penuh atas diriku sendiri.

Jadi, jadi anak kosan itu ada enaknya dan enggaknya, kan? Ini ceritaku, mana ceritamu? (iklan banget yak… J)

Siapa Bilang Punya Saudara Cowok Enak?



Punya saudara cowok itu enak? Menurutku biasa saja. Atau nggak tahu juga kalau hanya aku yang merasakan begitu.
Aku punya dua saudara cowok. Kakak dan Adikku. Adikku, walaupun lebih muda dariku, tapi dia terlihat lebih seperti Kakakku karena postur tubuhnya yang lebih besar dan lebih tinggi dariku. Selain itu karena kami hanya beda setahun, jadi terlihat seperti seumuran.
Pengennya, mereka itu care sama aku, mengayomi aku sebagai saudara perempuan satu-satunya, atau sesekali aku juga ingin mereka over protektif padaku. Melarangku melakukan ini, melakukan itu, jangan deket sama cowok yang seperti ini yang  seperti itu, mau nganter kemana pun aku pergi, mau ngejagaian aku, berada dibarisan terdepan saat aku diserang orang yang membenciku
Sedangkan mereka, dua saudaraku ini, sama sekali nggak care sama aku. Kakakku, dari zamannya kami masih tinggal bersama sampai sekarang sudah berpisah, nggak ada perhatiannya sama sekali. Adikku, kami tinggal di kota yang bertetanggaan. Hanya tiga puluh menit juga sampai ke kosanku. Tapi sekali pun dia tidak ada inisiatif untuk menjengukku. Untuk sekedar tahu keadaanku. Baru mau datang kalau aku yang memintanya. Itu pun dengan sedikit paksaan.
Aku hanya ingin, walaupun hanya sekedar melalui pesan singkat, mereka mau menanyakan kabarku. Bukan seperti selama ini. Menghubungiku hanya karena mereka butuh bantuanku. Ada kalanya juga aku yang butuh bantuan mereka. Ada kalanya aku butuh tempat bersandar. Butuh teman berbagi saat tidak mungkin menceritakan masalah yang terlalu privasi ke sahabat. Tapi mereka nggak peduli. Nggak mau tahu. Terkadang aku merasa, seperti akulah anak tertua dalam keluargaku karena selalu aku yang dimintai bantuan. Selalu aku yang mengalah.
Jangan salahkan aku kalau pada akhirnya rasa sayang dan careku pada mereka berkurang atau bahkan hilang. Karena rasa sayang, bisa hilang karena terbiasa nggak ada. Bahkan, seringkali teman-temankulah yang lebih rela berkorban menjemputku saat aku pulang lembur kemalaman. Saat aku butuh seseorang untuk membantuku. Maka, jangan salahkan aku kalau akhirnya aku lebih menganggap orang lain itu sebagai saudara daripada mereka.
Bukan. Bukannya aku mengeluh. Aku hanya menginginkan perhatian mereka sebagai saudaraku. Aku hanya ingin mereka tahu kalau aku sayang dan membutuhkan mereka. Perhatian mereka.
Andai saja ada mesin pemutar waktu, aku ingin mengembalikan keadaaan ke masa kami kecil dulu. Kakak yang selalu melindungiku, Adik yang kemana-mana ingin selalu bersamaku. Bercanda, tertawa bersama. Nggak seperti sekarang, bahkan untuk sekedar ngobrol pun rasanya sangat sulit.
Aku akan menunggu, sampai saatnya masa itu terulang kembali. Tawaku, tawa Kakakku, tawa Adikku, tawa Ayah dan Ibu terdengar disaat yang bersamaan.


I hope, God heard my prayer. Hopefully.