Jumat, 20 Februari 2015

My Birthday Giveaway



Syukur Alhamdulillah aku panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hidup yang begitu indah selama dua puluh empat tahun ini. Terima kasih telah menempatkanku di antara keluarga dan sahabat yang begitu baik dan perhatian padaku.
Ahh… nggak kerasa sudah selama itu aku hidup di dunia. Kayaknya baru kemarin main kejar-kejaran sama adik, main boneka sama temen sekolah, main petak umpet, nangis gara-gara ditinggal Ibu-Bapak kondangan terus aku nggak diajak.
Bicara soal ulang tahun, ada yang bilang bahwa ulang tahun itu artinya hanya bertambah tua dan semakin berkurang masa hidup di dunia. Sedangkan hal baik yang kulakukan masih sedikit. Di usiaku yang semakin dewasa ini aku seperti diingatkan akan hal itu. Karena itu, aku ingin melakukan hal-hal baik sebanyak mungkin. Salah satunya bagi-bagi buku gratis untuk 2 orang beruntung.
Giveaway ini aku adakan sebagai rasa syukurku atas bertambahnya usia. Semoga Tuhan masih sudi memberiku kebahagiaan dan mewujudkan banyak hal yang ingin kuraih. Amin.

Baiklah…. It’s time for giveaway. Simak persyaratannya baik-baik ya.

Persyaratan:
  1. Peserta berdomisili di Indonesia (maaf, khusus untuk pulau Jawa).
  2. Follow twitter @AntikaAnis, follow blog ini (bisa via apa pun), add akun wattpad-ku di http://www.wattpad.com/user/AnisAntika (nggak wajib), berteman dengan facebook Anis Antika (untuk yang nggak punya twitter).
  3. Wajib share link giveaway ini di twitter atau facebook kamu. Jangan lupa mention atau tag aku dan menggunakan tagar #GAComplicated dan ajak minimal tiga temanmu untuk mengikuti kuis ini. Boleh melalui twitter atau facebook . Contoh: Hai @RLeina @Ass @BM yuk ikutan GA Complicated berhadiah novel Rhapsody dari @AntikaAnis di (tulis link GA ini) #GAComplicated

  1. Baca post COMPLICATED mulai dari part 1 sampai part terakhir yang sudah di post sampai saat ini (yaitu part 5) di sini ATAU di sini

  1. Buatlah tokoh imajinasi (harus artis, boleh dalam atau luar negeri) yang menurut kalian sesuai dengan tokoh-tokoh yang ada di COMPLICATED. Berikan alasannya juga kenapa artis tersebut cocok memerankan tokoh itu. Jangan lupa sertakan foto artis tersebut. Tokohnya antara lain, Rhea, Arsa, Asta dan satu lagi kalian boleh pilih (Siska, Ares, orangtua Rhea dan Arsa). Tulis nama, akun twitter atau facebook, dan kota domisili di bagian akhir tulisan.
  2. Cantumkan nama kalian, kota tinggal dan akun twitter kalian.
  3. Post tokoh imajinasi kalian ke blog masing-masing (boleh ber-platform apa saja), kalau tidak punya boleh di note facebook. Beri judul COMPLICATED Star Contest. Kemudian kirimkan link-nya ke aku bisa melalui facebook atau twitter.
          Contoh:
           Twitter : Hai @AntikaAnis ini link COMPLICATED Star Contest aku ya (tulis link-nya)                       #GAComplicated
           Facebook : Hai Anis Antika ini link COMPLICATED Star Contest aku ya (tulis link)                             #GAComplicated. (khusus FB kirim di wall aku atau sebut aku di statusmu.
    8. Sertakan banner “COMPLICATED Stars Contest” diatas, dalam post kalian serta cantumkan               tulisan “Tulisan ini di buat untuk mengikuti #GAComplicated dari Anis Antika” di paling           bawah tulisan.

Giveaway berlangsung dari tanggal 20 Februari sampai tgl 28 Februari (pukul 23.59 WIB).
Pemenang akan diumumkan awal Maret 2015

Akan dipilih satu pemenang yang akan mendapatkan, eng ing eng… eks novel Rhapsody by Mahir Pradana dan Kapitan Pedang Panjang by Fira Basuki.


 

dan



SELAMAT BERIMAJINASI semuaa…!!                   
^_^
     Anis

Mimpi Sederhanaku



Mimpiku  yang ingin banget terwujud dalam waktu dekat ini adalah, pulang dan ketemu sama keluargaku. Untuk sebagian orang mungkin ini bukanlah mimpi yang luar biasa. Tapi, untuk eorang perantauan sepertiku, hal itu sangatlah luar biasa.
Aku ingin sekali pulang ke Ponorogo, ketemu keluargaku. Bilang kalau aku kangen sama mereka, sayang sama mereka. Aku ingin memeluk Ibu. Bermanja-manjaan dipangkuannya dan beliau membelai lembut kepalaku sampai aku tertidur. Aku juga ingin menghabiskan waktu sehari saja bersama mereka. Hanya ada Bapak, Ibu, kakak, aku dan adik. Ya, hanya kami berlima─seperti dulu saat aku dan saudara-saudaraku masih anak-anak. Ada Bapak yang lucu, ada Ibu yang selalu bijaksana dan adil, ada kakak yang emlindungi, dan ada adik yang seperti sahabat sendiri untukku─karena umur kami hanya beda setahun.
Aku ingin mengajak mereka berlibur ke pantai atau piknik ke gunung, atau kemana saja asal hanya kami berlima. Terus nanti bikin tenda di sana barbeque-an, makan bareng, bercanda, bertukar cerita kayak yang sering kami lakukan dulu.
Bukan karena jarak yang jauh (dari Surabaya ke Ponorogo cuma butuh jarak tempuh 5 jam), sehingga aku tidak bisa mewujudkan hal itu. Hanya saja, lagi-lagi pekerjaan yang nggak memungkinkan untuk aku untuk mewujudkan mimpi sesederhana itu, dalam waktu dekat. Setidaknya, aku butuh libur tiga hari untuk bisa pulang dan mewujudkan mimpi itu. Hanya saja, libur tiga hari itu kayaknya mustahil banget untuk waktu dekat ini.
Ya, mimpi yang sederhana. Tapi itu sangat berarti dan ingin sekali aku wujudkan. Akhir-akhir ini, setelah aku dan saudara-saudaraku sudah sama-sama dewasa, sibuk dengan urusan masing-masing─bahkan dua saudaraku sudah berkeluarga─kami jadi jarang sekali berkumpul dan ngobrol santai seperti dulu. Terlebih dua saudaraku sekarang sudah berkeluarga.
Kadang aku suka ngerasa jadi anak durhaka karena untuk sekedar meluangkan waktu demi bertemu orangtua saja nggak bisa. Agak egois memang. Aku lebih memilih pekerjaan daripada orangtua. Untuk kalian yang juga ada diposisiku, pasti mengerti alasan kenapa aku melakukan itu.
Kemudian ada mimpi sederhana yang kedua. Berkumpul kembali dengan sahabat-sahabatku. Vina, Yuyun, Ikka, Umy, Dwi dan Reni. Enam sahabat masa kecilku. Enam sahabat gilaku. Enam sahabat yang juga sering beradu argumen denganku. Yang hanya dengan mereka aku bisa menjadi diriku sendiri. Yang hanya dengan mereka aku bisa merasa bahwa dunia ini begitu indah. Yang hanya dengan mereka, aku merasa bahwa bercanda itu adalah hal yang sangat menyenangkan. Yang hanya dengan mereka, aku bisa bilang bahwa ‘sahabat itu bukan cuma bisa membuatmu tertawa, tapi juga menangis’.
Tidak jauh beda dengan keluargaku, mereka sangat penting bagiku. Mungkin mereka nggak tahu, tapi aku sungguh merasakan itu. Setiap kali pulang, aku selalu menyempatkan untuk bisa berkumpul dengan mereka. Walaupun pada kenyataannya selalu ada yang nggak bisa hadir karena kesibukan masing-masing dari kami.
Dua mimpi sederhana yang ingin kulakukan, karena kenyataannya aku nggak bisa hidup tanpa mereka. Karena aku sangat membutuhkan mereka. Karena mereka adalah bagian dari hidupku. Dan karena mereka, adalah sebagian dari bahagiaku.
Dua mimpi sederhana, yang sulit untuk diwujudkan karena situasi dan kondisi yang tidak mendukung. Satu harapan yang ada, saat lebaran nanti. Semoga, semoga Tuhan berkenan mewujudkan mimpiku itu. Amin.



Rabu, 18 Februari 2015

Sisi Lemah Laki-laki yang Tidak Diakui



Kali ini aku akan membicarakan soal sisi lain dari laki-laki yang terkenal dengan sikapnya yang tegas, keras, arogan dan egois. Sisi lemah laki-laki yang hampir nggak pernah diakui dan nggak ada yang mau mengakui. Yaitu, menangis.
Aku tidak ingin menghakimi atau pun menyalahkan mereka yang tidak mau mengakui. Namanya juga laki-laki. Mereka lebih sayang sama ego, kan? (sorry, ini fakta) Aku akan menggunakan contoh saja agar kalian para lelaki sedikit mau mengakui apa yang akan kusampaikan.
Yang kujadikan contoh kali ini adalah dua laki-laki paling tempramental, egois, arogan, kasar sekaligus paling tegas dan kuat yang pernah aku kenal. Dua orang ini adalah dua orang laki-laki yang berwajah mirip, bersifat dan berkelakuan mirip.
Ya, aku selalu menganggap bahwa mereka kuat. Mereka selalu berdiri sendiri. Tidak pernah meminta bantuan atau pun mengeluh. Mereka berjiwa pemimpin. Dan mereka membuktikannya dengan seringnya mereka terpilih sebagai pimpinan dari komunitas apa pun yang mereka ikuti. Namun, mereka tetap manusia. Memiliki sisi manusiawi yang selalu disangkal laki-laki mana pun. Sisi yang diharamkan dan pantang dilakukan apalagi diakui seperti yang sudah kubilang tadi. Mereka adalah Chris, kakakku. Dan Nathan, sepupuku.
Percaya nggak percaya, sudah beberapa kali aku melihat kakakku menangis. Pertama, waktu itu lebaran. Aku lupa kapan kejadiannya. Yang jelas sudah lama sekali. Mungkin waktu aku SMP kalau nggak SMA. Aku dan keluargaku seperti biasanya, bersilaturahmi ke rumah orang-orang yang dituakan di keluarga besar kami. Di sana, tanpa sengaja kami bertemu mantan pacar kakakku. Orang yang pernah dicintainya dulu itu, menghianatinya dengan menghadirkan orang ketiga. Saat itu kakakku yang menyudahi hubungan mereka. Namun wanita itu tidak menginginkan perpisahan. Harga diri kakakku terluka. Karenanya dia tidak menghiraukan sama sekali saat wanita itu pergi dari rumahku dengan berurai air mata.
Setelah sekian tahun berpisah dan akhirnya Tuhan mempertemukan mereka kembali─entah karena alasan apa─kakakku memilih untuk menghindarinya. Tidak mau menyapa atau berjabat tangan sebagai formalitas Idul Fitri. Yang kulihat setelah perempuan itu pergi, kakakku menangis tanpa suara. Dia tidak pernah mengaku saat kutanya alasan dia menangis. Itulah kali pertama aku melihat kakakku menangis.
Kedua kalinya aku melihat kakaku menangis adalah saat dia berpamitan padaku, adik dan Ibu sebelum dia pergi ke luar kota untuk bekerja dalam jangka waktu yang lama.
Ketiga kalinya, saat dia berada di titik tersulit dalam hidupnya. Dia kembali menangis. Entah karena merasa tidak sanggup lagi atau bagaimana aku juga nggak tahu. Sejak saat itu, sampai detik ini aku tidak pernah lagi melihatnya menangis.
Kemudian Nathan. Seumur hidup dan sepanjang aku kenal dengannya, aku nggak pernah mendapati dia terlihat lemah. Dia adalah adik sepupuku yang berusia diatasku setahun. Kami pernah bersekolah di SMA yang sama. Saat kelas XI dan XII berada di kelas yang sama, aku jadi sangat tahu orang seperti apa Nathan itu. Bagaimana sifat dan karakternya, yang ternyata nggak berbeda jauh dengan kakakku tadi.
Pertama dan terakhir kalinya aku melihat Nathan menangis adalah saat pemakaman Eyang Kakung Nathan yang adalah adik kandung kakekku. Aku tahu dia berusaha untuk tegar. Aku tahu dia berusaha keras menahan air matanya. Tapi, dia tetap hanya manusia biasa. Egonya dikalahkan. Dia menangis. Dia menitikkan air mata dihadapanku. Dia terisak.
Dari situlah aku baru benar-benar sadar bahwa laki-laki itu juga manusia biasa seperti halnya wanita. Memiliki hati, yang walaupun jarang untuk digunakan. Tapi, sekalinya digunakan selalu disaat yang tepat. Bukan disaat yang nggak penting-penting banget kayak yang dilakukan wanita pada umumnya. Dan sepengamatanku selama ini, yang sanggup membuat laki-laki menangis adalah… wanita dan keuarga. Iya, wanita. Aku tahu kalian para lelaki akan protes. Tapi itu fakta, dari apa yang aku amati dan lihat selama ini.
Jadi, tidak perlu lagi kalian para laki-laki mati-matian menyangkal. Tidak perlu lagi kalian gengsi mengakui bahwa kalian juga bisa memangis. Percuma! Fakta sudah menjawabnya (hweheee…. Peace man!)
Lagi pula, menangis tidak berarti lemah, kok. Percayalah, justru dengan tangis, segala rasa yang sulit diungkapkan dengan kata akan terlihat jelas. Menangis juga meringankan beban. Intinya, menangis bukanlah hal yang memalukan. Selama kalian tidak melakukannya dengan berlebihan─sambil meraung-raung dan teriak-teriak─dan pada situasi dan kondisi yang tepat.



Senin, 16 Februari 2015

Cara Sederhanaku Mengatasi Writer's Block


Dalam dunia kepenulisan, setiap penulis─entah amatir atau pun profesional─pasti pernah mengalami yang namanya writer’s block atau mandek ide. Hal ini wajar, kok. Tapi, jangan dibiarkan begitu saja karena hal ini akan sangat mempengaruhi hasil tulisan kita. Begitupun denganku. Sering sekali mengalami writer’s block. Aku menulis, tapi disamping itu saya juga memiliki pekerjaan utama sebagai staf administrasi di sebuah yayasan sosial. Disaat kepala sudah pusing dengan tumpukan laporan di kantor, mood untuk menulis pun jadi buruk yang berimbas ke mandeknya otak kita untuk menghasilkan ide.
Writer’s block, kalau dibiarkan berlama-lama tanpa berusaha membangkitkan ide lagi, yang ada tulisan kita nggak akan kelar-kelar dan akan mandek dalam jangka waktu yang lama.
Aku tipe orang yang nggak mau nulis kalau mood lagi buruk. Karena menurutku keadaan mood sangat mempengaruhi hasil tulisan. Kalau dipaksa buat nulis, yang ada cerita tulisan bakal ngaco kemana-mana. Biasanya kalau mengalami writer’s block, yang aku lakukan adalah, berhenti menulis. Kemudian aku seduh teh. Menghirupnya dalam-dalam sebelum meminumnya. Setelah itu memutar musik jazz. Memejamkan mata sejenak sambil mendengarkan alunan musik jazz yang lembut dan hangat, adalah cara paling efektif untuk merilekskan pikiran. Setelah pikiran kembali nyaman, biasanya aku akan kembali melanjutkan menulis.
Kalau hal itu masih belum bisa membangkitkan ideku, aku akan mengatasi writer’s block dengan cara menonton film atau drama Korea atau membaca buku yang satu genre dengan apa yang sedang aku tulis. Seringnya, dari film-film yang aku tonton dan buku yang aku baca, dengan sendirinya akan memunculkan ide. Dan saat ide itu muncul tiba-tiba, segera matikan layar TV atau letakkan buku dan mulailah menulis kembali.
Kemudian soal minder dengan tulisan sendiri. Sebenarnya sampai sekarang aku masih suka minder sama tulisan sendiri, sih. Setiap kali mau kirim ke penerbit, atau mempublikasikan tulisanku di blog, aku suka berpikiran ‘Tulisanku bakal disukai penerbit nggak, ya?’ atau ‘Kira-kira tulisanku ini bakal dapet kritikan banyak nggak, ya, dari pembaca blogku?’. Kemudian aku menemukan sebuah cara jitu untuk mengatasi krisis kepercayaan diriku itu. Yaitu dengan meminta beberapa teman untuk membaca tulisanku terlebih dulu, sebelum aku kirim ke penerbit atau aku publikasikan di blog. Ya… semacam first reader begitulah. Aku minta mereka buat mengoreksi dan memberi saran atau kritik terhadapa tulisanku tersebut. Kemudian, setelah mendapat koreksi dan kritik dari mereka, biasanya aku akan merevisi untuk mereka lihat lagi. Setelah mereka bilang oke, maka aku baru mengirim ke penerbit atau mempublikasikan tulisanku tersebut di blog.
Tapi sayangnya, sampai sekarang belum ada tuh tulisanku yang berhasil meluluhkan hati penerbit. It’s okay. Segala sesuatu butuh proses. Dan dengan sabar aku akan menunggu hasil dari proses panjang itu.


Tulisan ini diikutsertakan dalam 1st Giveaway blog Cokelat Gosong




Kamis, 29 Januari 2015

Sedikit tentang BERGANTI HATI





ADIT
Ikhlas? Untuk saat ini belum. Tapi gue akan berusaha. Karena gue yang melepasnya. Seperti yang gue bilang ke Nian tadi. Berarti Tuhan belum mengingikan gue bahagia untuk saat ini. Mungkin benar apa yang dibilang Renata. Bahwa seseorang yang disebut sebagai jodoh, sudah menanti gue di luar sana. Siapa pun dia, pasti Tuhan memilihkan yang terbaik buat gue, dan pasti akan membahagiakan gue.



ELANG
Hampir nggak percaya saat mendapati sosok yang selama dua bulan terakhir ini menjadi pusat sakitku, berdiri di depanku dengan senyum manisnya. Senyum yang sangat kurindukan. Dia terlihat begitu cantik dengan rok sebatas lutut warna pink dan kemeja lengan panjang warna putih. Rambut sebahunya bergerak-gerak tertiup angin. Wajahnya terlihat cerah. Bibir mungilnya yang berwarna pink masih saja tersenyum.

Apa ini halusinasi? Ah, bukan. Karena saat ini Nian berjalan menghampiriku. Dari jarak yang nggak ada setengah meter, aku tau kalau dia nyata. 



NIAN
Tidak ada cinta yang tanpa tangis dan pertengkaran. Begitu pun yang aku alami dengan Elang dulu. Sehingga banyak hari yang kulewatkan dengan penyesalan. Menyesal karena pernah mengenalnya, menyesal karena pernah menjalin hubungan dengannya.

Tapi, saat Tuhan mempertemukan kami kembali di usia dewasa, ternyata rasa yang pernah ada dulu belum menghilang. Bahkan seperti hidup kembali dengan warna baru yang semakin menggebu. Pertengkaran lagi, perdebatan lagi, saling menyangkal, saling menyakiti. Hingga akhirnya takdir membawa kami untuk bersatu kembali.

Di penghujung senja, kami menunjukkan pada dunia tentang apa itu cinta. Tentang apa itu pengorbanan. Dan tentang menunggu yang tidak pernah berakhir sia-sia.

Minggu, 18 Januari 2015

CINTA ITU adalah . . .

Warung Blogger

Sering saya bertanya pada diri sendiri atau pun orang lain. “Cinta itu apa, sih?”. Banyak juga jawaban yang saya dapat. Mulai dari yang standar seperti, “Perasaan suka, sayang, dan ingin memiliki terhadap seseorang atau suatu hal”. Ada juga yang menjawab dengan kalimat puitis dan agak-agak bikin boring. Katanya, “Cinta itu adalah perasaan agung yang nggak bisa didefinisikan melalui kata-kata, melainkan melalui perbuatan”. Ada juga yang menjawab, “Cinta itu adalah perasaan menyukai dan menyayangi tanpa mengharapkan untuk memilik”. Nah, yang satu ini agak nggak setuju. Kalau buat saya, cinta itu harus memiliki. Jadi, perjuangkan dan usahakan untuk memilki sesuatu yang kamu cintai tersebut. Buat apa hanya mencintai tapi nggak bisa memilki? Buang-buang waktu dan tenaga, tau.

Yang lebih konyol dan nggak masuk akal adalah jawaban ini. Bahwa, “Cinta itu nggak harus memiliki. Cinta itu seneng, saat melihat orang yang kita cintai bahagia meskipun bukan dengan kita”. Bah! Munafik banget sih yang ngomong kayak begitu. Nggak realistis. Faktanya, nggak ada orang yang bahagia melihat orang yang dicinta, mencintai orang lain yang bukan kita. Kita hanya bisa melihatnya tapi nggak bisa memilki. Kita menangis saat dia tertawa. Dada kita sesak saat melihat matanya berbunga-bunga saat duduk berdampingan dengan pasangannya di pelaminan. Demi apa pun, itu sangat menyiksa. Bunuh diri secara perlahan.

Kalau cinta, ya kejar. Nyatakan. Ditolak atau diterima, itu sudah jadi konsekuensi dari perasaan cinta itu sendiri. Kalau diterima ya syukur Alhamdulillah. Kalau enggak, ya sudah. Lupakan. Kemudian lanjutkan hidupmu. Cewek atau cowok nggak cuma dia saja.

Kembali ke masalah C.I.N.T.A. Definisi cinta menurut saya juga ada banyak. 

Cinta adalah, perasaan suka dan sayang terhadap suatu hal. Cinta itu, saat kita menangis ketika merindukan seseorang namun tidak bisa bertemu. Cinta itu, perasaan berbunga-bunga saat berada di dekat objek yang kita cinta. Cinta itu, merasakan sesak di dada saat berhadapan dengannya, namun tidak bisa menyentuhnya. Cinta itu, saat kangen sama Bunda, tapi cuma bisa mendengar suaranya.

Banyak yang aku cintai di dunia ini. Aku cinta Bunda. Aku cinta keluargaku. Aku cinta sahabatku. Aku juga mencintai buku. Aku mencintai dunia tulis menulis. Aku mencintai senja dan cahaya jingga. Aku mencintai gunung dan wangi alam. Aku mencintai cahaya di antara gelap. Aku mencintai film-film action yang penuh adegan tembak-tembakan. Aku mencintai bunga-bunga.

Tapi, cinta nggak melulu tentang tertawa. Cinta juga tentang menangis, mengikhlaskan, dan menerima. Jangan biarkan cinta memperbudak kita. Tergila-gila sampai melupakan realita. Sedih, sampai terjatuh ke dasar terbawah kehidupan. Patah hati, kemudian bunuh diri. Disini saya ingin membicarakan cinta terhadap manusia. Tepatnya lawan jenis. Kalau memang kita mencintai seseorang dan ingin memilikinya, kejar dan nyatakan. Seperti yang sudah saya bilang diatas. Ditolak dalam urusan percintaan itu adalah hal yang wajar.

Nggak bosan-bosannya saya bilang. Kalau memang cinta, ya kejar. Nyatakan. Ditolak sekali, kejar lagi. Ditolak kedua kali, kejar lagi. Ditolak ketiga kali, lepaskan! Ingat, cowok atau cewek nggak cuma mereka. Move on, dan lanjutkan hidupmu. Kejar cinta-cinta yang lain.

Kita juga akan sering menangis karena cinta. Ditolak, bersaing, diabaikan. Saling menjauh padahal saling mencintai, karena situasi dan kondisi yang tidak mendukung. Inilah cinta yang sangat menyesakkan. Disaat perasaanmu terbalas. Disaat rindumu disambut. Namun, segala sesuatunya nggak mengizinkan kalian untuk bersatu. Ya. Orang yang saling mencintai pun tidak bisa bersatu selamanya dalam ikatan pernikahan, dengan berbagai alasan. Karena ternyata, dalam pernikahan, takdir itu lebih memegang peran penting ketimbang jodoh.
Cinta nggak pernah salah. Perasaanmu itu… nggak pernah salah. Cinta hanya datang sedikit terlambat. Yang salah hanyalah waktu dan tempat yang nggak tepat.
Maka, sebelum memutuskan untuk mengenal cinta, persiapkan dirimu untuk menerima segala konsekuensi dalam urusan per-CINTA-an. Agar saat kita merasakan sisi nggak enaknya dari cinta, kita sudah siap. Agar kita tetap waras saat cinta tidak memihak pada kita.

@AntikaAnis

Screenshot bukti follow











Jumat, 16 Januari 2015

MENGAGUMI DIAM-DIAM



Mengagumi secara diam-diam. Begitu sering dibahas dan diucapkan. Tapi, pernahkah kalian merasakannya? Entah disadari atau tidak. Entah diakui atau dielak. Percayalah, kalian pernah merasakannya.

Tidak beda denganku. Saat ini aku sedang merasakannya. Pertemuan pertama kami. Saat aku berangkat kerja. Berjalan berbaur dengan puluhan orang lainnya. Dia melintas dengan sepeda motor maskulinnya dari arah berlawanan. Menatap ke satu arah. Padaku. Jangan tanya alasannya menatapku apa. Karena aku sendiri pun juga bertanya-tanya sampai sekarang dna belum mendapat jawaban. Yang jelas, saat itu aku membalas tatapannya. Tatapanku juga terkunci padanya. Tanpa perduli dengan jalanan padat di depanku. Tanpa khawatir aku akan menabrak orang di depanku atau terjatuh karena tersandung batu. Sejak saat itu, aku sadar kalau aku menyukai tatapannya. Tatapannya tajam dan menghipnotis. Yang aku ingat, beberapa detik setelah dia berlalu, aku tersenyum. Aku seperti menemukan yang aku cari-cari selama ini.

Kemudian, pertemuan itu menjadi yang pertama sekaligus terakhir kalinya. Setidaknya itu yang kukira karena sejak pagi itu, berbulan-bulan kemudian aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Sampai suatu pagi saat aku berangkat kerja. Aku melihatnya sedang mencuci sepeda motornya di depan sebuah rumah. Ternyata, dia tetanggaku. Aku merasa lega sekaligus senang. Ternyata orang yang diam-diam aku cari selama ini telah kutemukan.

Dia masih tetap mempesona. Tatapan matanya masih setajam saat kami bertemu pertama kali. Dan saat itu aku baru sadar, bahwa dia sungguh memikat. Mata tajamnya dinaungi alis hitam tebal. Hidungnya mancung. Bibirnya tipis sehingga saat dia tersenyum, terlihat seperti sebuah garis lurus. Rahangnya tegas. Keseluruhan wajahnya menggambarkan wajah maskulin seorang laki-laki dewasa. Dan suaranya, berat dan tegas.

Semakin hari, aku semakin sengaja berangkat kerja jam delapan lebih dua puluh menit. Padahal jam masuk kerjaku pukul setengah sembilan. Hanya karena saat aku pertama kali melihatnya dirumah itu adalah saat aku terburu-buru karena bangun terlambat sehingga berangkat mepet dengan jam masuk kantor. Aku semakin sering melihatnya. Tadinya dia seperti tidak sadar bahwa aku sering memperhatikan dia.

Tapi, kemudian dia menyadari itu. Suatu pagi seperti biasa. Saat aku berangkat kerja, begitu melihatku muncul di depan rumahnya. Dia yang tadinya posisi tiduran di kursi rotan teras rumahnya, langsung terbangun dan menegakkan tubuhnya. Kemudian dia menatapku lekat-lekat. Aku tersentak. Mempercepat langkahku dengan kepala menunduk karena menyembunyikan wajahku yang seperti terbakar.

Kemudian keesokan harinya. Dia seperti sudah siap menyambut kemunculanku. Saat aku menoleh ke arah rumahnya, dia sedang duduk dengan tatapan tajam ke arahku. Mendapati itu, hatiku mencelos. Sungguh pemandangan yang nggak ingin kulihat dipagi hari. Ya, aku tahu mungkin dia terganggu dengan sikapku yang sering memperhatikannya secara diam-diam.
Sejak saat itu, aku menegaskan pada diriku sendiri untuk nggak menoleh ke arah rumahnya setiap kali melintas. Sekuat apa pun keinginanku untuk melihatnya. Sebesar apa pun harapanku untuk bisa bertemu dengannya. Sebesar apa pun keinginanku untuk mengucapkan ‘hai’ padanya. Aku harus menahannya.

Harusnya aku nggak boleh kecewa. Karena dari awal, ini hanyalah mengagumi secara diam-diam. Nggak pernah ada keinginanku untuk mengenalnya lebih jauh. Kalian boleh menyebutku payah. Terserah.

Karena sebuah perbedaan. Karena aku nggak mau memulai sesuatu yang aku sudah tahu akhirnya akan seperti apa. Aku melihat pohon natal di rumahnya pada bulan Desember lalu. Itu sudah sangat cukup untuk memperingatkanku agar tidak mengucap kata ‘hai’ padanya. Karena satu kata itu, sanggup mengubah segalanya.

Jadi, biarkan ini tetap menjadi perasaan mengagumi secara diam-diam. Bukan suka, sayang atau bahkan cinta. Karena aku, nyaman dengan keadaan yang ada sekarang ini. Karena ini, hanya mengagumi secara diam-diam.