Senin, 09 Juni 2014

Cermin : Shopaholic


Siapa sih yang nggak suka shopping? Hampir semua cewek pasti suka shopping. Nggak terkecuali aku. Tapi bedanya, kalau kebanyakan cewek itu belanjanya baju, tas, sepatu branded, kalau aku lebih maniak sama buku.
Aku akan lebih khilaf kalau ada diskon buku daripada diskon baju, tas atau sepatu. Seperti orang lapar, aku akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk memilih buku yang menurutku bagus. Dan tahu-tahu, dompet sudah kosong saja. Kalau nggak begitu nangisnya pas akhir bulan. Melihat tagihan membludak, jumlah saldo di ATM menipis.
Tadinya aku sama seperti cewek kebanyakan kok. Suka belanja baju-baju cantik, tas unik, sepatu keren. Aku nggak akan segan mengeluarkan berlembar-lembar uang berwarna merah itu atau nggak ragu buat menggesek ATM atau credit card, hanya demi sepotong kaos. Buatku harga nggak masalah asal kualitas barang juga oke.

Tapi, semakin kesini aku semakin bisa menahan hasratku untuk berbelanja pernak-pernik fashion itu. Hanya saja, ya itu tadi. Seperti yang sudah kusebut di atas. Nafsu belanja fashion menurun, tapi nafsu belanja buku meningkat drastis. Bahkan pengeluaranku untuk membeli buku jauh lebih banyak daripada pengeluaranku untuk beli fashion dulu itu. Ya, yang namanya hobi. Walaupun keluar duit banyak, asal hati puas bukan masalah, kan? Etapi...etapi, jangan kebablasan juga. Cukup beli yang berguna saja.

Rabu, 14 Mei 2014

[FF] Terjebak Nostalgia


Kalau bicara soal cinta pertama, yang pertama kali terlintas dalam pikiranku adalah nama Abi. Abiaji Rahmana. Dia itu cinta pertamaku, kasih tak sampaiku, sekaligus cinta bertepuk sebelah tanganku.
Yeah. Cinta pertama nggak melulu manis. Emm... awalnya memang manis, sih. Sebelum aku tahu apa yang sesungguhnya dirasakan Abi padaku.
Pertama kali merasakan jatuh cinta sewaktu SMA. Ya pada Abi itu. Teman sekelasku sewaktu kelas sebelas. Definiisi cinta pertama menurutku adalah, dia yang pertama kali membuatku terpaku dan mengunci tatapan pada orang itu. Dia yang pertama kali membuat jantungku berdebar saat berada di dekatnya. Dan Abi-lah orang itu.
Abi-lah cowok pertama yang mengalihkan duniaku. Dia adalah cowok pertama yang mengusap kepalaku. Dia adalah cowok pertama yang menggengam erat jemariku. Dia adalah cowok pertama yang membuatku lupa cara bernapas saat kami berdekatan hampir tanpa jarak.
Dia cowok pertama yang membuat dadaku berdebar setiap kali aku melihat sosoknya. Dia cowok pertama yang membuatku selalu tersenyum tanpa sebab yang jelas. Dia juga cowok pertama yang mengenalkanku pada indahnya cinta SMA.
Hal-hal yang dilakukan Abi sehingga membuatku jatuh cinta itu sederhana, kok. Sentuhan-sentuhan di kepalaku yang dilakukannya hampir setiap hari. Senyum hangatnya setiap kali berpapasan denganku. Kebiasaan buruknya yang selalu menggangu makan siangku di kantin. Dengan cara duduk di depanku. Mengunci tatapanku, lama. Sehingga membuatku mual gara-gara asam lambung yang diproduksi berlebihan saat dadaku berdebar.
Kebiasaanya yang selalu memanggil namaku dengan lantang. Bahkan seringkali dengan berteriak. Konyol, norak, memalukan, tapi manis menurutku. Kebiasaannya yang setiap kali pulang sekolah selalu menjajari langkahku menuju parkiran. Kebiasaannya yang menggengam tanganku tanpa alasan jelas. Bahkan sering dia melakukan itu di kelas saat jam pelajaran. Sehingga membuat mata para guru menatapku seolah-olah aku ini bersekolah dengan menggunakan kebaya.
Tapi diluar semua rasa malu yang aku dapat atas tingkah norak Abi, aku bahagia. Mungkin itulah cara Abi utnuk menunjukkan perhatiannya padaku. Dan tindakan-tindakan itu yang akhirnya membuatku jatuh cinta padanya.
Sampai pada saat aku mendapati Abi bermesraan dengan cewek kelas sebelah. Dan tersebarlah gosip kalau mereka berpacaran. Dari situ aku jadi tahu, bahwa yang Abi lakukan padaku selama ini tidak berarti apa-apa untuknya. Hanya keisengannya belaka. Tapi, berbeda untukku. Karena perhatian-perhatian kecilnya itu membuatku jatuh cinta padanya.
Awalnya aku pikir perasaanku pada Abi hanyalah cinta monyet semasa SMA. Tapi, setelah kelulusan yang itu artinya adalah berpisah, aku baru mengerti bahwa yang kurasakan adalah benar-benar cinta.
Aku menangis saat merindukan Abi tapi tidak bisa bertemu. Aku menangis setiap kali ada cowok yang menyatakan cinta padaku tapi aku menolaknya. Aku menangis, kenapa sampai saat ini belum juga bisa membuka hati untuk cowok lain karena masih mengharapkan Abi.
Ini sudah enam tahun. Nggak mungkin selamanya aku mengharapkan Abi. Yang paling aku inginkan saat ini hanya satu. Pertemuan tanpa disengaja dengannya. Agar aku tahu, seperti apa jenis perasaanku terhadapnya. Agar aku bisa memutuskan apa yang harus aku lakukan selanjutnya.

Dan aku, ingin mengakui perasaanku padanya. Tidak perlu Abi membalas perasaan itu. Aku hanya ingin menuntaskan kisah yang kumulai enam tahun lalu itu. Agar aku bisa lega. Agar aku bisa melanjutkan hidupku dan meraih bahagia.

Sabtu, 26 April 2014

Letter to My Best Friends



*Tadinya tulisan ini mau aku ikutin ke lomba nulis “Surat untuk Sahabat”. Tapi, berhubung aku ingin tulisan ini kalian baca, dan berhubung syarat lomba itu adalah tulisan belum pernah di publikasikan di media cetak atau media elektronik mana pun, jadinya, aku nggak jadi ikutin lomba. Biar kalian semua bisa baca ini. (hwaaa…. mellow banget, ya, diriku)*
Hai, gals? Masih bolehkah aku memanggil kalian sahabat?
Pertama, aku mau cerita sedikit tentang kita. Dulu, sewaktu kita masih anak-anak, kita terdiri dari dua perkumpulan. Anak selatan sama anak utara. Nggak pernah main bareng, bahkan cenderung suka berantem dan bermusuhan. Apalagi aku, kayaknya sok bossy banget gitu (kalau ingat suka malu sendiri). Agak-agak provokator juga kayaknya (mohon dimaklumi, namanya juga bocah… hhhh).
Dari anak-anak beranjak remaja, masih belum akur juga. Sampai menjelang habis masa remaja. Ketemu di perkumpulan karangtaruna. Sering ketemu, berkegiatan bareng, ngobrol bareng. Sampai akhirnya ngerasa saling cocok, saling nyaman, dan dengan sendirinya seperti terikrar persahabatan di antara kita.
Kalau aku pikir-pikir, karena sifat kita yang mirip, yang bisa membuat kita nyambung buat sahabatan. Gokil, gila, kocak, konyol, rame, agak-agak pemberontak juga. Nggak lupa, kan, kayak gimana kebandelan kita menentang dan melawan ‘Ibu Ketua’?
Dari remaja akhirnya beranjak dewasa. Lulus SMA, perpisahan, kesibukan masing-masing yang semakin meningkat (ada yang kerja di luar kota, ada yang lanjutin kuliah di luar kota). Seiring berjalannya waktu, frekuensi pertemuan yang semakin sedikit, komunikasi yang suka mandek. Aku kok ngerasa…. kita semakin merenggang, ya!? Emm.. aku juga ngerasa kayak nggak setulus dulu gitu.
Bahkan, terkadang muncul konflik-konflik kecil karena salah paham atau perbedaan pendapat. Kalau dulu pas remaja hidup kita cuma dipenuhi dengan candaan, kekonyolan, kok sekarang malah saling melempar kata-kata pedas.
Aku yang terlalu sensitif dan mudah tersinggung. Reni dan Umex dengan kata-kata cablaknya yang kadang tanpa mereka sadari itu membuat yang lain tersinggung. Yuyun sama Dwex yang cenderung masa bodoh dan paling santai. Vina yang konyol tapi juga paling bisa diajak ngomong serius. Dan Mende, yang konyolnya nggak ketulungan.
Kadang aku berpikir, mungkin dengan intensitas pertemuan kita yang semakin sedikit, lama-lama rasa nyaman yang kita miliki dulu terasa jadi hambar. Nggak ada warna, nggak ada cerita baru. Dan dengan sendirinya hubungan kita jadi merenggang. Ada kalanya kita tiba di titik jenuh. Dan ingin sesuatu yang baru. Karena itu, kita saling sibuk mencari teman baru yang selalu ada untuk kita disetiap waktu.
Kalau dipikir-pikir, cerita kita tuh, mirip sama isi cerita di lagu Sindentosca yang Kepompong. Kalau nggak salah ingat, liriknya kayak begini.

Dulu kita sahabat, teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari 
Dulu kita sahabat, berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu-kupu 

Kini kita berjalan berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karena sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karena ku sayang

 Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagi kepompong


Hmmm… hmm.. Mau ngomong serius, nih. Agak menye-menye (alias melankolis parah, biar kagak ada yang pusing-pusing nyari di kamus (lagi). Apakah. Arti. Menye-menye? Karena sampek lebaran tokek pun, kagak bakal nemu kata menye-menye dalam kamus). Baiklah. Bakalan ngomong yang agak sensitif, nih. Aku aja sambil nangis nulisnya (perezz).
Gals, aku sayang kalian, aku butuh kalian. Yang aku pengen sederhana, kok. Kita tetep sahabatan kayak dulu, dengan tulus, tetap menjaga komunikasi walaupun kita tinggal berjauhan, mau merepotkan dan mau di repotkan. Intinya, aku berharap kita bisa tetap sahabatan kayak dulu. Sampek tua nanti
So, bisa, kan, kita sahabat kayak dulu lagi? Yang tulus

Sahabatmu,

    Anis

Selasa, 01 April 2014

Letter to My Ex



Hai, Iin?
Masih inget kan, aku pernah kasih nama panggilan itu ke kamu? Kamu nggak lupa juga, kan, kenapa aku kasih kamu panggilan itu?
Aku selalu ingat, saat kamu panggil aku Tom karena penampilanku yang tomboy. Dan karena itu, aku kasih kamu julukan Iin. Iin, waktu itu adalah nama tokoh dalam sinetron remaja. Nama sebenarnya Indra. Tapi karena dia anak Mami (persis kayak kamu), sahabat-sahabatnya kasih dia nama Iin. Dan karena itulah aku juga kasih kamu panggilan itu.
Satu hal yang paling aku selalu sesalkan setelah perpisahan kita. Aku nggak benar-bernah pernah bilang secara gamblang kalau aku sayang sama kamu. Selama di SMA, kita hanya menjalani hubungan itu. Mengalir apa adanya. Ikut bagaimana waktu memberi kita cerita. Sehingga aku pun hanya pasrah, saat akhirnya kita lulus, dan artinya kebersamaan kita pun berakhir.
Awalnya aku pikir perasaanku padamu hanya cinta monyet seperti yang banyak orang bilang. Cinta disaat SMA. Aku yang selalu menerima segala perhatianmu, dan kamu yang selalu dengan tersenyum memberikan perhatianmu padaku. Tapi setelah perpisahan itu, aku baru benar-benar paham dengan perasaan yang kupunya.
Menangis saat merindukanmu, dada terasa sesak saat ingin mendengar suramu tapi nggak bisa. Hati terasa kosong saat ingin merasakan kembali hangat genggaman tanganmu, usapan lembut di puncak kepalaku. Aku sadar, kalau aku masih mencintaimu.
Aku tahu, masa lalu itu tempatnya di belakang. Aku ingin meyakini itu. Hanya saja, hatiku belum rela untuk menempatkanmu sebagai masa lalu. Cinta pertamaku. Cinta monyetku. Kisah masa SMA-ku.
Saat ini yang ada adalah, aku yang selalu merindukanmu, aku yang berharap bisa bertemu denganmu, aku yang masih menyimpan setiap penggal kisah kita, aku yang masih belum bisa move on darimu, aku yang nggak berani membuka hati untuk yang lain karena aku masih mengharapkanmu. Dan kamu, yang aku tahu kamu sudah memiliki cerita dengan yang lain.
Yang paling kau inginkan sekarang hanya satu. Tuhan mempertemukan kita melalui takdir yang sudah direncanakan-Nya. Bukan aku atau kamu yang sengaja meminta bertemu. Agar aku tahu, perasaan macam apa yang kumiliki untukmu sampai detik ini. Agar aku bisa mengikhlaskan kisah kita yang tidak pernah jelas itu. Agar kau bisa melanjutkan hidupku.
Aku tunggu, sampai saat itu tiba. Sampai saat Tuhan menuliskan cerita takdir-Nya untuk kita lagi. Aku merindukanmu, Iin.




Selasa, 25 Maret 2014

Ini Mimpiku



Bicara soal mimpi, semua orang pasti punya mimpi. Tidak terkecuali diriku. Mimpiku sederhana, kok. Tapi susah banget untuk diwujudkan. Butuh perjuangan yang tanpa henti. Pantang menyerah, sabar, dan terus mencoba. Aku punya mimpi untuk jadi penulis. Melihat bukuku di pajang di toko buku dan jadi best seller. Sederhana, KAN? Tapi, ya, itu tadi. Butuh perjuangan ekstra untuk mewujudkannya. Dan aku tetap berjuang sampai sekarang. Sejauh ini yang kulakukan adalah selalu mengirim tulisanku ke penerbit. Tapi belum ada jawaban. Dan kegagalan itu membuatku untuk terus, terus, terus, dan terus mengirim tulisanku. Aku nggak akan berhenti sampai tulisanku diterima dan dibukukan. Tapi, beberapa cerpenku lolos lomba menulis, lho? Ya walaupun hanya penerbit indi, tapi itu cukup untuk mengobarkan semangat berjuangku. Aku yakin, dengan usaha dan do’aku, suatau saat aku akan meraih mimpiku. Karena Tuhan selalu mengabulkan do’a hamba-Nya yang meminta dan berjuang dengan sungguh-sungguh. Sampai bertemu mimpiku!

ALASANKU ingin memiliki novel ini adalah.... karena aku suka dan mau tahu bagaiman cerita cinta Ella yang begitu rumit. Dua kali cintanya bertepuk sebelah tangan. Dan dua cowok itu suka pada satu orang yang sama. Ugh,, pasti bikin hati cenat-cenut deh. Apalagi pas baca sinopsisnya jadi serasa nampar muka sendiri. Yeah, aku pernah mengalami apa yang dialami Ella. Dan rasanya sungguh menyakitkan. Duhh... kok jadi curcol. Maaf... maaf... Yang jelas aku penasaraaan banget sama cerita yang ada di novel. Jadi, ngarep banget dapet novel ini. Hwehee,,, 

Jumat, 21 Maret 2014

Pre Wedding Rush Contest

Posting ini dibuat untuk mengikuti kontes Pre Wedding Rush Stars yang disponsori oleh Cotton Ink dan Stiletto Book

Halooo….. senang deh bisa mengkhayal cari sosok yang cocok untuk memerankan tokoh dalam novel yang kubaca. Setiap kali baca novel apapun itu, aku pasti membayangkan sosok seperti apa yang kira-kira cocok jadi si A, si B, Si C dan si yang lainnya.
Bersyukur banget Stiletto Book bekerjasama dengan Cotton Ink mengadakan kontes Pre Wedding Rush Stars ini. Jadi aku nggak cuma sekedar mengkhayal saja. Bisa mempublikasikannya dan dilihat banyak orang.

Baiklah… ini dia Pre Wedding Rush Stars versi-ku… tataraaaa….

Raline Shah as Menina


Kenapa Raline Shah? Karena menurutku memang dia itu yang paling pantas untuk memerankan karakter Menina (dihh.. maksa). Wanita karier, cocok. Cantiknya dapet banget. Terus karakter Menina itu kan luarnya baik-baik saja, kuat. Tapi ternyata dalamnyamellow juga. Mengingat Ralin kan pernah memerankan Riani di 5 cm, karakternya mirip-mirip Menina gitu kalau menurutku.


Vino Bastian as Dewo



Putih, tinggi, tulang rahang yang kokoh, hidung yang mancung, ganteng, kekar. Lengkap deh. Semua ada di Vino. Pembawaannya kalem dan misterius gitu deh. Tadinya aku maunya Rio Dewanto. Tapi Rio kan nggak putih, jadinya aku ganti ke Vino deh. Tuh, udah aku pilihin fotonya Vino yang pakai kacamata. Makin mirip, KAN?


Rio Dewanto as Lanang



Nah, ini baru pas. Kulit khas Indonesia banget kayak Lanang. Tinggi juga, kekar, ganteng, hidung mancung. Rio juga maskulin banget. Cowok yang bener-bener cowok deh. Persis kayak karakter Lanang ( dududuu… jadi ngelap liur ). Soal rambut gondrong pas Lanang muda kan bisa di atur (hehe… agak maksa dikit).


Aelke Mariska as Ayako
  


Aelke Mariska pas banget buat meranin Ayako. Jepangnya, dapat (ya memang dia keturunan Jepang sih.. hwehee). Mungil, sipit. Fotonya aku pilihin yang rambut pendek tuh.Plus tatapan tajamnya yang nggak ramah. Ayako banget, kan?


Reuben Elishama as Sigit



Sempat galau milih orang yang pas buat peranin Sigit. Akhirnya nemu deh Reuben Elshima. Ya memang nggak kurus-kurus banget, sih. Tapi tatonya dapet. Wajahnya terlihat dewasa. Kayak Sigit, kan? Emmm… matanya yang teduh. Udah yang paling pas deh buat peranin Sigit.

Nah, itu tadi Pre Wedding Rush stars versiku. Mudah-mudahan nggak mengecewakan. Dan mudah-mudahan lagi, yang versiku ini yang menang. (jiaaaa… ngarep banget yaa…)

Terima kasih…


By : Anis Antika

Senin, 03 Maret 2014

Pengumuman Pemenang #GiveawayMyBirthday

Hahaaii... udah pada nungguin pemenang giveaway birthday-ku yaa.. Maaf ya lama.

Jujur, komentar kalian keren-keren. Bikin aku sempat galau juga mau tentuin pemenangnya yang mana.

Komen-komennya tuh ada yang lucu sampek bikin aku ketawa. Ada yang manis.. bikin aku senyum-senyum. Sampek dikira gila sama penghuni meja depanku. Ada juga komen yang bikin aku terharu sampai menitikkan air mata.

Baiklahh... saya akan langsung umunkan pemenangnya.

And... the winner is....

Selamat buat:

Pemenang pertama : DEWI SRI (@dewisrii_ )
Pemenang kedua : ARIF RIZALDY (@hajimemimi

Terima kasih untuk semua peserta giveaway ini. Terima kasih atas komentar-komentarnya yang sebagian besar sangat berguna buat saya. Terima kasih juga untuk saran dan kritiknya.

Buat yang belum beruntung jangan berkecik hati. Mudah-mudahan lain kali bisa bikin giveaway lagi. Amin.

Terima kasih semuaaa...


Xoxo,

Anis