Masih inget kan, aku pernah kasih nama
panggilan itu ke kamu? Kamu nggak lupa juga, kan, kenapa aku kasih kamu
panggilan itu?
Aku selalu ingat, saat kamu panggil aku
Tom karena penampilanku yang tomboy. Dan karena itu, aku kasih kamu julukan
Iin. Iin, waktu itu adalah nama tokoh dalam sinetron remaja. Nama sebenarnya
Indra. Tapi karena dia anak Mami (persis kayak kamu), sahabat-sahabatnya kasih
dia nama Iin. Dan karena itulah aku juga kasih kamu panggilan itu.
Satu hal yang paling aku selalu sesalkan
setelah perpisahan kita. Aku nggak benar-bernah pernah bilang secara gamblang
kalau aku sayang sama kamu. Selama di SMA, kita hanya menjalani hubungan itu.
Mengalir apa adanya. Ikut bagaimana waktu memberi kita cerita. Sehingga aku pun
hanya pasrah, saat akhirnya kita lulus, dan artinya kebersamaan kita pun
berakhir.
Awalnya aku pikir perasaanku padamu
hanya cinta monyet seperti yang banyak orang bilang. Cinta disaat SMA. Aku yang
selalu menerima segala perhatianmu, dan kamu yang selalu dengan tersenyum
memberikan perhatianmu padaku. Tapi setelah perpisahan itu, aku baru
benar-benar paham dengan perasaan yang kupunya.
Menangis saat merindukanmu, dada terasa
sesak saat ingin mendengar suramu tapi nggak bisa. Hati terasa kosong saat ingin
merasakan kembali hangat genggaman tanganmu, usapan lembut di puncak kepalaku. Aku
sadar, kalau aku masih mencintaimu.
Aku tahu, masa lalu itu tempatnya di
belakang. Aku ingin meyakini itu. Hanya saja, hatiku belum rela untuk
menempatkanmu sebagai masa lalu. Cinta pertamaku. Cinta monyetku. Kisah masa
SMA-ku.
Saat ini yang ada adalah, aku yang selalu
merindukanmu, aku yang berharap bisa bertemu denganmu, aku yang masih menyimpan
setiap penggal kisah kita, aku yang masih belum bisa move on darimu, aku yang nggak berani membuka hati untuk yang lain
karena aku masih mengharapkanmu. Dan kamu, yang aku tahu kamu sudah memiliki
cerita dengan yang lain.
Yang paling kau inginkan sekarang hanya
satu. Tuhan mempertemukan kita melalui takdir yang sudah direncanakan-Nya.
Bukan aku atau kamu yang sengaja meminta bertemu. Agar aku tahu, perasaan macam
apa yang kumiliki untukmu sampai detik ini. Agar aku bisa mengikhlaskan kisah
kita yang tidak pernah jelas itu. Agar kau bisa melanjutkan hidupku.
Aku tunggu, sampai saat itu tiba. Sampai
saat Tuhan menuliskan cerita takdir-Nya untuk kita lagi. Aku merindukanmu, Iin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar