Sabtu, 20 Juni 2015

SEMUA ORANG BERPOTENSI UNTUK TERKENA PENYAKIT PSIKIS DAN GANGGUAN KEPRIBADIAN


 


Rasanya udah lama banget nggak posting tulisan. Nggak sempet nulis karena harus menghabiskan sebagian besar waktu untuk pekerjaan (duhh.. sok sibuk banget, kan aku). Tapi kayaknya nggak ada juga yang nunggu-nunggu tulisanku (iya… pesimis tingkat akut).

Sebenarnya agak takut ini tulisan bakal bermanfaat atau enggak. Kali ini mau bahas soal gangguan kepribadian dan gangguan psikis. Jadi, akhir-akhir ini aku lagi suka baca dan mendalami tentang gangguan kepribadian yang berkaitan erat dengan gangguan psikis. Sudah lama tertarik, sih. Hanya saja akhir-akhir ini baru benar-benar mendalami. Dulu inginnya kuliah ambil psikologi. Etapinya nggak jadi. Dan sekarang kerjanya malah hitung-hitung duit yang nggak ada bentuknya... :))

Awal mula tertarik sama gangguan kepribadian dan gangguan psikis adalah saat aku menyadari bahwa seorang temenku terlihat “sakit”. Dan dari pengamatanku dia mengidap outrhumenosis. Suka berkhayal berlebihan gitu, deh. Aku sudah pernah membahasnya dulu. Untuk mengingat lagi bisa baca disini.

Dan juga dengan yang terjadi pada diriku sendiri. Aku mengidap Obsessive Compulsive Disorder atau lebih dikenal dengan OCD. Yaitu dimana seseorang memiliki gangguan kecemasan berlebih terhadap suatu hal, atau terobsesi berlebihan terhadap suatu hal, serta gangguan kecemasan. Kalau aku, aku sangat terobsesi banget sama kebersihan. Nggak bisa pegang benda kotor. Kalau pegang benda kotor harus cuci tangan dan harus pakai sabun. Terus aku juga selalu mengkhawatirkan hal-hal yang sebenarnya sudah aku lakukan. Seperti mengunci pintu, mengunci jendela, memastikan sudah mematikan kompor atau belum dan lain sebagainya. Terus suka banget mencemaskan hal-hal yang sebenarnya nggak perlu untuk dicemaskan karena toh hal itu belum terjadi. 


 
Obsessive Compulsive Disorder (OCD) image by google


Aku juga suka berhitung dalam hati. Mengulang-ulang kalimat yang sedang kubaca dari buku. Karena itulah aku suka lama banget selesai baca satu buku. Terus kalau menyusun buku di rak harus berdasarkan penerbit, tahun terbit, dan tinggi buku. Aku juga suka banget memadupadankan warna. Misalkan dres warna peach aku juga harus pakai gantungan baju warna peach. Semacam itulah. Dan itu sebenarnya sangat mengganggu.


 
Dissociative Identity Disorder (DID) image by google


Lalu saat ini lagi tertarik banget sama gangguan kepribadian ganda atau Dissociative Identity Disorder (DID). Kalau ini gara-garanya nonton dua drama Korea dengan tema kepribadian ganda. Judulnya Kill Me, Heal Me sama Hyde, Jekyll and Me (kalau saja tertarik buat nonton).

Sebenarnya semua orang itu sangat berpotensi untuk terkena gangguan psikis atau gangguan kepribadian. Gangguan psikis bukan berarti gila seperti yang suka berkeliaran dipinggir jalan itu, lho, ya. Kita hidup di dunia yang keras. Selalu dituntut untuk berjuang dengan keras agar bisa tetap bertahan hidup. Tidak jarang pula memakai cara kotor untuk tetap bertahan hidup. Kalau kita lemah, ya kita akan kalah. Selain tekanan hidup yang keras, gangguan psikis juga bisa muncul karena trauma masa lalu atau lingkungan tempat kita hidup. Kalau kita hidup di lingkungan orang “gila”, percayalah, lama-lama, mau nggak mau, kita bakalan ikutan “gila” juga.

Seringnya juga kita nggak pernah sadar kalau kita mengidap sakit itu. Soal OCD yang kuderita tadi, setelah mengalaminya selama belasan tahun aku baru tahu kalau aku mengidap penyakit itu. Dan yang namanya penyakit, sudah pasti harus disembuhkan, dong. Sebenarnya kita bisa saja sembuh tanpa bantuan dokter, psikiater atau psikolog. Tapi nggak semua penderita gangguan kepribadian atau gangguan psikis menyadari tentang penyakit itu. Harus ada yang membawanya berobat. Kasihan kalau didiamkan terus. Karena mereka selalu merasa bahwa yang mereka lakukan adalah benar. Contohnya kayak psikopat sama pengidap outrhumenosis. Mereka nggak pernah menyadari bahwa mereka sakit.

Ada banyak banget jenis gangguan jiwa dan gangguan kepribadian. Aku sendiri, sih, masih belum memahami semuanya. Hanya mendalami OCD karena aku mengidapnya.
Selama ini aku berjuang banget untuk sembuh dari OCD. Sudah banyak dari obsesiku yang bisa aku hentikan. Seperti kebiasaan menciumi segala benda dan mengerjapkan mata berkali-kali. Juga seperti keinginan untuk mengecek apakah pintu sudah dikunci atau belum, aku sudah hampir nggak pernah melakukannya. Tapi kalau untuk obsesi kebersihan masih belum bisa.

Bagaimana caranya aku bisa mengurangi obsesi itu? Dengan melakukan terapi perilaku kognitif secara mandiri. Aku berusaha menahan keinginan untuk melakukan ritual-ritual obsesi tersebut. Dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa nggak perlu mencemaskan sesuatu yang bahkan sesuatu itu belum terjadi. Kemudian, meditasi. Meditasi sangat bagus dilakukan karena membuat kita mampu mengendalikan emosi dan pikiran kita.

Awalnya memang sulit, sih. Tapi percayalah, selama kita ada keinginan yang kuat dan keyakinan untuk sembuh (dari sakit apa pun itu), pasti kita akan sembuh. Hanya terus serusaha dan berjuang untuk sembuh, maka kamu akan sembuh. Jadi, mari kita mulai hidup sehat dengan mengenali apakah diri kita benar-benar “sehat”.

Baiklah…cukup sampai sebatas ini dulu. nanti kalau aku sudah benar-benar memahami tentang gangguan kepribadian dan gangguan psikis, Insya Allah bakal share lagi. Maaf-maaf kalau masih ada kekurangan. Semoga bermanfaat.



Anis
^_^

Selasa, 12 Mei 2015

Tentang Jatuh Cinta dan Cinta Pertama [ Usapan Sekilas Di kepala ]



Jatuh cinta padanya nggak pernah terpikirkan olehku. Sama sekali malah. Bahkan awalnya aku sama sekali nggak tertarik dengannya.

Sentuhan-sentuhan sekilasnya dikepalaku. Senyum hangatnya setiap kali berpapasan denganku. Caranya memanggil namaku. Hal-hal kecil kayak begitu yang akhirnya membuatku luluh dan mengakui bahwa aku jatuh cinta pada si cowok yang suka ganti-ganti pacar dan selengekan itu.

Contoh hal kecil yang dia lakukan, yang akhirnya membuatku jatuh cinta.
Dia berjalan dari arah berlawanan denganku. Tersenyum. Selalu dengan sneyum hangatnya. Bila hal itu terjadi, maka drum di dadaku akan bermain dengan hebohnya. Membuatku hampir kehilangan napas saking nervous-nya. Dia berhenti tepat dihadapanku. Dengan tubuh menjulangnya. Membuatku refleks menghentikan langkah juga. Kami saling tatap untuk beberapa saat.

“Pagi.” Dia menyapaku. Dengan suaranya yang setipe dengan Vino Bastian [tapi mukanya jauh dari Vino Bastian… :)) ]
“Pagi.” Jawabku dengan suara sepelan suara angin. Aku yakin dia tidak mendengarnya.

Tapi dia tersenyum. Semakin lebar. Lalu mengusap puncak kepalaku. Dadaku semakin jumpalitan. Kemudian dia berlalu meninggalkanku tanpa sepatah kata pun.


Ahh… perlakuannya padaku, sekecil dan sesepele apa pun itu selalu sukses membuatku blushing. Membuatku bahagia. Membuatku salah tingkah. Membuatku semakin menyukainya. Bahkan saat hanya mengingatnya sekarang ini, dadaku masih kebat-kebit nggak jelas.

Sabtu, 02 Mei 2015

Senja Maya



Aku menatap perempuan yang saat ini duduk di atas pasir putih pantai Uluwatu. Dia menatap ke satu titik. Tengah laut. Aku menyebutnya perempuan senja. Karena setiap kali melihatnya, adalah saat senja seperti ini. Perempuan itu selalu duduk di dekat tebing setiap harinya. Aku tertarik dengan cara berpakaiannya. Dres selutut motif bunga-bunga kecil.
Hari kedua, perempuan itu berada di tempat yang sama. Memakai setelan pakaian yang sama. Dan hari ini pun, perempuan itu masih di sana. Aku sungguh penasaran. Karena itu aku mendekatinya.
Aku tertegun begitu tiba di dekatnya. Tatapannya lurus menatap jauh ke arah lautan yang airnya mulai menguning terkena terpaan cahaya senja. Dengan langkah ragu aku berjalan mendekatinya. Tapi langkahku tertahan saat mendengar suara seorang laki-laki tua yang duduk tidak jauh dari perempuan itu.
“Biarkan dia sendiri.”
Aku menghampiri Bapak tua yang sedang menyesap tembakau dari batang rokok itu, dan duduk disampingnya. “Namanya Maya. Setiap hari dia berada di situ untuk menunggu Hilman. Suaminya.”
Aku bertanya, “Lalu, kenapa saya tidak pernah melihat laki-laki itu, Pak?”
“Hilman sudah meninggal. Setahun lalu saat dia berselancar dan tenggelam terbawa ombak. Maya tidak bisa menerima kematian Hilman. Karena itu, sejak setahun lalu dia selalu duduk di situ saat senja. Seperti yang dia lakukan semasa Hilman masih hidup. Menunggu Hilman selesai berselancar.”
“Semua berusaha mengajaknya bicara. Menyadarkannya bahwa Hilman sudah tiada. Tapi setiap kali itu terjadi, Maya pasti histeris.” Bapak tua itu berhenti sesaat untuk menyesap rokoknya. “Semua sudah menyerah.
Yang bisa kami lakukan hanyalah membiarkan dia seperti itu. Menikmati caranya mencintai Hilman.”
Tanpa kusadari, pipiku sudah basah oleh air mata. Aku tidak menyangka, bahwa ada orang yang begitu mencintai seseorang sampai membuatnya hilang kesadaran dan tidak mempedulikan sekelilingnya.

Biarkan dia bahagia dengan dunianya. Mungkin, hatinya berkata bahwa hanya Hilman yang pantas untuk ditunggu. Mungkin, memang seperti itulah caranya setia dalam mencintai Hilman, suaminya.

Yang Pernah Ada




Aku berdiri menatap whiteboard super besar dihadapanku. Permukaannya penuh dengan kertas post-it berbagai warna. Aku sedang berusaha menemukan tempat kosong untuk menempelkan post-it warna kuning milikku.

Tema reuni yang kuusulkan. Jadi, kami para alumni diminta untuk menuliskan hal yang tak sempat terucapkan saat masa SMA dulu. Atau menuliskan harapan yang ingin terkabul--harapan apa pun tentang masa SMA dan segala kenangan yang ada di dalamnya.

Disaat itulah mataku menangkap selembar post-it warna hijau dengan tulisan 'Aku merindukan kita dan bangku itu, Meo'. Jantungku nyaris berhenti saat membacanya. Bernahkan dia yang menulisnya? Ya, pasti dia. Karena hanya dia yang memanggilku dengan sebutan Meo. Tapi, yang membuat jantungku nyaris berhenti bukan itu. Melainkan kalimat yang dia tuliskan hampir sama dengan yang kutulis.

Aku mengalihkan mataku ke post-it di tangan. 'Aku merindukan kita, Jule'. Hanya aku juga yang memanggilnya demikian. Apa ini artinya dia ada di sini? Di mana? Kenapa aku tidak melihatnya baik selama persiapan reuni selama sebulan ini dan dari pagi tadi saat acara dimulai? Refleks aku menolehkan kepalaku ke berbagai arah. Mencoba mencari sosoknya. Nihil.

Aku menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Kecewa. Aku mengembalikan tatapan ke whiteboard. Dengan sedikit berjinjit aku berusaha menempelkan post-it milikku di sebelah post-it hijau tadi. Berharap keinginan kami berdua menjadi nyata. Karena aku juga sangat merindukannya.

"I miss you more, Meo."

Jantungku berdentam lebih cepat dari biasanya. Suara miliknya. Seketika aku membalikkan badan. Dan di hadapanku, aku melihat senyum hangat itu lagi. Senyum yang terakhir kali kulihat enam tahun yang lalu. Senyum yang sangat aku rindukan selama enam tahun ini.

Mataku memanas dan pandanganku semakin buram. Membalas senyumnya. Dengan sama hangatnya. Dia berjalan mendekatiku. Membawa tubuhku ke dalam pelukannya. Erat, kuat dan hangat seperti dulu. Bersamaan dengan itu, air mata mengalir di pipiku. Ini air mata bahagia, karena bertemu lagi dengannya. Tapi ini juga air mata sedih, kenapa butuh waktu begitu lama untuk kembali bisa berjumpa.

Kini... aku hanya ingin diam di dadanya. Merasakan gemuruh jantungnya. Menikmati belaian tangannya di kepalaku. Menikmati setiap detik hembusan napasnya. Menikmati kebersamaan kami yang mungkin hanya sementara. Karena aku tahu, dia memiliki seseorang. Begitu juga denganku.

Biarlah, sebentar saja kami bersama untuk menebus masa lalu.

Selasa, 21 April 2015

Dia adalah Aku




Dia adalah orang terkuat sekaligus terlemah yang pernah kutemui. Saat dia terluka karena apa pun, dia hanya akan merenung dan menangis. Setelahnya dia melanjtukan hidup seperti nggak pernah terjadi apa-apa. Tapi terkadang, dia suka sekali menangis. Seringnya tanpa alasan yang jelas. Hanya karena cerita dari buku yang dibacanya terlalu sedih. Atau karena tokoh utama dalam film kesukaannya mati. Atau karena tetangga-tetangganya sangat menyebalkan.

Atap, adalah tempat favoritnya ketika senja dan malam. Terkadang ditemani segelas coklat panas. Terkadang ditemani iPad yang melantunkan musik jazz. Terkadang dengan buku dipangkuan tapi nggak dibaca.

Yang biasa dilakukannya di atap adalah diam menikmati semilir angin, semburat jingga, suara deru mesin pesawat yang melintas [yang menjadi begitu familiar ditelinganya], memandang kerlip lampu pesawat, memandang kerlip lampu oranye dari apartemen sebelah.

Terkadang matanya terpaku pada cahaya bulan. Terkadang terpaku dalam cahaya redup bintang namun penuh harapan. Terkadang terpaku pada arak-arakan awan putih di langit. Terkadang merenung. Sesekali dalam renungannya dia menyesali masa lalu. Terkadang dia berpikir apa yang akan dia lakukan esok hari demi tetap bertahan hidup.

Tidak jarang pula cahaya redup bintang yang berada di antara ribuan bintang ayyang bersinar terang membuatnya meneteskan air mata. Tanpa alasan yang jelas. Dia hanya merasa begitu sedih melihat bintang itu. Mengingatkan pada dirinya sendiri.

Tetapi, dia juga melihat harapan yang luar biasa besar dari bintang yang bersinar terang. Dan tanpa disadari dia tersenyum saat menatapnya. Merasa seperti mendapat semangat untuk melanjutkan hidup, untuk melalui segala hal yang siap menanti di depan sana.

Terkadang juga dengan konyolnya dia berjalan dibawah rintik hujan dengan bibir tersenyum. Merasa begitu hidup karena berada di antara ribuan tetesan air langit.

Dia selalu senang mengamati anak-anak kecil yang berlarian di taman favoritnya. Melihat mereka berebut mainan. Melihat mereka menerbangkan pesawat mainan. Melihat seorang bocah perempuan berambut keriting pirang lari dengan terengah-engah saat mengejar mobil yang dikendalikan melalui remot kontrol oleh kakak laki-lakinya.

Melakukan semua itu cukup membuatnya bahagia. DIA… ADALAH AKU.


Minggu, 29 Maret 2015

STUCK



Langkahku terhenti saat aku melintasi lapangan bola voli. Dibawah lampu lapangan yang berwarna kuning, aku melihat bayangan dirimu sedang bermain. Keningmu dipenuhi dengan peluh, napasmu terengah. Tapi senyum ceria tidak pernah terhapus dari bibirmu. Senyum yang indah.

Aku pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Dulu. Menatap kagum saat melihatmu bermain voli. Berlari ke sana kemari untuk menyambut bola dari lawan. Menjaga agar bola itu tidak terjatuh dilapanganmu.

Ahh… ternyata yang baru saja kulihat adalah bayangan masa lalu. Bayangan dari masa delapan tahun lalu itu masih terpatri jelas di memoriku.

Ya, ini sudah delapan tahun. Melupakan bukanlah hal yang mudah. Apalagi berpura-pura baik-baik saja padahal kenyataannya aku tidak baik-baik saja.

Rasanya? Sakit, dan bahagia datang pada saat bersamaan. Bahagia karena ternyata aku bisa mencintai orang lain selain diriku sendiri. Sakit karena cinta itu tidak pernah berwujud nyata.

Apa sudah saatnya untuk merelakan kemudain melepaskan? Apa aku harus menyerah atas perasaan yang sudah kujaga selama delapan tahun ini? Apa aku sudah siap mengosongkan hati yang selama delapan tahun ini dihuni olehnya? Oh… aku tidak yakin kalau aku bisa.

Sampai kapan? Entahlah. Yang jeas aku menikmati setiap hariku merindukan masa itu. Memiliki rasa ini.

Apa aku tidak akan berhenti? Mungkin. Mungkin nanti pada saat jodoh yang telah disiapkan Tuhan menunjukkan dirinya.

Jodoh? Bukankah jodoh adalah orang yang mencintai dan kita cintai yang akhirnya akan menghabiskan sisa hidup bersama kita?

Bukan! Jodoh adalah takdir yang disiapkan Tuhan. Dia yang akan menajdi sandaran terakhir kita. Dia yang hanya akan berpisah dengan kita ketika maut datang. Karena jodoh kita tidak selalu adalah orang yang mencintai dan kita cintai. Itu realitanya.


For the past.

Selasa, 24 Maret 2015

Book Review : Menikahlah Denganku





Judul : Menikahlah Denganku
Genre : Fiksi Romance
Penulis : Annisa Adrie
Penyunting : Pratiwi Utami
Desain Cover : @labusiam
Pemeriksa Aksara : Yntan
Penata Aksara : Martin Buczer
Digitalisasi : Rahmat Tsani H.
Penerbit : Bentang Pustaka
Terbit  : 2014
Tebal : 254 halaman
ISBN : 976-602-291-073-2




“Pada kenyataannya, sebuah masalah memang harus dihadapi dengan ksatria. Bukan malah ditinggal lari karena dia akan semakin kuat menjadi hantu pikiran yang ingin akal sehatku mati.”


Menikahlah denganku menceritakan tentang kehidupan pra wedding si tokoh utama yaitu Jenna. Jenna dan Satura adalah sepasang kekasih yang seperti tak terpisahkan. Karena sudah merasa saling mencintai, Satura pun melamar Jenna di sebuah masjid yang ingin dia gunakan untuk akad nikah dengan Jenna nanti. Ini yang sukses bikin aku ngiri. Betapa seriusnya niat Satura karena melamar saja di masjid.

Niat pernikahan mereka nggak berjalan mulus. Banyak banget rintangannya. Saat tanggal lahir Jenna dan Satura dihitung-hitung oleh Eyang Kakungnya, ternyata nggak ketemu. Iya, hitung-hitungan tanggal menurut adat Jawa gitu. Bagian ini yang bikin aku benar-benar was-was. Bagaimana kalau hal itu terjadi padaku dan batal nikah cuma gegara hitung-hitungan tanggal nggak ketemu. Sampek aku bela-belain telepon Ibu malam-malam buat tanya hal itu. Syukurlah, keluargaku nggak terlalu menerapkan hal itu.

Tapi walaupun hitungan tanggal nggak ketemu, Jenna berkeras untuk tetap menikah dengan Satura. Akhirnya keluarganya pun menerima dan mencari solusi tentang masalah ini.

Lalu masalah kedua muncul akibat konsep nyeleneh yang diinginkan Jenna. Pernikahan ala-ala negeri tengah hutan dengan menggunakan cocktail dress bukan baju dodot seperti yang diinginkan kedua orangtuanya. Karena sikap ngeyelnya Jenna inilah yang akhirnya membuat hubungannya dengan orangtua menjadi renggang. Bahkan Jenna nggak menyertakan mereka dalam persiapan pernikahannya. Agak-agak kesel juga sama sikap ngeyel Jenna ini.

Kemudian masalah ketiga muncul, Satura yang terkena tipu oleh customernya harus rela kehilangan uang puluhan juta─yang dipersiapkan untuk dana pernikahannya dengan Jenna. Karena merasa marah dan kalut, Satura pergi untuk memanjat tebing seperti yang selalu dia lakukan. Di situlah terjadi kecelakaan yang membuat Satura lumpuh. Satura menjadi seperti zombie. Hidup, bernapas, tapi nggak punya gairah. Nggak mau ngapa-ngapain bahkan mengabaikan Jenna.

Disaat-saat terjatuh seperti inilah ada seorang sahabat ayang selalu ada untuk Jenna. Namanya Rigel. Cowok konyol yang katanya Jenna mirip Rio Dewanto. Dia itu sahabat yang baik banget. Selalu ada buat Jenna. Selalu menguatkan saat dia rapuh. Perhatian banget sama sahabat. Mereka itu sahabat sehidup sekarat. Nggak terspisakan. Konyol. Gila. Justru kisah merekalah yang sangat aku suka di sini. Karena memang si Rigel ini aslinya suka sama Jenna.


“Yang sabar ya, Nyet. Jodoh lo nggak bakalan lari, mungkin lagi dipinjem orang aja. Entar kalau udah bosen juga dibalikin ke lo. Berdoa aja dia dikembalikan ke lo sebelum uzur.”


Bahkan Rigel juga yang akhirnya berhasil meyakinkan Satura kalau semua akan baik-baik saja. Pernikahannya dengan Jenna akan baik-baik saja walaupun dia lumpuh. Toh Jenna juga sudah menerima. Rigel jugalah yang mempersiapkan pernikahan mereka yang sempat gagal. Menyiapkan segala sesuatunya sampai benar-benar beres.

Endingnya yang membuat hati teriris banget. Siapa pun yang jadi Jenna, nggak yakin deh bakal bisa menerima dengan lapang dada. Pas hari akad nikah, saat Jenna dan seluruh keluarganya serta para undangan sudah berkumpul, Satura nggak kunjung datang. Rigel mendatanginya. Dan dengan gampangnya Satura bilang kalau nggak bisa menikah dengan Jenna. Karena dia terlalu mencintai Jenna dan dia nggak mau membebani Jenna dengan keadaannya. Dia juga melupakan bagaimana perjuangannya mendaki Semeru dengan menggunakan kruk demi memetik edelweiss yang akan digunakan sebagai mahar. Sumpah, sebel banget sama Satura. Dia itu, bodoh banget. Huhh…. Jadi emosi diriku. Padahal Jenna dan keluarganya itu sudah mau menerima dia apa adanya, lho. Belum tentu orang lain mau.

Tapi akhirnya Jenna tetap menikah, kok. Tapi bukan sama Satura si pengecut itu [kan, masih emosi saya]. Melainkan sama Rigel, sahabatnya tadi.


Dan, inilah quotes favoritku yang ada dalam novel Menikahlah Denganku :
  1. Setipis apa pun, pernikahan akan melahirkan sekat antara seseorang yang menikah dengan kehidupan di luar rumah tangganya. Seseorang yang menikah akan memiliki garis teritori yang tegas dalam hidupnya.
  2. Bukankah mandat tertinggi untuk mengatur hidup kita adalah kita sendiri?
  3. Hal terberat yang kita lalui adalah kita sama-sama berjuang untuk saling melupakan. Tapi, semakin kita menjauh, ternyata simpul di hati kita semakin kuat menaut.
  4. Demi sempurna aku telah menafikan banyak hal. Namun, demi sebentuk cinta yang sempurna, aku mengerti bahwa hati yang tulus mencintaiku tanpa ragu adalah hati terbaik yang selayaknya akan kupercayakan seluruh cinta kepadanya.
  5. Bahwa tak selamanya segala yang sempurna adalah tujuan.